Welcome!!

Selamat datang di blog milik Andika Candra Jaya (a.k.a TheCruiser)

26 Juli 2015

Senki Zesshou Symphogear GX (P)review

Di sela-sela pekerjaan sebagai guru TIKOM SMP (ya, aku baru lulus), aku tetap harus nonton anime karena aku sudah telanjur antipati terhadap apa yang diberikan oleh media di Indonesia ini.
*CUKUP curhatnya, pak!! Garap noh Symphogear-mu


Kiri: Poster judul

Kanan: Estimasi keributan di anime ini



Oke, aku tahu aku gesrek parah sama Symphogear. Yang bilang season 1 jelek, tahan saja dulu. Tonton season 2 (yang entah kenapa lupa masuk sini) yang notabene art-nya lebih baik. Dan di season 3 ini, art-nya (sampai 4 episode pertama) nauzubillah...bagus banget!!
Jika kamu follow @RealCruiser di twitter (akun Jejepangan dan wotamil, perhatian: bahasa gamer sangat sering muncul), sering lah itu muncul art-nya Symphogear GX.

Musiknya juga belum banyak muncul, jadi aku belum bisa memberikan penilaian optimal. Tapi sejauh ini genre-nya masih sejalan dengan genre dari season terdahulu. OP: "Exterminate" dari Nana Mizuki (ini link torrent). ED: "Rebirth-day" dari Ayahi Takagaki (rilis tanggal 29 Juli). Oh well, SSDD, OP digarap Nana-sama, ED dihajar Ayahime.

Speaking of Symphogear + Ayahime, chara favoritku di Symphogear di-seiyuu oleh Ayahime: Chris Yukine si cebol moe oppai besar:

Back to business, sampai episode 4 ini masih ada peperangan dengan musuh yang entah bagaimana ceritanya (katanya sih dengan alkimia/alchemy) untuk menjinakkan kekuatan Symphogear.

Just...check that out!! I went "My head is full of dung!!"

21 April 2015

Back to blogging: On Freedom, Liberty, and Security

Setelah setahun dipenuhi aktivitas RL (kerja praktek dan skripsi), akhirnya aku bisa balik ke blog-ku... *dust entire blog*
Setahun menghilang, aku mendapat banyak ilham baru, salah satunya adalah "On freedom, liberty, and security." Let's do this


Sehubungan dengan tema skripsiku "Data Security Through Encryption," aku jadi belajar banyak seputar kebebasan dan relevansinya. Seperti kita tahu, kebebasan kerap terbentur hasrat pemerintah untuk melindungi rakyatnya. Disini kiblatnya lebih banyak ke Amerika Serikat lantaran disana merupakan tempat kebebasan individu terbentuk dan dikodifikasi resmi.


Mengutip Thomas Jefferson (founding father Amerika Serikat), "Those who would trade essential Liberty, to purchase a little temporary Security, deserve neither Liberty nor Security." Maka dari itu, AS pada awal kemerdekaannya cenderung memiliki pemerintahan yang sifatnya terbatas, sesuai dengan apa yang digariskan oleh Konstitusi Amerika Serikat.


Belakangan, seiring dengan digantikannya asas Republik dengan Demokrasi, semakin banyak orang yang dapat memilih perwakilannya tanpa peduli apa yang telah dia berikan pada negaranya. Disini kita perlu memisahkan "Republik" dan "Demokrasi." Republik membentuk kebijakan berdasarkan pertimbangan akan hak orang lain. Demokrasi hanya mempertimbangkan apakah kebijakan itu dapat diterima mayoritas orang. Ya, dalam demokrasi hak bisa direkayasa jika itu didukung mayoritas rakyat. Dalam republik, sepatutnya kebijakan itu tidak mengganggu rakyat secara individual.
Dengan demokrasi universal dimana setiap orang, tanpa memandang kontribusinya pada pemerintah, bisa memilih perwakilan mereka di pemerintahan; orang-orang yang memiliki ambisi untuk berkuasa bisa mendapatkan popularitas (dan itu berarti kursi di pemerintahan) dengan kebijakan yang populer di mata orang banyak tanpa memandang dampak jangka panjangnya.


Topik favoritku soal kebebasan VS keamanan adalah hak untuk melindungi diri. Kita tahu penjahat itu bukan orang yang taat hukum. Penjahat, secara ilegal, punya senjata; dan orang biasa, secara legal, dilarang punya senjata; hasilnya: penjahat berkuasa. Mau meningkatkan keamanan? Pilih saja antara mengijinkan setiap orang mempersenjatai diri atau mengawasi setiap aspek hidup setiap individu. Opsi pertama mungkin menjadi bencana dalam jangka pendek: angka kematian terkait senjata meningkat drastis; tapi dalam jangka panjang penjahat mati kutu lantaran angka kematiannya akan condong pada si penjahat. Opsi kedua berarti ibarat pukat harimau: setiap orang akan diawasi yang mungkin akan mencegah kejahatan karena setiap orang merasa diawasi; tapi dampaknya adalah "setiap informasi tentang setiap orang akan disimpan dalam satu basis data raksasa dan tak ada jaminan informasi itu tidak akan digunakan selain untuk mencegah kejahatan."
Disini aku cenderung pro terhadap opsi pertama (ijinkan setiap orang mempersenjatai diri). Secara implisit, aku punya kutipan: "Tyrants love unarmed subjects, they are easier to control through power imbalance." Aku jadi curiga kita akan dikendalikan jika kita terus dilarang melindungi diri.
Keuntungan lain dari pemberian hak pembelaan diri ini adalah: negara akan sangat sukar dijajah lantaran "there will be a weapon behind every tree, every wall, even behind every blade of grass," yang merupakan efek penggentar yang sangat luar biasa. "Militer kita kuat," kata orang. Ya, tapi kekuatan itu sulit digantikan dalam segala jenis perang, terutama kemampuan dalam persenjataan yang perlu pelatihan. Bayangkan jika banyak orang yang memiliki kemampuan ini dari pengalaman seumur hidup memiliki dan mengoperasikan senjata, kehilangan satu orang tidak ada artinya karena orang lain akan menggantikan orang itu dengan senapannya sendiri. Bayangkan juga jika hanya sekelompok orang tertentu yang punya kemampuan mengoperasikan senapan, kehilangan satu orang ini berarti pool orang yang sanggup berkurang.


Segitu dulu...aku masih belum "geared up for blogging"
 
Tweets by @RealCruiser