Welcome!!

Selamat datang di blog milik Andika Candra Jaya (a.k.a TheCruiser)

22 Januari 2012

Mengapa Indonesia Tidak Kunjung Membeli MBT??

Pertama-tama, seragamkan dulu arti istilah MBT di sini. MBT sendiri didefinisikan sebagai Main Battle Tank alias Tank Tempur Utama. MBT adalah kendaraan tempur serbaguna yang berperan sebagai bantuan tembakan infanteri langsung karena meriam utamanya, sebagai pelindung kolom infanteri yang bergerak dengan APC karena lapisan pelindungnya, sebagai inti dari batalion mekanis karena mobilitasnya dan lain-lain. Intinya, MBT ini adalah kendaraan tempur serbaguna. Referensi dari en.wikipedia.org/wiki/Main_battle_tank
Terdapat beberapa alasan mengapa TNI AD tidak juga mengakuisisi MBT padahal diam-diam TNI perlu dan masyarakat sipil pengamat yang beres sudah gatal ingin melihat MBT untuk parade HUT TNI 5 Oktober. Semua alasan ini sebenarnya tidak berdasar fakta di lapangan sehingga mudah dimentahkan.
  1. Ambles di tanah lunak. Ayolah, pernah melihat ekskavator kelas berat atau sebangsanya jalan di lumpur nggak?? Padahal beratnya mereka hanya beda sedikit. Ekskavator beratnya paling juga 65 ton sementara MBT kebanyakan bermain di angka 44-62 ton sekian. 44 ton untuk Ariete (Italia) dan Type 10 (Japs) sampai 62 ton untuk Leo 2 Jerman dan Chally 2 Inggris. Lagipula kata "ambles" ini sebenarnya dipengaruhi oleh ground pressure yang merupakan hasil bagi berat dengan luas permukaan kontak. Kalau melihat lebar roda rantai dan panjang lambung tank, sebenarnya Leo 2 memiliki ground pressure dibawah manusia berukuran Indonesia kalau berdiri dua kaki dalam sepatu bot.
  2. Nasib jembatan bakal hancur kalau MBT melintas. Boro-boro, dalam perang pasti jembatan duluan dihajar baru jalan, markas sih nanti dulu. Untuk itulah MBT dibekali dengan kemampuan waterfording alias menyelam sampai kedalaman 6 meter yang bahkan sungai Musi pun mungkin lebih dangkal.
  3. Anggaran kurang alias mahalnya aduhai. Selalu kurang kalau ditilep di gedung hijau sana!! Reparasi ruang rapat saja 20 M, cukup untuk satu Leo 2A4 bekas Londo plus suku cadang dan cukup munisi untuk beberapa kali duel. Atau T-90 anyar plus-plus. Intinya, selama ada niat, uang bisa dicari.
  4. Harus produksi anak negeri. Halo?! APC aja baru lancar. Kasihan PT Pindad, cuy! Mau permak ranpur yang ada? Bung, teknologi tank itu sulit dipelajari kalau dari nol sama sekali! Mentang-mentang ada euforia mobil Esemka, semua harus buatan lokal. Bang, minta Transfer Teknologi dari negara pembuatnya juga nantinya bisa dalam satu atau dua dekade bikin sendiri. Sama saja dengan SS-series, bikin lisensi dari FN FNC Belgia, dijadikan rasa lokal dengan SS-1, lihat keperluan lapangan jadikan SS-2 dan seterusnya.
  5. Ada senjata lawan tank. Iya, memang mempan, tapi satu peleton anti-tank duluan disapu sasarannya, mau apa? Terpaksa juga memakai MBT yang diisi senjata lawan tank yang entah dijadikan amunisi atau ada kru nekad membawanya di atap kubah meriam.
  6. Susah mengangkutnya ke medan konflik. Ini ada benarnya, tapi menyesuaikan dengan taktik TNI, biasanya MBT ini akan dijadikan pemukul strategis karena TNI selalu merebut kembali apa yang telah didapat musuh. Untuk itulah, PT PAL perlu juga membuat LPD (dananya jangan dimakan sama penghuni gedung hijau Senayan) yang sanggup mengakomodasi belasan MBT sekali jalan.
  7. Harus multi-peran (aka multirole). MBT sudah multi-peran, bang!! Mau apa? Fire support? Siap dengan meriam dan mortir (beberapa MBT punya). Artileri? 120mm siap. Mau pakai lawan demonstran? Adanya demonstran duluan takut.
  8. Tidak cocok di medan Indonesia. Oke, setengah benar. Tapi camkan baik-baik kalau strategi MBT juga bisa disetel dengan medan yang memakainya. Type 10 Jepang sendiri hanya dipasang di Hokkaido karena medannya11-12 sama Indonesia. Lagipula kita juga niatnya beli MBT itu untuk perbatasan Kalimantan sama Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Tweets by @RealCruiser