Setelah setahun dipenuhi aktivitas RL (kerja praktek dan skripsi), akhirnya aku bisa balik ke blog-ku... *dust entire blog*
Setahun menghilang, aku mendapat banyak ilham baru, salah satunya adalah "On freedom, liberty, and security." Let's do this
Sehubungan dengan tema skripsiku "Data Security Through Encryption," aku jadi belajar banyak seputar kebebasan dan relevansinya. Seperti kita tahu, kebebasan kerap terbentur hasrat pemerintah untuk melindungi rakyatnya. Disini kiblatnya lebih banyak ke Amerika Serikat lantaran disana merupakan tempat kebebasan individu terbentuk dan dikodifikasi resmi.
Mengutip Thomas Jefferson (founding father Amerika Serikat), "Those who would trade essential Liberty, to purchase a little temporary Security, deserve neither Liberty nor Security." Maka dari itu, AS pada awal kemerdekaannya cenderung memiliki pemerintahan yang sifatnya terbatas, sesuai dengan apa yang digariskan oleh Konstitusi Amerika Serikat.
Belakangan, seiring dengan digantikannya asas Republik dengan Demokrasi, semakin banyak orang yang dapat memilih perwakilannya tanpa peduli apa yang telah dia berikan pada negaranya. Disini kita perlu memisahkan "Republik" dan "Demokrasi." Republik membentuk kebijakan berdasarkan pertimbangan akan hak orang lain. Demokrasi hanya mempertimbangkan apakah kebijakan itu dapat diterima mayoritas orang. Ya, dalam demokrasi hak bisa direkayasa jika itu didukung mayoritas rakyat. Dalam republik, sepatutnya kebijakan itu tidak mengganggu rakyat secara individual.
Dengan demokrasi universal dimana setiap orang, tanpa memandang kontribusinya pada pemerintah, bisa memilih perwakilan mereka di pemerintahan; orang-orang yang memiliki ambisi untuk berkuasa bisa mendapatkan popularitas (dan itu berarti kursi di pemerintahan) dengan kebijakan yang populer di mata orang banyak tanpa memandang dampak jangka panjangnya.
Topik favoritku soal kebebasan VS keamanan adalah hak untuk melindungi diri. Kita tahu penjahat itu bukan orang yang taat hukum. Penjahat, secara ilegal, punya senjata; dan orang biasa, secara legal, dilarang punya senjata; hasilnya: penjahat berkuasa. Mau meningkatkan keamanan? Pilih saja antara mengijinkan setiap orang mempersenjatai diri atau mengawasi setiap aspek hidup setiap individu. Opsi pertama mungkin menjadi bencana dalam jangka pendek: angka kematian terkait senjata meningkat drastis; tapi dalam jangka panjang penjahat mati kutu lantaran angka kematiannya akan condong pada si penjahat. Opsi kedua berarti ibarat pukat harimau: setiap orang akan diawasi yang mungkin akan mencegah kejahatan karena setiap orang merasa diawasi; tapi dampaknya adalah "setiap informasi tentang setiap orang akan disimpan dalam satu basis data raksasa dan tak ada jaminan informasi itu tidak akan digunakan selain untuk mencegah kejahatan."
Disini aku cenderung pro terhadap opsi pertama (ijinkan setiap orang mempersenjatai diri). Secara implisit, aku punya kutipan: "Tyrants love unarmed subjects, they are easier to control through power imbalance." Aku jadi curiga kita akan dikendalikan jika kita terus dilarang melindungi diri.
Keuntungan lain dari pemberian hak pembelaan diri ini adalah: negara akan sangat sukar dijajah lantaran "there will be a weapon behind every tree, every wall, even behind every blade of grass," yang merupakan efek penggentar yang sangat luar biasa. "Militer kita kuat," kata orang. Ya, tapi kekuatan itu sulit digantikan dalam segala jenis perang, terutama kemampuan dalam persenjataan yang perlu pelatihan. Bayangkan jika banyak orang yang memiliki kemampuan ini dari pengalaman seumur hidup memiliki dan mengoperasikan senjata, kehilangan satu orang tidak ada artinya karena orang lain akan menggantikan orang itu dengan senapannya sendiri. Bayangkan juga jika hanya sekelompok orang tertentu yang punya kemampuan mengoperasikan senapan, kehilangan satu orang ini berarti pool orang yang sanggup berkurang.
Segitu dulu...aku masih belum "geared up for blogging"
21 April 2015
Langganan:
Komentar (Atom)
