Apa obat terampuh untuk infeksi bakteri? Hampir semua orang akan menjawab antibiotik (mungkin akan ada yang sebut methicilin, penicilin, atau apalah; namun itu semua adalah antibiotik). Sayangnya sebagian dari mereka mulai tidak efektif karena kebanyakan bakteri sekarang mulai memiliki resistensi terhadap antibiotik. Bakteri yang mulai kebal antibiotik itulah yang lazimnya dipanggil di luar negeri sebagai superbug.
Superbug lahir melalui seleksi alam, persetan dengan teori evolusi yang mana. Hal ini dikarenakan seleksi alam merupakan mekanisme natural untuk memilih makhluk hidup yang layak bertahan di dunia dan sialnya ini juga berlaku bagi bakteri biang penyakit dengan mekanisme seleksi berupa antibiotik ini sendiri. Seleksi alam disini adalah penyalahgunaan antibiotik dimana antibiotik yang semestinya dipakai HANYA untuk penyembuhan penyakit berbasis bakteri justru dipakai untuk pencegahan dan penanganan penyakit yang belum jelas biang keroknya.
Kemudian, superbug ini sendiri memiliki beragam cara untuk mengerjai antibiotik yang secara teoritis dipakai untuk menghajar bakteri. Ragam mekanisme ini dikarenakan oleh hasil seleksi alam selama mereka dihujani antibiotik plus tiga setengah miliar tahun sejak bakteri muncul di planet ini dan antibiotik belum ada di pasar dalam wujud obat (Drexler, 2002, 145-146). Ada bakteri yang berhasil mengusir musuhnya sebelum si antibiotik bahkan sempat masuk ke dalamnya atau membuat masalah di dalam bakteri, ada juga yang membuat enzim spesifik untuk menghabisi antibiotik langsung seperti rudal jelajah, sampai ada yang "ngetroll" dengan membuat enzim tiruan yang memang itu target asli si antibiotik (seperti bunga api dari pesawat tempur menjebak rudal pencari panas lawan) dan menjadikan antibiotiknya impoten karena duluan dipakai untuk melalap jebakan.
Mekanisme yang paling tidak terduga untuk mengerjai antibiotik adalah pertukaran kode gen melalui plasmid dan penugasan yang berbeda. Pertukaran plasmid ini memungkinkan bakteri untuk saling menukarkan gen mereka secara bebas dan itu bisa jadi kode gen yang spesifik untuk menangkal antibiotik. Pengalih-tugasan gen sendiri pada dasarnya berdasarkan dugaan bahwa gen resisten antibiotik sudah ada duluan dan dipakai untuk tugas 'housekeeping' dan kebetulan gen itu sudah siap pakai saat bakteri ini diguyur antibiotik (Drexler, 2002, 146-147).
Solusi terbaik sekaligus paling pasti adalah robot nano yang dikendalikan secara semi-otomatis dan berfungsi untuk menghancurkan bakteri secara fisik (antibiotik melakukannya dengan cara kimia). Menurut Michio Kaku di halaman 182-184 buku "Physics Of The Future" terbitan Doubleday tahun 2011, robot nano ini akan diarahkan ke sel kanker yang memiliki bentuk berbeda dengan sel sehat dan si robot ini menghancurkan targetnya dengan memanggangnya sampai hancur menggunakan panas (atau elektromagnetik) hasil pancaran partikel nano. Karena bakteri dan sel kanker sama-sama berbeda dengan sel tubuh, partikel nano ini bisa diarahkan ke bakteri biang masalah dan diperintahkan untuk beraksi. Apapun yang dilakukan si bakteri, dia tidak mungkin bisa menangkal gelombang panas. Keuntungan dari metode ini adalah tidak adanya kans seleksi alam karena si bakteri dihabisi tanpa pandang bulu dan sulit nyaris mustahil menandingi kekuatan robot dalam mengatasi bakteri.
Superbug adalah bakteri yang kebal antibiotik. Mereka memiliki cara yang unik dan kreatif sebagai hasil seleksi alam yang manusia lakukan dengan sembrono. Saat ini, solusi yang sedang digodok sekaligus solusi terbaik adalah nanoteknologi yang menghasilkan robot. Sangat disarankan untuk berinvestasi di teknologi nano karena ketiadaan peluang seleksi alam yang menimbulkan resistensi terhadap gelombang elektromagnet yang merusak suprastruktur tanpa ampun.
Referensi :
"Physics of the Future" - Michio Kaku, 2011
"Secret Agents, The Menace of Emerging Infection" - Madeline Drexler, 2002
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar