1. Kultur kita masih budaya lisan (ini memang sudah sejak jaman dulu)
2. Sistem edukasi kita belum mendorong berpikir kritis (shit happens, membaca HANYA untuk ujian)
3. Faktor ekonomi (harga buku relatif dengan gaji)
Selain itu, mari kita bahas juga akibat dari semua ini:
1. Pembodohan terstruktur, sistematis, dan masif
2. Kualitas pikir masyarakat kita terjun bebas
3. Bigot + rasis + xenophobic = bencana kultural
4. Idiocracy
Elaborasi faktor krisis literasi
Faktor Kultural
Faktor kultur kita yang masih lisan ini dikarenakan kita "lambat" terkena imbas dari ketersediaan printing press. Di Eropa, printing press (baca: teknologi percetakan masal) sudah tersedia sejak tahun 1450 (give or take a few decades). Sementara disini, teknologi cetak baru masuk sejak jaman kolonial, sekitar tahun 1600. Sebelum itu, buku masih harus disalin manual.Kalau benar faktor ini jalan, paling cepat kultur kita akan bergeser ke kultur membaca pada pertengahan abad ini, sial-sialnya awal abad mendatang karena kultur membaca baru berakar di Eropa akhir abad ke-19. Tambah 150 tahun, paling cepat 2030 kita masuk era literasi. Tapi kita masih harus memperhitungkan faktor budaya kita yang menganggap buku itu sebagai simbol aristokrasi, worst case-nya kita baru pindah ke budaya membaca di 2100. Pada jaman itu, aku nggak yakin apa buku masih ada atau sudah digantikan oleh format digital yang diproyeksikan langsung ke lensa kontak kita.
Mungkin ada yang bertanya, mengapa aku memasukkan faktor "buku adalah simbol aristokrasi" disini. Alasannya sederhana, pada jaman pra-politik etis (which is 1900-something), pendidikan formal yang memerlukan buku itu dianggap sebagai barang mewah cuma untuk orang Belanda atau anak orang kaya. Bahkan setelah itu, pendidikan formal dikunci sebagai 'suatu sarana untuk mendapatkan tenaga rendahan yang cukup sekedar melek huruf.' Alhasil, buku dianggap pula sebagai produk untuk orang elit.
Kembali ke kemewahan, pada jaman pra-politik etis itu, buku dianggap sebagai produk impor dan orang kita terbiasa pada tradisi lisan yang dianggap memadai untuk sekedar tahu bagaimana cara hidup.
Kultur lainnya yang dikembangkan oleh budaya populer kita juga cenderung anti sama orang yang suka baca buku. Contoh simpel, dari seluruh sinetron/FTV sebagai penguasa TV yang ada, berapa banyak yang menyentuh orang kutu buku selain sebagai sasaran geng penguasa sekolah? Aku yakin nol besar. Kultur ini sendiri diturunkan dari popular culture di AS sono yang entah bagaimana ceritanya tanpa tedeng aling-aling jadi anti-intelektual.
Kultur lisan kita juga berdampak pada apa yang terjadi sekarang: orang yang senang membaca jadi sasaran 'perlakuan tidak menyenangkan' yang paling minimal berupa sindiran di belakang, olok-olok, sampai (amit-amit langit melarang) FUCKING BULLYING. Ini contoh tekanan sosial yang membuat orang terpaksa ikut apa kata orang dengan menaruh bukunya dan kebingungan untuk mengikuti apa topik rumpian sekarang. Apa baca chatting WA/BBM/Line/etc masuk hitungan membaca? No, Nein, Нет, いいえ, Tidak; nuff said.
Faktor Ekonomi
Disini kita perlu menyamakan pemahaman kita soal harga. Untuk kasus ini, kita akan analisa harga secara relatif diadu dengan satu komoditas yang setiap orang perlukan, yaitu gaji.Di AS, harga buku tipikal biasanya berkisar antara USD 12 sampai 40 (berdasarkan pada konversi harga di Kinokuniya) saat upah minimum adalah USD 8 per jam. Artinya, harga buku setara dua sampai lima jam kerja.
Di Indonesia, harga buku bervariasi antara IDR 35.000 sampai 250.000 saat upah minimum rata-rata dua juta per bulan (bagi 170 jam kerja per bulan) berarti IDR 12.000. Artinya, harga buku antara tiga sampai dua puluh jam kerja.
Dari dua hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa buku di Indonesia relatif mahal dibandingkan dengn di luar negeri. Hanya saja, diberikan fakta tentang kelas menengah disini, isu ini menjadi tidak relevan. Kita bisa asumsikan bahwa kebutuhan inteletual orang Indonesia dapat dipenuhi dari internet yang dapat diterjemahkan menjadi kebutuhan kuota internet.
Di luar sana ada yang bercanda tentang kebutuhan kelas menengah Indonesia:
Di luar sandang-pangan-papan-edukasi-kesehatan, di Indonesia itu kebutuhan kelas menengahnya: paket internet+sosial media, bensin kendaraan, makanan-minuman ala orang luar, sama gadget. Buku? Nggak bakal dibaca, yakin! Buat mereka mah yang penting eksis, persetan isi otaknya,which is true buat sebagian besar orang sini. Untuk orang sini, buku itu cuma buat orang kuper yang nggak mau eksis. Alasannya ya gampang, balik lagi ke faktor kultural kita. Hasilnya ya mana ada orang mau keluar uang sekian puluh/ratus ribu demi buku saat itu uang bisa dipakai jajan/mejeng entah dimana
Faktor edukasi
Di Indonesia, pendidikan dipadankan sebagai pengajaran di sekolah. Hanya saja, di sekolah, guru lebih banyak menekankan pada hafalan materi semata-mata mengamankan nilai. Sehingga, di Indonesia, seberapa cerdas orang cenderung dilihat dari deretan nilai di ijazah/raport/transkrip. Untuk menambah masalah, guru di Indonesia cenderung menekankan pada latihan soal yang berbasiskan lembar kerja siswa. Coba ingat-ingat jaman sekolah dulu, siapapun yang pernah sekolah sebelum 2010 pasti paling nggak kenal sama buku tipis yang namanya "lembar kerja siswa." Mungkin sekarang namanya lebih eksotis: "worksheet," "Exercises," et cetera; tapi intinya sama saja, menguji hafalan mentah siswa. Di bimbel, kita diajari jurus cepat agar kita tidak usah buka buku lagi; ini kesalahan fatal karena itu sama dengan insentif kepada murid untuk tidak membuka buku sama sekali.Selain buku kumpulan soal ujian dan buku teks, aku yakin buku lainnya nyaris tidak disentuh anak usia sekolah. Alibi mereka sih, "Ngapain baca buku banyak-banyak, toh ga bakal keluar di tes nanti." Curhatan seorang guru tak ternama:
Aku kadang nyempilin soal terapan sama soal tipe problem solving di kuis dan banyakan murid cuma copas dari catatan mereka (kuisku open note) tanpa memahami konteks soalnya seperti apa dan tanpa bisa menjelaskan secara rinci mau diapakan teknik itu tanpa gambar. Disini aku juga galau mau bantai apa kasih ampun soalnya soal model itu kurancang bobotnya tinggi (up to 70% nilai). Kalau jawaban seperti ini yang dipakai di kenyataan sebagai karyawan bisa dikuliti dia sama bosnya.Sialnya lagi, soal ujian sekarang ya sebagian besar pilihan ganda yang tinggal hafal juga selesai. Essay mungkin menguji pemikiran kritis alias kemampuan membaca kritis, tapi untuk guru koreksinya setengah mati apalagi dari curhatan barusan jelas dia biasa kasih soal essay. Pity that bastard.
Interlude: Kualitas Buku Kita
Koleksi buku yang dijual di Indonesia juga layak diragukan. Yang best seller biasanya motivasi, jurus cepat kaya, self-help bernuansa religius, dan novel yang alur ceritanya dapat ditebak. Buku sains populer? Sejarah selain propaganda pemerintah? Buku kritik atas agama? Yang terakhir mungkin agak drastis, tapi dua yang lain nyaris nggak pernah ada kabarnya untuk buku berbahasa IndonesiaKualitas buku kita ini sebetulnya didasari oleh groupthink orang kita yang enggan cari kontroversi. Asal bebas kontroversi dan hype-nya masuk, dijamin masuk penerbit. Fiksi? Paling nggak jauh dari kisah cinta-cintaan, galau orang terkenal, atau fanfiction sesat nan delusional. Non-fiksi? BUBAR! Silakan cari di bawah timbunan sampah intelektual bernada konspirasi atau ESQ religius.
Konsekuensi semua ini
Kurangnya literasi kritis kita tentunya berdampak banyak pada negara ini. Beberapa trivial, beberapa yang lain
Pembodohan Terstruktur, Sistematis, dan Masif
Salah satu hasilnya ya apa yang terjadi sekarang: banyaknya broadcast hoax. Aku pernah kena BC model itu dari ortuku soal radiasi kosmik yang membahayakan HP. Aku damprat ortuku, "Kalau radiasi kosmik bisa menggoreng HP, umur HP-ku nggak akan lebih dari setahun. Nyatanya? Ini si kecil [S*****g G***** Star] tahan dua tahun."Hasil lainnya: cocoklogi, konspirasi, dan cari kambing hitam. Karena orang kita enggan baca buku, jadinya ya asal "yang ngomong" punya "sumber berwenang," ya dilahap juga apa kata mereka walaupun itu omong kosong.
Orang yang malas baca jadi malas mikir dan gampang diarahkan oleh satu golongan tertentu yang punya kuasa untuk melakukan sesuatu untuk dia. Sebenarnya gampang mengarahkan orang yang malas mikir, tinggal bawa satu legitimasi yang diakui bersama dan cocokkan apa yang kamu katakan dengan satu legitimasi itu, beres perkara.
Kurangnya kualitas pikir
Karena kita biasa disodori CUMA satu sisi argumen, kita jadi terbiasa dengan "Confirmation Bias" yang merupakan "Kecenderungan untuk mengangkat bukti dari satu sisi yang kita anggap cocok dengan konsep awal kita," alias cari pembenaran. Yang ini sih terkait sama pembodohan, cuma lebih fatal akibatnya. Orang jadi gampang disesatkan dan menuduh orang lain sesat karena kualitas berpikirnya rendah.Contoh: Komunis = Atheis. WTF?! Komunis itu hanya satu sistem ekonomi yang menganggap agama sebagai candu. Atheisme yang menempel itu sebenarnya hanya opini diktator yang memakai komunisme sebagai pahamnya dan perlu satu jawaban soal agama. Yang bilang Komunis itu pasti Atheis ketahuan nggak pernah baca The Communist Manifesto.
Orang jadi Xenophobic Bigoted Motherfucker
Maafkan judul segmen ini, tapi memang orang seperti mereka otaknya sudah mati. Mereka merasa apapun yang dari luar itu jahat dan ingin merebut negara ini melalui "proxy war." People, please. Itu mah menterimu saja yang parno sama bangkai ideologi saat mengabaikan bahaya radikalisme depan mata.Kamu menuduh ateis sebagai sesat cuma karena mereka mempertanyakan logika dibalik agama? Itu sih kamu yang tolol, malas, dan sesat. Pada puncak kejayaan suatu agama, justru rajanya itu mempertanyakan logika agama dan menginstruksikan seluruh buku yang keluar-masuk kerajaannya itu diterjemahkan dan disimpan di perpustakaan nasionalnya.
Idiocracy
Saat orang malas baca dan lebih memilih bicara, orang akan cenderung lebih menghargai mereka yang bicara lebih baik daripada mereka yang membaca lebih baik. Biasanya ini "Mereka yang membaca banyak cenderung penuh keraguan dan mereka yang membaca sedikit cenderung penuh keyakinan," dan itu berarti mereka yang sedikit membaca akan muncul ke permukaan. Net result, orang-orang ini (yang sedikit membaca tapi banyak bicara) yang dianggap cerdas oleh mereka yang sedikit membaca dan ujungnya ya mereka ini yang dipercaya untuk memegang kekuasaan.Ingat saja "Those who don't learn from history are condemned to repeat itself," dan "Liberty is reserved for those who want to think for themselves. Those who let others do the thinking for them are bound for tyranny."

Tidak ada komentar:
Posting Komentar