Welcome!!

Selamat datang di blog milik Andika Candra Jaya (a.k.a TheCruiser)

04 Agustus 2013

Constant Rate Factor??

Terdapat banyak sistem encoding video, dari yang berbasis ukuran sampai yang berbasis mutu. Satu yang mengguncang adalah Constant Rate Factor. Salah satu 'calon' pengguna sistem ini adalah cyber12.com. Sistem ini bisa mengguncang jagat penggemar anime paket hemat karena ukurannya dijamin berfluktuasi gila-gilaan. Satu sumber menyebut bahwa anime 25 menit bisa berukuran 128 MB dimana, sebagai pembanding, anime paket hemat lainnya tidak pernah melebihi 50-95MB dengan resolusi antara 704x396 sampai 1280x720 dengan kompresi.

Constant Rate Factor adalah satu mekanisme yang mengatur bitrate (ukuran) video dalam Megabyte dimana mekanisme ini unik. Keunikan mekanisme ini terletak pada caranya mengatur hasil encode. Sementara yang lain berada dalam dikotomi ukuran VS mutu, CRF (seperti VBR, variable bitrate/bitrate bervariasi) mengatur bitrate sesuai dengan laju aktifitas di video itu.
Dalam banyak kasus, yang terjadi justru kualitas ditentukan bitrate konstan. Contohnya ada pada encoding film aksi (penuh adegan cepat) lawan film roman (nyaris tidak ada adegan cepat), dengan asumsi durasi (diluar opening dan kredit), resolusi, dan ukuran (MB) keduanya sama. Mata biasa bisa menentukan kalau kualitas terlihat dari film aksi agak kurang. Hal ini dikarenakan bitrate konstan mematok ukuran per frame konstan sementara film aksi menuntut perubahan frame dengan kecepatan tinggi dimana bitrate lebih banyak dikonsumsi untuk ini alih-alih kualitas gambar.

CRF mengatur ukuran dengan menyesuaikan bitrate dengan kecepatan frame. Disini letak keuntungan CRF : penghematan bitrate bagi adegan santai sekaligus optimalisasi kualitas bagi adegan bertempo tinggi.
Bagaimana kita menyetel mutu yang kita mau? Tinggal main di angka pada pengaturnya. Kecilkan angka untuk mutu super (16 terbaik dengan ukuran yang akan membuat pengguna 'irit' meledak murka) dan sebaliknya (28 terparah dengan ukuran hemat dan mutu 'masih bisa diampuni').

CRF memiliki keuntungan melawan CBR (constant bitrate/bitrate konstan) dan VBR. CRF mudah ditangani, memberi kualitas dan menghemat tempat di HDD.
CRF unggul lawan VBR dalam aspek kemudahan pengaturan. Dalam VBR, encoder harus mengatur bitrate maksimum dan bitrate target yang kerap memusingkan karena sulit menebak angka yang tepat untuk kompromi antara kualitas lawan ukuran. Terlalu rendah, adegan cepat akan terlihat cacat. Terlalu tinggi, adegan santai akan menyia-nyiakan tempat. Pada CRF, encoder tinggal menentukan kualitas yang dikehendaki. Semakin kecil angka pada CRF, semakin baik kualitas yang terlihat oleh mata dan ukurannya pun membengkak.
CRF lawan CBR? CRF menang kemana-mana. CBR mungkin lebih mudah diprediksi, tapi apa gunanya kalau ternyata itu prediksi hasil memaksakan mutu?

Kendala terbesar CRF adalah ukuran yang sulit ditebak. Sebelum selesai encode, nyaris mustahil memprediksi file itu akan sebesar apa. Mungkin VBR juga punya penyakit seperti ini, tapi dengan menyetel bitrate target bisa ditebak dengan akurasi 10-15% sementara CRF nyaris mustahil memprediksi bitrate target.

So, CRF adalah metode enkoding multimedia yang handal lantaran tidak ada masalah kompromi antara ukuran dan kualitas karena kita yang mau menyetel kualitas kita dan biarkan pihak software yang menangani sisa pekerjaan. Kita cuma perlu brace yourself, ukurannya sulit ditebak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Tweets by @RealCruiser