Welcome!!

Selamat datang di blog milik Andika Candra Jaya (a.k.a TheCruiser)

05 Desember 2013

Fantasi "Nagi no Asukara" masuk pseudo-sains

Tahu anime periode 4 tahun 2013 berjudul "Nagi no Asukara"? Sedikit preview, anime ini main di interaksi manusia dasar laut dan manusia permukaan (model kita). Tulisan kali ini akan bermain di hipotesis terkait manusia dasar laut ini. Jika P.A. Works menelurkan jawaban mendekati hipotesis yang ada di sini, maka mereka harus bisa menjawab kendala setiap hipotesis
Pertanyaannya adalah "Mungkinkah manusia dasar laut ini ada? Kalau mungkin,
jelaskan teori yang mendukung."

Jawabannya: MUNGKIN! Masalahnya adalah apa yang memungkinkan ini terjadi. Terdapat
tiga hipotesis terkait ini: gen pendukungnya bersifat resesif, gen pendukungnya bisa bersifat dorman, dan gen pendukungnya memiliki kelainan tertentu. Gen pendukung ini bisa disebut sebagai gen ENA. Aslinya, ENA ini adalah semacam ketuban pada manusia yang memungkinkannya bernafas di air.

Hipotesis pertama adalah gen pendukungnya bersifat resesif. Ini menjelaskan kenapa manusia dasar laut menjalani hukuman pengusiran ke daratan jika tertangkap menjalin hubungan dengan manusia permukaan. Hipotesis ini juga secara implisit menyatakan bahwa gen ini adalah gen langka yang hanya diturunkan sesama orang laut.
Namun, hipotesis ini memiliki kendala tersembunyi berdasarkan hukum Mendel. Mari kita asumsikan pemilik gen ENA kawin dengan non-ENA, menghasilkan 100% fenotip normal dan menjadi pembawa gen (carrier) ENA. Kemudian, anak ini kawin dengan sesama carrier ENA. Hasilnya, ada 25% kemungkinan si cucu adalah pemilik gen ENA.

Hipotesis kedua adalah gen ENA ini bersifat dorman sekali orang ENA ini kawin dengan orang daratan. Prinsipnya sama saja dengan dinosaurus saat berevolusi menjadi burung, mereka kehilangan taringnya dan gen taring itu ternyata masih ada. Dalam konteks ini, ENA dan non-ENA juga sama yang artinya non-ENA dan ENA ini adalah satu leluhur bersama dan ketika sebagian dari mereka naik darat atau balik ke laut, mereka entah men-deaktivasi gen ENA mereka atau mengaktifkan ulang gen itu.
Kendala teori ini ada pada durasi deaktivasi gen ini. Di sini, gen ENA langsung non-aktif sekalinya kawin. Menurut teori evolusi Lamarck yang memakai dalil, "Use it or lose it," deaktivasi gen ini memerlukan waktu yang cukup panjang. Istilah 'lose it' sendiri bisa jadi bukan 'lose the gene' melainkan 'lose the phenotype' yang berarti gennya sendiri masih ada di dalam, hanya dorman.

Hipotesis ketiga dan mungkin terakhir adalah gen ENA ini lenyap sekalinya kontak dengan non-ENA. Hipotesis ini menjawab kendala pada hipotesa pertama dan kedua sekaligus.
Kendala pada hipotesis ini ada pada mekanisme penghilangan gen itu sendiri. Salah satu jawaban potensial adalah "Haploinsufficiency" (en.wikipedia.org/wiki/Haploinsufficiency) dimana entah manusia darat atau manusia laut hanya punya satu gen. Saat pembelahan sel gamet, sisi yang mengalami haploinsufficiency ini pasti mendapatkan sel fertil berisi gen utuh. Namun, ini
tidak bisa menjelaskan pria haploinsufficiency kawin dimana pria mencetak empat 'amunisi siap tembak' dari satu sel gamet dan hanya langit yang tahu kenapa hasilnya 100% pasti entah normal atau ENA.

Singkat kata, mekanisme ini masih bersifat misteri di dunia fantasi. Pihak yang ingin mendalami topik ini dapat mengajukan mekanisme mereka sendiri dan menantang seluruh hipotesis dan kendala pada jurnal kali ini.
 
Tweets by @RealCruiser