Welcome!!

Selamat datang di blog milik Andika Candra Jaya (a.k.a TheCruiser)

26 September 2013

Vicky Prasetyo Transliterated (again)

Isu panas saat aku terpikir untuk menulis (20/09/2013) adalah Vicky Prasetyo dengan bahasa dewanya. Kalau dilihat lebih teliti, banyak kata-kata yang sebetulnya tidak 'nyambung' dengan kaidah yang ada ataupun konteks yang dia mau. Aku sendiri secara pribadi tergelitik untuk menterjemahkan bahasa 'intelek'-nya agar lebih mudah dipahami oleh orang lain. Disini aku juga mencantumkan kemungkinan terdekat dari setiap istilah 'dewa'-nya. Di 1cak.com memang ada yang mencoba (http://1cak.com/395447), tapi aku merasa ada yang kurang dari itu.

 

Mari kita lihat perlahan-lahan

Paragraf 1:


"Di usiaku ini, twenty nine my age, aku masih merindukan apresiasi karena basically aku senang musik, walaupun kontroversi hati aku lebih menyudutkan kepada konspirasi kemakmuran yang kita pilih ya."

Terjemahan:

"Di usiaku yang duapuluh sembilan sekarang ini, aku masih merindukan penghargaan karena pada dasarnya aku senang musik; walaupun rasa galau pada diriku lebih mengarahkanku pada upaya bersama untuk mencapai kemakmuran yang memang kita inginkan."

Penjelasan:

Aku sendiri menganggap sub-kalimat "Di usiaku ini, twenty nine my age...," masih normal karena dia hanya menyebutkan umurnya walaupun tata-bahasanya kacau. Kemudian pada sub kalimat berikutnya, "...aku masih merindukan apresiasi karena basically aku senang musik...," aku berasumsi bahwa dia ingin dihargai karena dia senang musik entah sebagai penikmat atau musisi. Terakhir ini yang lumayan membingungkan karena ada tiga kata kunci yang dijadikan sandi olehnya: 'kontroversi hati,' 'menyudutkan,' dan 'konspirasi kemakmuran.'

Kontroversi hati sendiri kuterjemahkan secara bebas sebagai kegalauan atau rasa galau karena kontroversi sendiri berarti pertentangan ide. Artinya, 'kontroversi hati' berarti pertentangan ide dalam hati. Dalam kata lain, GALAU.
Istilah 'menyudutkan' disini juga mengalami penyalah-gunaan karena arti sebenarnya dari kata itu secara konotatif adalah 'menyulitkan langkah sedemikian rupa sehingga orang yang disudutkan ini terpaksa mengikuti apa yang menjadi kehendak lawannya'. Berdasarkan kunci ini, aku berani mengambil spekulasi kalau arti kata 'menyudutkan' menurut si VP ini entah menggiring/mengarahkan atau 'cenderung.'
Konspirasi kemakmuran juga kuterjemahkan sebagai upaya untuk kemakmuran bersama karena kata 'konspirasi' sendiri berarti 'upaya persekongkolan bersama untuk mencapai tujuan bersama (kerap melawan hukum).' Kunci dari definisi tadi adalah 'upaya untuk tujuan bersama.' Dari kunci ini, aku bisa berasumsi bahwa konteksnya memang dia ingin bekerjasama untuk mencapai kemakmuran bersama. Sebenarnya, Vicky secara implisit menyebut kalau dia pernah melabrak hukum untuk mencapai 'kemakmuran bersama' ini

Paragraf 2:

"Kita belajar, apa ya, harmonisisasi dari hal terkecil sampai terbesar. Aku pikir kita enggak boleh ego terhadap satu kepentingan dan kudeta apa yang kita menjadi keinginan."

Terjemahan:

"Kita belajar untuk bisa harmonis dari hal-hal kecil sampai akhirnya hal-hal besar. Aku pikir kita enggak boleh ngotot terhadap satu kepentingan tertentu dan memaksakan apa yang menjadi keinginan kita."

Penjelasan:

Harmonisisasi? Bukannya dalam Bahasa Indonesia sudah ada istilah 'harmonisasi' yang artinya kira-kira sama? Arti kata harmonisasi kan aslinya mempersatukan dengan tetap menjaga keunikan sendiri-sendiri, ini malah dipaksakan untuk menjadi semacam "se-iya se-kata" (bener nih ejaannya?)

"Ego terhadap satu kepentingan" ini sendiri benar konteksnya, cuma diksinya agak dipaksakan. Ego disini kuanggap sebagai 'egois' yang berarti ngotot agar dia yang selalu menang.

"kudeta apa yang kita menjadi keinginan." Kata 'kudeta' disini mengalami penyalah-gunaan makna skala masif. Arti kata aslinya sendiri relatif sempit, "Upaya pengambil-alihan kekuasaan yang berlaku secara paksa," dengan kunci di 'pengambil-alihan secara paksa.' Makanya aku berani mengambil asumsi bahwa . Kemudian aku juga membalik subyek di anak kalimat "...apa yang kita menjadi keinginan," menjadi, "...apa yang menjadi keinginan kita." Sebuah blunder tata-bahasa fatal.

Paragraf 3:

 "Dengan adanya hubungan ini, bukan mempertakut, bukan mempersuram statusisasi kemakmuran keluarga dia, tapi menjadi confident. Tapi, kita harus bisa mensiasati kecerdasan itu untuk labil ekonomi kita tetap lebih baik dan aku sangat bangga."

Terjemahan:

"Melalui hubungan ini, aku tidak mau menakut-nakuti dia atau mengacaukan status sosio-ekonomi keluarganya, tapi aku ingin membuat mereka yakin terhadap itu. Kita harus bisa memanfaatkan kecerdasan dalam konteks terselubung untuk membentuk ekonomi kita agar tetap lebih baik dari sebelumnya dan aku bangga akan itu."

Penjelasan:

Sub-kalimat, "...bukan mempertakut, bukan mempersuram statusisasi kemakmuran...," ini benar-benar keterlaluan lantaran tiga istilah 'intelek' dalam satu seri berturut-turut. Mempertakut sendiri bisa saja artinya membuat takut (alias menakut-nakuti), tapi konteksnya kemana? Apa status ekonominya atau apa? Disini aku berasumsi ini artinya menakut-nakuti orangnya secara pribadi karena hanya hewan minimal mamalia yang memiliki rasa takut karena mereka memiliki nodus limbik yang berfungsi dalam aspek perasaan. Lalu istilah mempersuram yang disalah-gunakan dalam kasus yang sebenarnya mendekati. Mempersuram sendiri artinya "membuat jadi suram/kacau" seperti di istilah masa depan suram

"Statusisasi Kemakmuran"?? WTF?! Aku menganggap ini sebagai terjemahan gagal dari "wealth status" yang implikasinya berarti status sosial-ekonomi.
Lalu "mensiasati kecerdasan". Aku perlu definisi awal dari siasat dan cerdas untuk mendapatkan maksud si 'intelek jejadian' ini. Siasat bisa didefinisikan sebagai 'metode dalam memanfaatkan sumber daya untuk mencapai tujuan' dan kecerdasan ini bisa dianggap sebagai sumberdaya (orang cerdas kan sumber daya juga dalam kasus lain). Siasat sendiri bersifat terselubung, memang ada orang mau membuka siasatnya dalam melakukan sesuatu? kalau dibuka sih namanya metode. Sehingga, mensiasati kecerdasan bisa saja berarti memanfaatkan kecerdasan.
Istilah "labil ekonomi" sendiri mungkin maksudnya ekonomi yang sangat mudah beradaptasi atau sangat bisa dibentuk. Istilah ini sendiri aku turunkan dari novel Sword Art Online khususnya dari volume 9-12 ("UnderWorld" arc). Nama target dari proyek rahasia AB Jepang di novel ini sendiri adalah ALICE (Artificial Labile Intelligence Cybernated Existence) alias "Highly Adaptive AI." Disini aku berani bermanuver untuk mengambil asumsi bahwa arti dari "labil ekonomi" adalah kapabilitas ekonomi untuk beradaptasi dengan perubahan


Aku menulis ini saat otakku kebetulan sedang dalam gigi tinggi

19 September 2013

Four-way Music-laden Anime Comparison and Contrast

La Corda D'Oro (La Corda), Senki Zesshou Symphogear (Symphogear), AKB0048 (Zero-Zero), dan Tari Tari adalah empat anime bernafaskan musik dan konser walaupun mereka memanfaatkannya dalam tingkat yang berbeda. Ya, mereka adalah empat anime dengan peringkat tinggi di Piala Anime Cruiser. Mungkin kreator liganya sendiri cenderung bias ke anime berbasis musik

Keempat anime memang padat dengan musik sampai-sampai seakan-akan hidup semua karakternya berputar di sekitar musik. Namun mereka berbeda dalam jenis musiknya.
La Corda dipadati musik klasik yang dibuat oleh musisi jaman jebot yang sudah terkenal (Beethoven, Mozart, Bach, Brahms, you-mention-it). Dalam anime-nya sendiri, La Corda terpaksa memendekkan sesi konser untuk memberi ruang pada intrik romansa REVERSE HAREM (sebenarnya ini anime dengan target demografi Shoujo alias remaja putri).
Symphogear dan Zero-Zero lebih mengandalkan musik upbeat sebagai pengisi lagu mereka dengan pendekatan berbeda. Symphogear memakai lagu original yang dibuat khusus untuk anime tersebut sementara Zero-Zero memakai lagu-lagu milik AKB48 dan eskader kembarannya (JKT48, TPE48, dll).
Tari Tari memakai lagu hibrida antara upbeat dan pop-klasik. Semua lagu Tari Tari sendiri pada dasarnya sama saja dengan Symphogear soal rancangannya (original dari nol untuk anime itu).

Mereka memang sama-sama menggunakan musik secara ekstensif dan ada banyak adegan khusus untuk musik dan konser itu plus mayoritas sumber daya di anime tersebut tercurah spesifik untuk keduanya. Namun, keempatnya memiliki mekanisme berbeda untuk pemanfaatan musiknya. La Corda memakai musik sebagai ajang untuk ukur skill dan mencurahkan perasaannya karena konser di mayoritas cerita La Corda sendiri adalah bagian dari kompetisi musik internal mereka.
Symphogear, di sisi lain, memakai musik sebagai media untuk mengalirkan kekuatan ke armor mereka sebagian dikarenakan judulnya sendiri merupakan kata jadian dari "Symphonic Gear" seperti sudah dijabarkan di entri lain blog ini.
AKB0048 memakai musik dan konser untuk gerilya melawan pemerintah yang mana melarang segala wujud hiburan termasuk idola. Ya, Zero-Zero adalah pasukan anti-pemerintah dengan dukungan WOTA sebagai milisi mereka.
Tari Tari, sesuai referensi di Jawa Pos tertanggal 1 Agustus 2012, memakai musik untuk mencapai masing-masing individu. Satu-satunya konser skala besar di TariTari hanya di akhir cerita dengan judul "radiant melody" yang konon digubah oleh mendiang Mahiru (maknya Wakana) dan Wakana Sakai. Dan anime ini ending-nya solid tanpa adanya cerita yang sengaja dibiarkan 'gantung'

Untuk kesetaraan kompetisi, aspek desain akan fokus ke desain karakter cewek. La Corda dan Symphogear berkompetisi secara langsung sementara Zero-zero memiliki desain sendiri dan Tari Tari bermain textbook.
La Corda memiliki desain karakter cenderung mengarah ke bishojo (cewek cantik) karena memang pada dasarnya La Corda ini dikhususkan untuk cewek dimana karakter cowok lebih diutamakan. Kecuali tentu saja, mata semua karakter di anime ini tidak bersinar-sinar seperti di anime Shoujo lainnya.
Symphogear lebih mengarah ke kombinasi bishojo dan moe (imut). Terutama di Symphogear G, aspek imutnya lebih ditonjolkan dengan kehadiran loli.
Zero-zero memiliki desain sendiri (melabrak pakem) dengan desain mata yang bersinar dengan bentuk tertentu.
Di sisi ekstrim, Tari Tari dapat dianggap textbook example soal moe (dari wikipedia)

Aspek fanservice keempat anime ini ibarat jaka sembung naik ojek (gak nyambung, jek). Symphogear sampai tingkat adegan mandi yang tentunya disensor sana-sini atau paling jauh glancing shot sado-masokisme dari episode 5. Zero-Zero mentok di bikini shot saat sesi foto gravure untuk majalah. La Corda hanya adegan 'nyaris' ciuman yang notabene tipikal untuk sebuah anime roman. Tari Tari main di bikini shot saat musim panas. Keempatnya tidak memiliki fanservice yang terlalu dahsyat

Kesimpulan: Genre musik sebetulnya masih memiliki banyak ruang ekspansi dan ada cukup anime berbasis musik diluar sana untuk dieksploitasi misalnya K-On, Uta no Prince Sama, dan masih ada cukup anime untuk dibuatkan liga khusus anime dengan genre musik.

Referensi:
en.wikipedia.org/wiki (tinggal cari dengan keyword anime-anime tersebut diatas)
 
Tweets by @RealCruiser