Welcome!!

Selamat datang di blog milik Andika Candra Jaya (a.k.a TheCruiser)

05 Januari 2013

Atlantic Patrol (fanfic of Titanic II)


Intro

Cerita ini berbasiskan pada film Titanic II dengan keterlibatan pasukan di milfic (Military Fiction) ini.
Disclaimer: aku bukan pemilik hak ciptanya.

Enjoy!!

Tumben-tumbennya aku dapat misi bersama pasukanku di Atlantik bersama USCG dan USN. Harus kuakui, sebelumnya aku pernah misi di Atlantik, cuma kasusnya waktu itu aku bersama Sho-chan patroli bersama USAF untuk mencegat beberapa Tu-95 yang nyelonong ke arah NORAD dari utara Atlantik. Itu juga hitung-hitung aku latihan take-off ama landing di landasan es. Biasanya paling sial juga di atas kapal induk dalam badai ringan.

Posisi saat ini di perairan timur laut Florida. Mendadak aku dipanggil ke kabin kapten untuk mendapat mengarahan darurat dari NOAA bersama Sho-chan.

“Mayor, ingat latihanmu bersama NORAD karena kau akan ke Greenland memakai CN-235. Ada panggilan dari NOAA soal glasier labil.” Sverdlov memberi pengarahan untuk panggilan darurat ini
“*******!! Apa itu biang kerok tsunami di Baffin yang waktu itu? Kalo iya, aku cabut sekarang.”
“Aku ikut!” Sho-chan mau menambah jam terbangnya
“Kau di kanan kalo gitu.” setauku, kanan itu berarti penerbang utama.

Kita cepat-cepat take-off dan segera melesat ke Greenland dengan ban es plus skid sebagai cadangan. Sho-chan menambah altitud ke 1600mdpl. Aku gak ada bayangan mau ngapain Sho-chan dengan terbang di ketinggian rendah. Yang kucemaskan adalah kelemahan struktural pesawat, maklum deh beli seken AL reguler saat mereka nambah P-8 Poseidon sama CN-295 MPA lalu CN-235 MPA mereka dijual obral dan LtCol SturmGewehr memutuskan untuk membelinya setelah koordinasi sama LtCmdr Sverdlov. Yang keparat, aku sama Sho-chan dikirim untuk latihan ke Dinas Penerbal. Ooi, aku ini ASF, bo! Kalo Sho-chan sih bukan masalah, dia belum spesialisasi..

“Captain Maine from US Coast Guard. Come in, foreign aircraft.”
“Major Cruiser from SCS Aviator. Heading for Greenland by order of NOAA.”
“Okay. Go ahead. We'll rendezvous in 0200 hours.”
“Sho-chan. Kita akan tetap memantau perairan dibawah kita. Tambah ketinggian ke 2800. Aku ada di stasiun radar kalau perlu sesuatu.”

Di bawah kosong sampai BVR kecuali ada beberapa serpihan es dan dua diantaranya berbentuk paku yang kurasa sanggup menembus kedalaman 1750 meter, more or less. Sialnya aku tidak membawa anti-iceberg missile yang sanggup mengoyak es itu dan mungkin menguapkannya sekaligus. Munisi flechet pun cuma bawa seuprit.

“Masuklah tower, ini Seadramon.”
“Seadramon, tower masuk.”
“Kami mendeteksi ada dua gunung es yang mungkin mengancam kita.”
“Oke, mengirimkan aviator cadangan membawa pemusnah gunung es.”
“Kenapa?”
“Diantara serpihan es di bawah, ada yang ngancem lontong milik USN. Sialnya lagi, lontong yang terancam itu SSBN.”
“Oh Tuhan. Sekali meledak, habis semua.”
“Makanya, esnya perlu diledakkan.”

Seperempat jam kemudian, aku kembali ke kokpit dan memasang komunikator yang tadi mendapat pesan dari Stratcom (bukan kapal induk) : “Hati-hati tugas di sana. Kemarin ada tsunami soalnya.” dan aku setengah mengabaikannya. Jesus, terpaksa kubalas, “Demi apa juga, ini lagi dipanggil sama NOAA soal tsunami waktu itu!” dan berupaya mengabaikan pesan berikutnya. For god's sake, mom. I'm working in navy!!

“Kita akan mendarat dalam setengah menit.”
“Oke. Pastikan kita bisa berhenti tepat di dekat kamp penelitian di arah jam 1.”
“Diterima, kita touchdown.”
Setelah berhenti, aku segera ke tenda utama
“Doctor Kim Patterson, NOAA!” dia menjabat tanganku
“Major Cruiser, Crew Iblis.”
“Captain Maine is on his way too. We'll talk after he came.”
“Dr. Patterson, he is coming.”

Dia keluar untuk menemui Kapten Maine dari USCG. Mereka segera ke sini lalu dia membahas masalah ini.
“Major Andika Candra Jaya, Crew Iblis.”
“Captain James Maine, US Coast Guard.”
“Why I asked you two instead of other commander is because your reputation. Crew Iblis' reputation in exterminating the impossible to destroy makes even US Armed Forces adore your tactics and skill. Also I need someone that want to take me seriously that we are standing on a ticking time bomb.”
“Well, I'm listening.” James memastikan
“I'm taking this issue seriously.” aku pun menganggap ini serius
“The wave from yesterday's tsunami felt until Baffin Island in Canada.” Kim menguliahi kami
“I knew it. The problem now is, will the ice below us trigger something similar??” aku mencoba mempersingkat urusan
“Yesterday's tsunami is caused by iceslide in Manhattan's size. Imagine when a piece of ice as big as Rhode Island would do.” Kim menyuruhku membayangkan Rhode Island bikin tsunami
“Well, I imagined it will push wave halfway across Atlantic.” James setengah benar menurutku
“Try other way across. This mass balance measurements shows that when temperature warms, the balance tips. The ice begins cavening and retreating. These 3D images tells us the glaciers we are standing has extended over 60 in the past year.” tambah Kim
“That is fascinating.” James kaget
“Exactly. I think we have something you might want to see.”
Kim mengajakku ke pinggiran es untuk melihat cekungan es
“Of course there no such thing as global warming, right?” Kim kayaknya nantang debat
“Would you tell me what the hell we are looking at?” James memastikan
“Yesterday's collapse.“ jawab Kim pendek
“So, this hollow space is where the ice that causes tsunami in Baffin was?” aku masih meragukan daya pukul es itu seberapa karena biasanya aku menghajar es itu dengan munisi flechet
“Exactly.”
“Jesus.”
“You have thrown a pebble to a pond, watch the wave spread out. If yesterday's collapse was a pebble, the next one would be a cannonball. Now picture the Atlantic as the pond.”
“Jesus, it would be an ocean-wide problem that can even sweep Brazil.” aku mencoba menyimpulkan semuanya
“Possibly Brazil, but the North Atlantic is surely a target.”
“How long do we have before it collapse?”
“Hard to say. But once it does, entire North Atlantic would be devastated.”

Ada guncangan di bawah dan aku segera berlari ke pesawat.
“Sho-chan! Saatnya cabut!” aku teriak saat aku menutup pintu pesawat
“Depan terlalu dekat!”
“Kanan!!”
“Oke! Berdoalah biar ini cukup untuk take-off run kita.”
“Sverdlov, bersiaplah mendapatkan masalah dengan tsunami se-samudra.”
“Serius?”
“Demi Hitler! Es seukuran paling tidak separo Bali barusan kolaps dan tsunami meluncur dengan kecepatan kira-kira supersonik saat kita bicara.”
“Aku juga baru dapat laporan serupa dari USCG. Mereka menyuruh kita mundur ke teluk terdekat dan hati-hati terhadap es.”
“Berarti laporanku benar. Kita akan kembali dalam waktu singkat. Siapkan semua jet tempur dengan senjata pemusnah es. Aku akan beraksi setelah mendarat.”
“Katanya gelombang tsunami ini bergerak dengan kecepatan 843 mil per jam.”
“Sama saja dengan head-on melawan musuh supersonik.”
“Kita akan mendarat, mayor.”
“Oke, Lieutenant Commander, we're on landing approach. Requesting permission to land.”
“Go ahead.”

Segera setelah mendarat, aku meminta semua pesawat tempur dipersenjatai pemusnah es dan aku ngoding untuk nyetel ulang sistem radarnya biar nambah jarak aman sampai kira-kira 5 mil (seperti berburu di HAWX) sementara Sho-chan mendapat briefing dari tower untuk menghabisi setiap es yang mungkin membahayakan kapal ini dari radius 2.400 meter diluar jarak sistem EWS.
40 menit kemudian, aku sudah berhasil memastikan sistem peringatan dininya berfungsi dari jarak 7.600 meter. Jadi, Sho-chan kuperintahkan untuk patroli dari jarak 10.000 meter dari kapal sebagai pertahanan lapis awal dan aku akan beking dia. Sverdlov memutar haluan kapalnya biar kapalnya tepat tegak lurus dengan muka gelombangnya. Aku ngerti maunya si Sverdlov, dia mau mengurangi resiko kapalnya terguling.
AWACS yang dipiloti Assassin dan pacarnya melapori semua kapal sudah dianggap aman kecuali SS Titanic II yang langsung kurespon dengan mengirimkan dua jet yang dipiloti masing-masing Stuka dan Hornet untuk melindungi Titanic II.

“What is our last ditch?”
“We will break the wave using remote-controlled torpedo that will explode right below the wave and we will sprint within that wave.”
“Are you sure our torpedo can disrupt the wave?” aku galau soal kekuatan torpedonya
“You simulated it in your computer and you undercalculated our torpedo yield.”
“Do it on your risk, okay?”

Setelah mereka menjamin aman, aku menambah altitud ke angka 4400mdpl untuk memperluas cakupan pemantauanku sekaligus mengaktifkan mini-HST ke arah muka gelombang tsunami. Sho-chan patroli di angka 120 mdpl biar dia bisa menghabisi es yang mendekat. Dia memakai jet non-standar yang bisa tancap gas vertikal kalau-kalau dia gagal menghabisi es di jarak 5000 meter. SturmGewehr dan Sverdlov menyerahkan kendali operasi padaku sebagai komandan udara

“Cruiser, you are in full authority in this operation.” SturmGewehr menyerahkan komando ke aku
“Solid copy, SturmGewehr. Watch out! Major iceberg is heading your way, Hornet!”
“We're on it!!”
“Sverdlov, break through the ice! Now!”
“Not yet. This mothership is quite big, we need big explosion just to break through.”
“Do it! This is too close!”
“Rain the torpedo salvo!”

Sverdlov nyaris terlambat meledakkan torpedonya dan dia sudah berada di belakang ombak. Aku melepaskan satu rudal anti-es ke arah es yang terseret ombak. NOAA memperingatkan tentang gelombang tsunami kedua.

“Hornet! Do a recon on the wavefront! Stuka, turn on your ice-detector device! Clarione, increase the perimeter by 3200 meters!!”
“Aye-aye, commander!”
“Assassin, requesting iceberg location and speed within our ice defense!” aku menyemprot Assassin
“All icebergs around are less than lethal. We are clear from them.”
“Change of order for Clarione. Clarione, do you copy?”
“Solid copy, commander.”
“Protect Titanic II with Springfield.”
“Copy that, commander.”
“The ice is incoming in high speed! We missed them!”
“I got it. Fox One!” Sho-chan membereskan es itu dengan rudalnya
“Titanic II is hit on port side. I repeat, Titanic II is hit.” Springfield melapor padaku

Aku cepat-cepat menolong Titanic II. Setelah Titanic II nyaris dihajar es berukuran besar, ada beberapa es kecil yang lolos dari posisinya Sho-chan (serpihannya mungkin). Titanic tertembak namun masih bisa berdiri. Aku mendapat pesan darurat dari Titanic II minta bantuan. Terpaksa panggil Springfield, Minuteman, dan Frigate minta tiga helo untuk menolong penumpang sebisanya sampai bantuan dari USCG masuk kalau-kalau terjadi serbuan es lagi satu gelombang. Posisi Titanic II saat ini adalah 50.46 W, 40.46N (tepat diatas bangkai Titanic). Para penumpang dievakuasi dari kapal dengan sekoci lontong dari sebelah sisi kapal, sementara tiga helo yang aku perintahkan masuk arena sedang mengevakuasi 40 orang dari dek dan mengambil lifeboat ke kapal.

Dua es berukuran besar mendekati Titanic II dengan kecepatan mematikan sementara kami yang di udara mulai kekurangan munisi. Aku melepaskan satu rudal untuk memecah es itu jadi banyak serpihan. Hasilnya : separo masih utuh dan tetap ngebut ke arah sini.

“I'm out of ammo!”
“All pilots, Dispose all ordnance toward ice and fall back to our mothership!”
Kita antara gagal dan berhasil. Gagal menyelamatkan Titanic 2 tapi berhasil mencegah jatuhnya korban skala masif. Berhasil juga menyelamatkan diri dari tsunami setelah salvo torpedo.
Aftermath tsunami : 54.000 korban tewas di pantai Amerika, 27.000 tewas di Eropa, dan 1.300 korban di Atlantik. SCS casualties : 1 helo kandas (Springfield) setelah menurunkan korban, semua selamat, helo kehilangan ekor dan dek kapal berkawah.
“Kurang ajar kau, Springfield. Kalau begini, aku mana bisa dinas?”
“Libur gratis buatmu, Mayor!”
“Ya kali liburan. Kita dimana juga.”
Kita menyelesaikan misi dengan mengembalikan para penumpang ke pantai NY.
 
Tweets by @RealCruiser