Welcome!!

Selamat datang di blog milik Andika Candra Jaya (a.k.a TheCruiser)

22 Desember 2011

Motor Sortie

 Penugasan hari ini adalah mengantar keponakanku, anaknya Ko Agus (sepupu dari sayap bapak) ke tempat les musik di Yamaha cabang Kuta di sektor Charlie Bravo Five Nine. Misi lain yang tiba-tiba muncul itu adalah urusan lain. Nanti atur sendiri.
Rabu malamnya, Ko Agus SMS aku, “An, bsk tlg antrn yuni m yuno k yamaha music” lalu aku balas “Alamat sama jam”. Ko Agus bilang jam 3 pm di SD Pelita Bangsa di Mahendradatta. Itu sih arena latihan pursuit, entah udah berapa alay tukang trek-trekan aku tembak hancur di kawasan itu. Aku bilang oke. Ini panggilan adalah CTA (call to arms).
/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\
Kamis pagi sekitar jam 5, tiba-tiba seseorang telpon aku,
“Halloo....,,” aku setengah ngelindur, “siapa sih orang ngigau nelpon jam segono??“An, siang ini gantiin bapak di klub. Sekarang pak lagi ke kampung,” rupanya Pak Sudana mudik
“Okeee..,” aku nutup telpon “lotnok!! Aku jam setengah tiga udah to arms,
Itu artinya aku bakalan dipastiin ngajar. Aku sekolah dengan nunggang JABO (JagdBomber, nama motorku) padahal jarak dari kosan ke sekolah hanya 1 menit jalan kaki lewat lapangan dengan normal pace. Aku ngikutin pelajaran hari Kamis seperti biasa. Tapi, abis jam pertama, Olahraga, si Tegar masuk ke kelas bawa surat dispen buat kejuaraan Mahasaraswati Cup. Pas aku ngecek siapa yang ACC buat ngirim math squad ke Unmas Math Cup dan Coppa Udayana, tau-tau Pak Budi (a.k.a Babibu) ngasih teken getaway. Tumben dia mau neken, soalnya nggak ada Pak Sudana, Pak Mendung mana mau ngasih ijin kompetisi, Pak Ngurah malahan bikin aku ngakak ngebayangin dia ngasih teken dispen sebagai pembina alih-alih wakasek.
Sesi 3-4 : Matematika. Aku sih sebodo amat anak-anak sekelas tahu apa gak kalo dia mudik, aku mau belajar aja demi Mahasaraswati Cup. Arena latihan Math Squad selalu di TRRC. Aku cek dulu perpus siapa tahu ada orang lagi cari teori. Mereka raib berarti udah di gelanggang Math Squad atau ngumpet di referensi. Aku mendingan ke kelas, belajar lagi buat UMC.
Sesi terakhir : Fisika. Saatnya minggat ke TRRC. Dia (Tramtib sekolah) mau ngamuk kayak gimana sama aku, bawain aja kumis brothers dan dia menyerah.
/\/\/\/\/\/\/\/\/\
Pulang sekolah, aku lagi ngepak buku sama laptop saat Tegar sama Bagas nyelonong,
“Kak, nanti kakak ngajar. Tadi Pak Su nelpon aku. Dia bilang takutnya pesannya nggak nyampe tadi pagi, soalnya dibilang kakak masih setengah sadar,” Tegar ngasih tau pesannya Pak Su
“Aku tahu. Mau keluar dulu, perutku udah orkestra kodok,” maksudku aku udah lapar berat
“Di belakang?” Bagas nanyain aku
“Oke. Gar, kau ikut?”
“Jelas!” lalu kamipun jalan bertiga ke warung di belakang sekolah yang terkenal murah dan bisa makan sampe puas dengan kocek cekak ala anak kos (6000 udah dikasih nambah). Di warung Uma Dewi, aku gep Ivan lagi makan bareng gamer-gamer Foursma : Gustav, Airlangga, Wijaya, ama Anto, “Wess, kuintet gamer pesta. Abis nyakcak grup lain?”
“Nggak, malahan lagi susun rencana ngabas WPS,” Gustav ngomong
“Van, kau ntar klub?”
“Qhe aja! Aku mau GO,”
“GO??” Tegar loading dulu sementara aku langsung ngomong, “Kalo lima ini, GO artinya lain,”
“Ya, tahulah maksudnya GO lawan WPS,”
3 menit kemudian, pesanan kami datang. Baru beberapa suap, HP-ku bernyanyi lagu “Brand New Breeze” OST La Corda D'Oro tanda ada telpon masuk, “Kenapa?”
“An, ntar sebelum ke sana, ke rumah koko dulu di Gunung Agung, ngambil instrumen mereka,”
“Oke,”
“Siapa itu?” Tegar nanya aku
“Re-briefing misi. Ntar aku cuma ngajar sampe setengah tiga. Ada misi ke Gunung Agung,”
“Kak Yogi gimana?” Bagas ngasih ide
Jlema cara ia madakang ci kar klub yen ba dadi senior,
Jam 1 kurang seperempat, aku duluan bayar (4500 tanpa nambah) lalu balik ke sekolah dalam marching pace buat nyusun bahan ngajar klub. Kemudian aku kembali menghadap laptop buat nyari bahan ngajar geometri. SKS (sistem kebut sekejap) nyusun bahan.
Jam 1.05, aku segera naik ke X-1 di atas. Aku memerintahkan anak-anak kelas X dan XI untuk gabung karena aku akan mengajarkan materi tentang Teorema De Ceva. Nasib sial Senin kemarin kalah jack-ass (kalah ngajar, gak ngajar di stater) lawan Ivan dan Yogi. 30 menit teori kayaknya cukup. Sekarang saatnya soal yang langsung dibahas. Tegar selaku veteran pasti bisa soal-soal kayak gini dalam dua detik.
/\/\/\/\/\/\/\/\/\
Jam setengah tiga lebih sedikit, aku mengakhiri klub minggu ini karena aku harus ke sana buat misi dan mengambil apa yang diperlukan di sana. Di parkiran, aku menemui Kahoko Maharani (anak kelasku) sama adiknya, Shoko Pusparini yang secara kebetulan satu kos. Mereka di induknya dan aku di atas. Psst, aku udah sukses macarin si adik
“An, kamu kemana?”
“Jemput ponakan di Mahendradatta lalu anter mereka ke sekolah musik di Kuta,”
“Boleh dua cewek nebeng nggak? Kita ngambil helm dulu di kos,” Kahoko nanyain aku dengan menggoda, “
Mati aku! Kalo si kembar yang masih SD kelas 3 sih berani aku three in one, kalo dua anak SMA ini, lain perkara. Terpaksa pinjam sespan skadron,
“Aku kontak skadron dulu, minjem sespan,” dan aku segera ngebreak ke markas skadron. Di ujung sana, Dwik “Buaya” yang ngangkat radioku
“Ini pangkalan pusat. Ganti,”
“Pangkalan, ini Cruiser. Tolong antarkan sespan ke sekolah. Posisiku di depan lobi. Ganti,”
“Perlu berapa? Ganti,”
“Aku pesan sepasang sespan. Ganti dan keluar,”
Dia segera datang dengan dua sespan. Kemudian aku memaksanya bantuin masang sespan itu. Si Buaya ini minta dibantu pelajaran kimia, padahal aku waktu kelas satu, kerja kuli ngerjain soal-soal tatanama senyawa ionik. Cukup dalam 40 detik, sespan udah aman. Kemudian akupun lepas landas bersama 2 cewek itu.
Pertama ke Gunung Agung, rumahnya Ko Agus buat ngambil alat musik mereka. Di tujuan awal, aku turun. Jelas, sebagai tamu, aku harus mengetuk pintu dulu. Kemudian, Ce Lina (istrinya Ko Agus) keluar dan memberikan 2 buah kotak plastik dan berpesan,”Berikan yang ungu ke Yuno dan yang pink ke Yuni. Jangan sampe ketukar,” lalu aku permisi dan segera berangkat ke Mahendradatta dengan kecepatan 40-60 kph (M 1,0-1,5)
“Gak apa-apa kalo aku menembus M 1,8?” aku menanyai mereka setelah melewati lampu merah terakhir sebelum perempatan ke Meazza Futsal.
“Silahkan saja selama senpai berani tanggung kalo terjadi sesuatu,” Shoko menyahut.
“Tembus kalo bisa,” Kahoko ngomong.
Oke, Here I come, M 1,4. M 1,7. M 1,8. M 1,9. Itu dia sasaran, Pelita Bangsa. Nyalakan rem, tutup throttle, turunkan landing gear (kaki) lalu matikan mesin dan keluar dari motor biar nggak dicurigai. Di depan pintu utama, aku ditanyai satpamnya, “Jemput siapa, mas?”
“Yuni dan Yuno Kartika. Keduanya anak kelas 3. Aku pamannya.”
“Sebentar. Isi dulu buku ini,” dia menyuruhku dan berbalik meneriaki temannya, “Woi, Ndro! Cari Yuni sama Yuno anak kelas 3. Mereka udah dijemput sama pamannya.”
“Ngapain sampeyan yang jemput? Kan biasanya bapaknya,” satpamnya memulai pembicaraan. Namanya Ruli dan kayaknya dia cukup ramah.
“Dia lagi ada kerjaan extra hari ini. Istrinya lagi jualan produk.”
“Sampeyan sendiri sama bapaknya iku ono opo?”
“Aku sepupunya. Kakak kedua bapakku adalah kakek dari si kembar ini.”
“Omong-omong, sampeyan iki kerja opo?”
“Aku anak SMA biasa,” aku merendah
“Dimana?”
“SMAN 4 Denpasar.”
“Wis tah, iki ponakan sampeyan. Hati-hati, mas!”
“Yoo!” aku segera ngacir ke depan tempat mereka menunggu dan segera mengatur mereka. Yuno yang rambutnya dikuncir dua duduk sama Shoko sementara Yuni yang rambutnya pendek duduk sama Kahoko dan aku meminta dua cewek itu buat memangku ponakanku. Lalu aku membagikan kotak yang udah diberikan Ce Lina : ungu ke Yuno lalu pink ke Yuni
“Asuk koq ngajak mereka, sih?”
“Mereka juga les musik di Yamaha Kuta dan mereka tinggal di inang kos aku. Udah, nanti kita ngobrol di jalan. Kalian ngambil kelas jam 3.30 sampe jam 5 'kan?” aku mulai saat menaikkan IAS ke M 0,8.
“Ya! Soalnya kita juga perlu waktu belajar buat kejuaraan berikutnya. Jadi les musik ini sekalian refreshing.”
“Enak, elu berdua pada main musik. Gue cuma punya Il-2 Sturmovik atau San Andreas sebagai hiburan pribadi!”
“I-el dua Sturmovik? Apa itu, Suk?”
“Simulasi pesawat jaman belum merdeka, favoritku. Yang satunya adalah hancur-hancuran,”
“Yuno, kalo nggak salah, papi pernah main pesawat juga 'kan?”
“Pernah juga, tapi main Tom Clancy Hawk. Sayang papi nggak ngasih kita main itu. Dibilang kita belum cukup umur.”
“HAWX!? Seru tuh! Tapi apa daya, laptop nggak memadai. Nasib beli laptop tahun 08.”
“An, bukannya kamu juga pernah main HAWX?”
“Ya, itu bukan laptopku! Itu laptopnya Mikey, asu!”
“Oh iya, Kak Kahoko. Boleh tahu game buat anak SD nggak?”
“Coba Diner Dash atau Rise of Nations. An, COD itu?”
“Si Dharma ama Beton itu yang punya! Bloody hell! Fuso ngandang!”
Aku mencoba untuk tetap tenang sambil terus mencari celah manuver melawan truk Fuso sialan ini. Truk sialan ini benar-benar menyebalkan. Mau open fire, jaraknya berbahaya. Mau ngalah, bisa telat soalnya kecepatannya hanya M 0.7. Mau ngeles, dari kanan mobil pada ngebut, salah-salah akunya yang tamat. Pucuk dicinta ulampun tiba, aku bisa melihat celah dimana battleship keparat ini mati langkah. Saatnya aku melepaskan kecepatan-dewa motorku dan Fuso sialan itu sukses aku tumpas. Sebagai bonus, sopir Fuso itu aku berikan jari tengah (fuck you). Another supercruise in M 1.75 sampai aku mendekati wilayah Kuta. Setelah masuk perimeter kampung turis, aku mengurangi kecepatan ke M 1.25.
/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\
Jam 3.20, kami udah nyampe di Yamaha Music School. Aku markir JABO lalu mencium keningnya Shoko. Di arah jam 11 ada Supra X DK 83X@ D# punya Dharma ngacrok disini. Ngapain dia? Panjang umur, si empunya fighter muncul di sebelah pembom-tempurku.
“Qhe ngapain disini, cok?” dia menepuk bahuku, “Taruhan, dia lihat flakjacket Percasi aku.
“Nganterin 4 orang sekaligus. 2 ponakanku dan 2 cewek yang ngekos di induk dan kebetulan ketemu pulang ngajar. Lah kau sendiri, nyet?”
“Aku nganterin Dina les piano. Kaget? Wajar. Naik yuk” pas dia bilang Dina les piano aja sarafku udah serasa dihajar EMP. Dina les piano? Kupingku torek nih?
“Kebetulan aku mau jalan-jalan di dalam. Penasaran sama isi akademi musik ini. Ketimbang moksa jadi hantu penasaran,” aku segera ke front office.
“Selamat sore. Untuk para pengantar/penjemput murid, kami menyediakan lounge dan perpustakaan yang bebas dimanfaatkan. Kebetulan kami sedang open house. Kalau berminat, bisa ikut kami ke kelas murid itu. Kalian mau kemana?”
Aku milih ke perpus sementara Dharma ke kelas piano-3C tempat si Dina les. Sebenarnya aku iseng-iseng nanyain kabar empat orang yang bersamaku. Yuni di clarinet-2B, Yuno di violin-2C, Kahoko di violin-6A, Shoko di clarinet-5A. Pas dia sadar aku menanyakan 4 orang sekaligus, dia tanya, “Ada hubungan apa sama 4 orang itu?” yang aku jawab, “2 anak SD itu ponakanku, yang klarinet SMA itu ada sesuatu sama aku dan yang terakhir itu kakaknya si clarinettist,” dan aku segera ngeloyor ke perpus.
Di perpus, aku segera mencari rak yang berbau akustik instrumen. Setelah pencarian singkat, aku segera mengeluarkan skill gurita untuk mengambil selusin buku tentang itu, membawanya ke meja yang nganggur, menyalin konten pokok buku itu ke catatan risetku dan menyalakan laptopku untuk mencari bahan tambahan di internet. Petugasnya tiba-tiba menepuk bahuku,
”Kamu mau mendapatkan e-book semua buku disini? Kami punya versi digitalnya. Kamu tinggal membayar sejumlah uang lalu semua e-book disini akan menjadi hakmu. Kamu bebas melakukan apapun dengan e-book itu kecuali menduplikat filenya lalu menjualnya. Itu melanggar hukum,” dan aku segera mengangkat HDD eksternalku tanpa bicara.
“Aku menerima tawaran itu. Copy ke HDD eksternal itu. Apa aja paket yang ada di sini?”
“Kalau mau paket sesuai jenis, ada. Mau paket per buku juga ada. Paket per jenis jatuhnya lebih murah, 15.000 per paket. Paket per buku 4.000 per 20 buku sementara satu jenis bisa mengandung minimal 90 buku.”
“Aku ambil paket Violin, Clarinet, History sama Science sama beberapa paket picisan, judulnya sudah kutulis di sini. 60 k rupiah 'kan? Berapa giga total jendralnya?”
“Semua 72.000 dan ukuran totalnya 2,1 gigabyte. Nanti HDD-mu aku bawa ke meja atau minta di sini setelah jam 4 seperempat,” dia mengulurkan tangannya, “Jancok, belum apa-apa aku udah dikompasin di sini. Demi riset violin dan clarinet, apapun kulakukan.
“Wess, balikin dulu barangnya, baru aku bayar. Kalo terjadi apa-apa biar aku bisa nuntut kamu ke pengadilan.”
“Oke, nanti pembayaran saat barangnya udah balik dalam kondisi seperti saat kita transaksi. Nanti aku kesana jam 4 seperempat,” aku pun balik ke meja dan belum beberapa detik lewat, tiba-tiba Hatsuharu bernyanyi Clarinet Polka tanda ada SMS, “Ntar k RR j 6. Ultah C Lina” dari nyokap. Wadefak! Gimana aku ke Restoran Renon saat motorku ber-sespan dan ada sisa penumpang lagi 2 orang dalam 60 menit? Tak ada pilihan kecuali SMS nyokap “Ma, lagi disuruh anterin anaknya ke Kuta! Plus ada 2 cewek satu kosan yang ikutan”. Baru nulis satu kalimat di catatanku, Brand New Breeze mengalir.
“Kenapa lagi?”
“Gimana caranya bawa 4 orang di kendaraan macam Vario?”
“Kantan..., skadron punya 3 pasang sespan, tinggal pinjam sepasang dan urusan kelar,” nada bicaraku seperti menggampangkan urusan.
“Ya udah, ajak aja mereka,” Nyokap segera tutup telpon “Kunyuk!
Aku kembali melanjutkan riset fisikaku sampai jam 4 seperempat saat petugas tadi mendatangiku dengan HDD di tangannya. Aku segera menarik dua lembar uang duapuluhan, selembar sepuluhan dan beberapa limaribuan dan bilang, “Ambil sisanya,” tanpa menatap si petugas dan HDD-ku udah duduk di meja dengan aman. Malam ini, balik dari Renon saatnya pelajari buku-buku itu. Sekarang cek dulu, siapa tahu file-nya rusak.
/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\
Jam setengah lima lebih lima, duet laptopku yang udah mulai kehabisan tenaga protes minta dimatikan. Turuti saja maunya si Graf Zeppelin dan Kaga untuk dimatikan dan disimpan. Aku mengembalikan buku-buku yang tadi aku pelajari habis-habisan, memasukkan Graf Spee dan Scharnhorst (nama HDD), mengecek keberadaan Kongo, Mysore sama Hatsuharu (nama HP) dan duet Kirov-Slava (UFD), memasukkan Yamato, Bismarck, Littorio, sama Tirpitz (nama kumpulan catatanku) dan segera ngeloyor ke bawah untuk menunggu empat orang itu. Tunggu, kalo nggak salah tadi staf di bawah dibilang aku boleh ke kelas-kelas untuk lihat-lihat. Menurut denah yang di-update setiap pergantian kelas, si Yuno di lantai 2 ruangan Beethoven, Yuni di 2-Mozart, Kahoko di 3-Tchaikovsky, Shoko di 2-Paganini. Keliling ahh..., ke kelas-kelas.
Pertama ke 2-Beethoven. Guru biolanya Yuno kayaknya orang yang bersahabat. Dia mengajar calon-calon violinis dengan cara yang sangat khas Pak Suarya (trainerku saat junior Olympiad). Yaitu dengan membiarkan mereka berlatih sendiri lalu diperbaiki tekniknya sembari latihan lagu yang sama lagi. Harus kuakui bahwa cara ini sangat efektif untuk melatih olympian yang memiliki banyak taktik jitu kalo untuk kompetisi yang bersifat open seperti final Piala Udayana, Indonesian Math-lympics atau kejuaraan yang pake soal essay. Kalo musik, aku belum pernah mendengar ada yang seperti itu melatihnya. GG pak! Salut!
Di kelas klarinetnya Yuni, aku sempat mendengar anak-anak kelas Clarnet diinstruksikan untuk memainkan 'Clarinet Polka' yang aku tahu memiliki level kesukaran yang jauh diatas rata-rata. Kalo nggak salah dengar sih Shoko sempat main lagu itu saat weekend sebelum libur. Dibilangnya itu mau dia ambil buat ujian naik tingkat. Apa artinya jika siswa dengan level skill tinggi mengambil suatu ujian yang penilaiannya berdasarkan kesukaran ujian itu? Clarinet Polka adalah lagu dengan kesukaran dewa. Dia tipenya Pak Bambang (trainer tim Olimpiade senior Denpasar). Tipe yang belum apa-apa langsung memberikan killer blow tapi jika dilihat jagoannya sudah pada depresi, dia langsung memberikan tips-tips jitu dan solusi shock therapy tentang bagaimana menyelesaikan itu.
Di 2-Paganini, aku sengaja berlama-lama disini. Tapi guru klarinetnya (bule cing!!) langsung menangkapku.
You are the motorized militant who kissed Miss Pusparini, right? Are you her boyfriend?” dia asal nyerocos, “Apa dia ngeliat flakjacket aku?
What's the problem?
You know that she is the best clarinettist I've ever taught? Even the level 8 student never achieved level 4 exam score as high as her. And she is quite shy. Tell her to socialize more with her classmate at school,
If you don't mind, back to your class, please,” aku mencoba stay coolTell it to your wanna-be father-in-law,” aku udah serasa syarafku digebukin Tsar Bomba. Si doi mah lebih parah, “What the fuck!? He dare to embarass my girl among her fellow clarinettist? You should thank god I didn't have permission from my superordinate to kill you,
Class, this guy is Shoko's boyfriend! How can an introverted girl have a boyfriend from Motorized Army?” ini guru beneran minta ditampol, “Guru bangsat ini minta modar! Kleng, kal ngeling uba ne Sho-chan,
Herr Heissen, don't make him gone mad. I just saw his weapon from his bag,” satu orang muridnya sadar aku bersenjata
Class, remember that in mid-November we'll have an open show. I want you to perform at least one of these songs with your pair from different classes,
Dia mengajari murid-muridnya dalam English. Taruhan berapa aku mau kalau dia baru sebentar di Indonesia. Gayanya seperti Pak Su dengan memberi lagu yang tingkat kesukarannya terus ditambah sedikit-sedikit dan akhirnya mencapai kesukaran maksimal. Kalo macam matematika yang mungkin menaikkan level dalam sekali pelajaran sih bisa saja. Kelas musik bisa memberikan beberapa lagu sekali pelajaran? Hanya dalam beberapa sirkumstansi spesial aja bisa gitu : entah lagunya pendek, atau emang muridnya jenius semua (semena-mena e'-e', waka-waka o'on. Minjem gayanya Pak Mendung). Kalo itu memang perkaranya, nilai ujian level ini pasti psikopat semua.
Mungkin pada bingung, darimana aku tahu level kesukaran suatu lagu padahal aku bukan musisi. Jawabannya sederhana saja : setiap dengar suatu lagu, aku langsung simulasikan kecepatan perpindahan nadanya, gaya memainkannya, transisi tempo dan rata-rata jangkauan perpindahan nadanya. Ini asal bikin algoritma saja. Biasanya kecepatan menurunkan kendali, bukan? Itu dasar aku menyusun algoritmanya : kecepatan kali kendali pada suatu orang relatif sama dalam artian selisih kecepatan kali kendali untuk setiap kecepatan tertentu tidak akan banyak berubah.
Kelas berikutnya adalah kelas violin-nya Kahoko. Gurunya sih standar dengan gaya mengajar yang sama saja dengan guru musik kolega Pak Suarya, Pak Tantra (benernya sih dia guru matematika yang hobi musik). Dia mengajar dengan memberi satu lagu secara acak lalu memberikan lagu yang lain setelah dirasa semua bisa. Ini guru tipe yang hobi eksperimen dengan kesukaran lagu.
Dulu aku sempat berurusan secara tidak sengaja sama guru ini saat dia melatih anak-anak paduan suara SMP pas aku persiapan buat kejuaraan Foursma Games. Biarpun aku lagi dicekoki soal-soal brutal, tapi otakku cukup kuat untuk mengolah algoritma cara mengajar guru di sebelahku. Pas aku dikasih break sama Pak Ketut, aku iseng-iseng nonton latihan ini.
/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/
Flasback saat aku SMP
“Oke nak. Pak cari soal lagi. 10 soal anak hajar dalam tiga jam. Pak perlu tiga hari libur non-stop untuk 10 soal ini. Is that song annoying for you?” Pak Ketut ngacir ke ruang guru, “The choir really sucks for me,
Not really. But strange for me,” aku menjawab tentang lagunya yang emang aneh
Stay here. Akhirnya keluar juga soal pembunuh yang pak dari 3 minggu nggak ketemu langkah pertamanya,” “Mati cang jani. Baanga Pasupati uli Mr. Tommy O,
Perasaan tadi lagunya lain tapi liriknya sama. Mendingan samperin gurunya. Toh anak-anak paduan suara baru istirahat.
“Permisi, pak. Saya penasaran dengan lagu yang dari tadi pak ajukan untuk latihan paduan suara,” aku mendekati guru musik mereka
“Ini? Lagu 'O Moaning Lady'. Aneh ya?”
“Nggak juga. Tapi dari tadi nadanya berubah terus. Apa tidak melanggar aturan?”
“Orang penilaiannya berdasarkan pada kreasi aransemen lagunya sebesar 20%. Mau gimana? Tadi kamu yang bikin Ketut keteteran ya?”
“Itupun aku sudah buang waktu dengan iseng-iseng manfaatin partitur bekas yang belakangnya jadi orat-oret. Bagian depannya buat iseng-iseng aja bikin lagu padahal nggak tahu musik,”
“Boleh coba lagunya? Siapa tahu hasilnya lumayan,”
Tahu apa yang terjadi? Anak-anak paduan suara suka sama aransemennya!! Apa-apaan itu? Aku juga nggak percaya. Diakui juga sih sama gurunya kalo itu adalah aransemen yang sangat hebat. Nada tinggi di lagunya keliatan jelas dan kuat sementara nada rendahnya dibuat dalam dan lembut. Pak Tantra ini berani taruhan kalo dia bakalan menangin 'Gold Arrangement'. Kita lihat saja, siapa yang juara. Ini apa SMP 3? Denger-denger sih paduan suara SMP 3 jago juga dengan pelatih dari gereja. Penasaran aku, emang bisa orang gereja ngajar nyanyi orang non-kristen? Bukannya aku SARA, oke.
Hasilnya adalah perak kekompakan, perunggu koreo, emas harmonisasi, emas tenor, perak bass, perunggu sopran, perak alto, emas aransemen, perak dirigen, perunggu accompanist dan emas komperhensif. Performa paduan suara SMP 2 diakui luar biasa oleh 3 dari 7 juri yang terlibat. Pas wawancara dengan media, Pak Tantra mengakui kalau rahasia aransemennya terletak pada seorang matematikawan yang sedang menjalani pelatihan saat paduan suara latihan jelang kontes. Ketika diberitahu kalau peraih medali emas akan dilibatkan dalam tim Bali ke pusat, aku langsung semaput setelah Foursma Games (kompetisinya samaan).
End of flashback
/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\
Jam 4.50, aku sadar kalo jam enam kurang sedikit udah wajib di Renon dan Kuta - Renon dengan 4 orang di motorku akan sama dengan 55 menit belum termasuk refueling kalau-kalau sisa bahan bakar sebelum Renon udah lewat merah alias super kritis. Nggak ada waktu buat balik ke kos. Untungnya aku udah bawa baju ganti (Polo shirt hitam berlogo ADTF) dalam tas laptopku. Tinggal ganti baju lalu SMS mereka biar ganti baju (kalo bawa). Setelah aku turun ke parkiran motor, aku nongkrong di atas JABO dalam badan terbungkus jaket. Shoko duluan turun, tampangnya kurang sehat. Taruhan, tadi dia habis dikerjai sama bule keparat itu,
“Sayang, tadi aku dikerjai Herr Heissen. Dibilang aku pacaran sama tentara di depan temen-temen sekelas. Padahal dia nyomblangin aku sama Rudolf,” dia nangis di pelukanku “Buset dah, Heissen quontol. Elu ngegep dia gini sama gue, gue pastiin itu adalah hal terakhir yang elu lakuin karena ada Drago di sini,
“Sudahlah. Aku tadi dijahili sama si Heissen itu saat iseng-iseng loiter ke kelasmu. Kau udah ganti baju?”
“Tadi pagi papa SMS buat ntar malam ke Restoran Renon jam enam,” dia ngomong itu artinya udah, ”Koq kementulan?? Apa Pak Gun cenayang?
“Oh? Kalo gitu, oke. Aku juga disuruh menemui orang di Renon. Entah apa tujuannya, yang jelas aku harus di sana sebelum jam enam,” berikutnya Kahoko datang dan ngomong, “Kamu apakan adikku?” dan itu memberiku pukulan setara bom Hiroshima “Tewas aku. Kakaknya ada di belakang tengkuk. Mana sekelas lagi,
“Kaho-nee! Gurunya keterlaluan. Aku dituduh nyeleweng,”
“Ngapain kamu nggak tindak dia seperti kamu biasa ke anak-anak?”
“Dengar, jing! Aku gak mungkin open fire saat itu. Tidak ada konfirmasi dari tower. Setor nyawa aku ngabisin dia tanpa ijin dan si Heissen datang,” aku memberikan pukulan telak ke mekanisme pembelaannya Kaho
Yoo, militant physicist! Heading home with your girl, playboy?
Not yet. I must wait for my twin nieces,” aku menjawab dengan tangan masuk tas
Oh, I see. See ya!” dia loncat ke Mercedes DK 2XX CΔ dan aku mencatat pelatnya. Siapa tahu dapat kesempatan nyembur kalo palu jangkrik, “Say your prayer once I spot you,
“Itu guru klarinetnya?”
“Persis!” aku melihatnya sambil mengaduk palka sayap buat ngambil Drago
“Tembak aja dia, kenapa?”
“Gila lu, tot! Aku open fire, malamnya aku diringkus sama polisi,” ketika aku mau mengokang senjataku, Yuni dan Yuno langsung loncat
“Asuk, bisa anterin ke Restoran Renon nggak?”
“Kebetulan aku disuruh kesana juga. Ayo berangkat,”
/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\
Akupun segera menyalakan JABO dan setelah mereka aman di motorku, aku mulai menambah kecepatan ke arah kota. Perjalanan dari Kuta ke pusat Kota Denpasar normalnya sekitar 45 menit. Tapi, berhubung kawasan ini lagi bersih dari macet, 30 menit pun bisa dalam M 1.8-2.0 alias supercruise. Olala, aku merasa tidak enak dengan razia sore ini. Tiba-tiba, saat airspeed sudah M 1.3 si polisi langsung mengarahkanku ke pinggir,
“Selamat sore, mas. Boleh lihat SIM dan STNK?”
“Lisensi dan registrasi, barang biasa. Sebentar, mana dompetku?” aku mengaduk-aduk tasku untuk mencari dompetku
“Itu di saku belakangmu?” Shoko menyadari sesuatu di pantatku
“He?” aku merogoh saku pantatku dan menemukan barang kulit sintetis di dalamnya. Ini barang yang aku cari. Di dompetku aku biasanya menaruh lisensi mengemudi C dan registrasi atas nama nyokap (FYI, aku mendapat JABO saat tahun senior di SMP sebagai hadiah juara OSP Junior)
“Oke. Tahu kesalahannya, mas?”
“Ya, aku membawa muatan melebihi ketentuan untuk lisensi C. Semestinya ini buat berdua dan tidak boleh membawa kereta samping,”
“Bukan. Motormu bersenjata. Bisa lihat ijinnya?,” dia menunjuk ke bagian depan motorku
“Ini kartu anggota ADTF tim 2,” aku memperlihatkan kartu berlogo anti-alay
“Waduh, ADTF divisi pemburu berpangkat kapten. Kita teman, mas. Jangan tembak. Terimakasih atas kerjasamanya dan hati-hatilah di jalan,”
“Sama-sama!” aku melambai menjauh
Sisa perjalanan diteruskan tanpa rintangan berarti kecuali rombongan geng motor parade itu disebut rintangan yang sebenarnya bisa aku rontokkan dengan serentetan panjang dari .30 sama .50 dari JABO. Ya, mereka aku rontokkan sekaligus dalam satu serangan head-on dari jarak 300 meter di jalan raya. Mereka nggak bakalan berani retaliasi karena di sespan ada turet battery twin .22 yang siap menembak ketika aku menekan tombol kecil di pangkal tuas rem. Untuk menambah kekuatan, di ekor aku memasang empat .16 bikinan skadron dan masing-masing satu .30 di bawah lampu sein. Apa-apaan ini? Mereka gila dengan memburu ekorku dan aku membalas dengan menyemprotkan 2 dual .22, dua .30 sama quad .16 yang cukup untuk membersihkan jalurku dari geng motor XTC cabang Denpasar.
Mereka menyerang en masse sebagai retaliasi, head-on. Son of a bitch! Aku segera menghamburkan ratusan butir battery MG .30 sama .50 dan kanon 20mm. Beberapa ledakan dari amunisi kanon tepat menghantam mesin musuh dan mereka hancur berantakan. Sambung dengan jurus wiper (jurus untuk menyapu area yang besar dengan manuver zigzag).
“Kenapa?”
“Ada lusinan alay! Angkat tabir di depan sespan kalian! Eat this, motherfucker!”
“Masih ada?”
“Aku mencoba kabur! Pegangan!!” aku segera meremas tenaga ke 80%.
Jumlah musuh yang besar tidak ada artinya jika dibandingkan dengan jumlah munisi yang aku semburkan. Mereka pada tewas karena serangan besar-besaran dari pilot kawakan ADTF. Itu akibat kalau berani macam-macam lawan ace of aces di ADTF, alay anjing!
Nyampe di Renon jam 5.57 jamku (kira-kira jam di Klungkung jam 5.53) dan aku melihat Terios DK 14&X M$ datang bersama Rush DK 8XX CX. Aku juga menemui mobil APV DK 5$X Q$ berisi Pak Gun sama istrinya. Ono opo iki? Tanpa tedeng aling-aling aku juga menemui fighternya Andi 'Sule', Dwik 'Buaya', Angga 'Macaque', Pasek 'Kupit', Udik 'Julir', Agus 'Bos', Karmana 'Beton', sama Ganes 'Brian' konvoi ke sini.
“Tumben! Pada ngapain? Siapa ulangtahun?” aku nyamperin skadron
“XTC terbantai dan Vario 29X# M% kau terlihat menjadi algojo. Kau MVF dalam pemberantasan geng tawuran sekota. Barusan dikirim duapuluh juta ke kas kita,” Macaque jelasin semuanya
“Sini, An,” nyokap memanggil
“Kenapa? Itu skadron mau pesta, baru nyapu preman atau alay sekota,”
“Tante, dia adalah algojo yang sekarang kita rayain sebagai raja pemberantas alay,” Buaya setengah teriak
“Lho, si Andika ini jagoan motor?” Ko Agus kaget
“Si Andika 'Psycho' ini hanya membantai jika dia berani menjamin itu alay atau geng motor. Kalo dia pasti nangkap musuh yang tepat, keluar skill tiga : extreme maneuver and long deflection burst,”
“Psycho? Apa dia kalo berburu selalu disiksa musuhnya?” Mokun (adik aku) nyeletuk
“Malah dia disinyalir kena sindrom XYY 'Jacob' dari sel sperma bapaknya,” seseorang dibelakang ngomong XYY berarti dia anak kelasku, jelas bukan Kaho karena yang ngomong ini cowok. Kalo bukan Beton atau Macaque lalu siapa?? Aku berbalik dan melihat dua sejoli dan teriak, “What the hell!?” ngeliat Dharma sama pacarnya kesini sama keluarga mereka (Siladharma sekeluarga sama Budi Sotya sekeluarga). Taruhan, mereka udah direstui. Tapi nikah beda agama? Hanya masuk dengkul kalo di luar negeri. Dengar-dengar sih mereka pernah blow job (fellatio!), aku aja belum seberapa mainnya.
Setelah semua ngumpul, kami masuk ke D'Cost. Aku masuk dengan menggandeng Shoko (prikitiu) dan itu mengundang tanya dari Ko Agus, “Kamu udah jadian sama cewek itu?”
“Bah! Ini alasan dia jarang pulang. Punya kabak di sini. Dia kan cewek yang di bawah itu?,” bokap nyerocos “Kuharap dia sadar sama nadi pelipisku yang dah duluan berdenyut keras,
“Oom, aku ada barang buktinya,” Dharma mengangkat foto 3R yang kayaknya dia ambil waktu aku makan bareng dia di warung samping HR
“Barang kriminal kudu dibagi biar dosa nggak ditanggung sendiri,” bokap ngajak berantem
“Besok urusannya runyam di kelas, tod,” aku mengokang MP-7 dengan kaki
“Sudah, sudah. Mari kita kembali ke jalan yang benar.” Pak Gun menyampaikan pengumuman unik
Pesta dilanjutkan. Sho-chan membuka jaketnya dan dia memakai blus kasual tanpa langan berwarna pink muda di balik jaketnya. Anjirr!! Di balik polosnya, ternyata dia menyimpan sedikit sisi nakal. Skuadku menatapnya tanpa berkedip. Cocok sih, blus tanpa lengan itu memperlihatkan tubuh mungilnya yang sebenarnya seksi. Terguncyang aku, bhangshadd!!
Nothing more or less kalau pesta ultah ala peranakan tionghoa. Aku hanya makan sedikit, soalnya badanku sudah koplak gara-gara misi jarak jauh tadi.
Setelah acara pesta selesai, Ko Agus mendapat ucapan selamat ala ADTF (di stater)
“Eda baang leb!” Macaque teriak
“Ingetang batisne! Batis!” Andy memerintah seseorang untuk mengamankan kakinya
“Cang bakat batisne!” Dwik sudah menguncinya
“Jani, Sek!! Anggo batis ci!!”
“Heaa!!“
“Waow!! Sadis banget. Siapa penggagasnya?” Ce Lina bertanya
“Semua adalah pencetusnya. Ini cara kita mengucapkan selamat ultah,” aku jawab ngasal
"Sebenarnya ada yang lebih sadis lagi. Diikat di pohon lalu disiram air comberan." peduli amat siapa yang ngomong di belakangku
Setelah skadronku selesai nge-Bird Day, aku menemui ortu yang memberiku plunder dalam satu kresek besar. Sepintas lalu, isinya sih roti. Yang lainnya itu urusan nanti.
“Wei, eda baang Kupit leb!!” giliranku yang balas dendam,
“Bakat ci jani,” Buaya meringkusnya, “Enggal, cuk! Limane bakatang!”
“Pasrah gen ci!” Sule menguncinya
“Jani cang algojone!” aku segera mengeksekusi barangnya dengan kaki kiriku, “Pakpak ne!!”
Akhir misi : aku balik ke kos dengan plunder yang aku simpan di ruang kargo B (boks cantelan di ekor JABO). Plunder dari Ko Agus sudah dilebur ke plunder dari ortu.

03 Desember 2011

MOS/OSPEK = makan siang senjataku


Warning : cerita ini murni fiksi yang menggambarkan kebencianku terhadap bullying apalagi yang terstruktur dan terlindungi seperti ini. Aku mengambil setting di sekolahku dengan sensor ekstensif karena hanya itu yang kepikiran. Semua alutsista yang ada di sini murni fiksi/modifikasi dari yang sudah ada.

Tahun kedua. Kali ini adalah misi pengeboman MOS dan OSPEK sekaligus (mumpung aku punya kepentingan sama dua hal yang paling aku benci dalam dunia pendidikan Indonesia ini). Misi kali ini merupakan misi bayaran dimana aku disuplai uang dua juta setengah bersih. Aku kebagian tugas membuat desain dan cetak birunya
Minggu pertama libur semester genap aku habiskan merancang dan menyempurnakan cetak biru roketku. Selama awal liburan ini, aku menghabiskan enam jam sehari kerja pada desain roket. Di sela-sela itu, aku juga belajar buat OSN (siapa tahu lolos). Weekend itu, aku di-SMS sama J kalo Fours Math Squadron terbantai (Van-I sama J yang setangguh itu aja bengep, apalagi aku). Ini pertanda kalau aku dipanggil untuk menyelesaikan misi ini.
Minggu berikutnya aku habiskan membuat cetak biru sama prototip roket itu. Aku bekerja empatbelas sampai enambelas jam perhari pada disain roket ELR (Education Liberator Rocket).
“Aku sudah berhasil menyelesaikan order. Sekarang aku pesan dua buah pipa PVC yang setengah sama tiga perempat inci. Jangan lupa kerucut kaca yang diameternya setengah inci dan propelan sama isi kerucut yang diperlukan,” aku memesan barang ke tim transportasi melalui IRC
“An, bikin apa? Tiga minggu di kamar terus,” bokap nyelonong ke kamarku
“Roket. Ada pasukan pro-kemerdekaan pendidikan memesan desain roket. Entah apa maunya, yang jelas, kalau ini rampung, weekend berikutnya didrop dua juta. Pake aja bayar kos. Abis ini, aku dibebaskan dari semua jerat hukum kalau-kalau ada sekolah memidanakan ini. Karena tugas hanya bikin cetak biru dan mereka yang bikin, bisa saja mereka ngaku kalo itu rancangan mereka,”
“Mau masuk Hamas?”
“Kecuali tuntutan desainnya 50 kilo ke atas. Ini hanya 4,4 kilo,”
“Siapa di sana, Alex?” Agen James bertanya dari ujung sana
“Bapakku. Bisa kirim sebelum Senin?”
“Siap!”
Mereka menemuiku di rumah untuk mengambil barangnya sekaligus menyerahkan uangnya. Untungnya yang terima duit itu bokap yang pikirannya lebih liberal, jadi aku tenang tanpa bacod nyokap yang jelas-jelas menentang rencana setanku. Alasannya sih aku juga tahun lalu disiksa MOS, jadi untuk apa berupaya menghentikan? Bodo amat. Selama sama-sama bisa tutup mulut, semua aman terkendali.
Sisa seminggu liburan aku manfaatkan untuk istirahat total. Uang kos udah datang, sisa 750k buat nutup uang sekolah dua bulan dengan sisa 140k. Dan hari Jumat, aku minta diantar ke ibukota buat mengawasi instalasi roket di halaman kosku. Hari Sabtu, tim instalasi udah datang dan memasang roket-roket itu di tempat yang telah ditentukan berdasarkan hasil observasi udara. Aku hanya dijatah 50 roket untuk sepanjang acara MOS ini untuk SMA-ku. Aku mengatur biar 5 roket per salvo (10 salvo untuk MOS kali ini)
/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\
Hari Minggu sore, aku mendatangi sekolah yang hanya 75 detik jalan kaki dengan menyaru sebagai warga sipil sekaligus memastikan aku di kelas mana setelah penjurusan. Aku dapat kelas IPA-6 (kelas yang digadang-gadang kelas terbaik seangkatan). Setalah pasti aku dapat kelas mana, aku cari-cari junior baru, siapa tahu ada yang cantik. Sepintas lalu, aku melihat seorang gadis turunan Jepang. Untuk memastikan, aku segera mencabut monokuler dan itu dia, gadis berambut pendek dan berpostur mungil-langsing. Cantik juga cewek ini, incar dia!
Malamnya, pas aku mau keluar beli makan malamku, tiba-tiba Kahoko mencegatku
“An, bisa bantuin adikku nggak? Dia besok mau MOS dan belum beli keperluan buat besok. Tolong beliin dia apa yang aku masukkan list di sini,”
“Beri aku dua menit setengah. Masa aku keluar perimeter komando wilayah tanpa helm dan jaket? Dicokok polishit, tewas,” aku segera berlari ke kamarku dan ganti celana (dompetku yang isi lisensi C udah masuk) lalu memakai flakjacket Junior Eastern Math-Olympian dan menyambar helm
“Kak, bisa bantu beli ini, nggak?” anak kelas 1 menemuiku di tangga, memberiku secarik kertas dan sejumlah uang
“Ini? Oke. Kebetulan sama dengan apa yang dipesan cewek di induk,”
“Udah siap, An? Ini uangnya,” Kahoko memberiku sejumlah uang juga. Niatku makan malam, malah kena job nolong adik kelas.
Aku segera menyalakan JABO dan melesat ke supermarket yang agak jauh. Dengan cepat, aku memindai semua slot belanjaan. Kemudian aku menemukan apa yang aku perlukan kecuali Serena Snack sama susu bantal. Semoga di CF sektor Gunung Agung atau di Bli Gusti ada. Kalo nggak, tamat riwayatku. Pas bayar di kasir, si kasir ini ngira aku ada hubungan sama peloncoan.
“Siapa yang MOS? Koq belanjanya tipikal MOS?”
“Adik kelasku yang mau dibantai. Aku udah tahun lalu. Nasib jadi anak senior di kos-kosan,”
“Panitia MOS?”
“Lebih bisa disebut tero. Berapa semuanya?”
“84 ribu,”
“Ini uangnya dan aku minta struk belanjanya,”
Setelah semua rampung, aku segera berangkat ke CF cabang Gunung Agung. Jackpot! Serena Snack sisa tiga. Aku segera menggapai dua diantaranya sebelum yang lain duluan. Yang menggapai bungkus ketiga adalah Pak Dirga (Guru Agama). Susu bantal aman. Aku melihat jam sudah setengah sembilan. Perutku udah nggak mau diajak kompromi lagi. Setelah semua aman, aku segera lepas landas ke wilayah komandoku. Sebelum aku menurunkan logistik mereka, aku mengisi tenaga dulu. Biasanya aku makan di langgananku di nasi campur belakang HR. Satu-satunya warung yang masih buka hanya Chinese Food. Makan di sana nasi goreng satu porsi sama soda sebotol hanya 8k. Abis bayar lunas, cepat balik ke kos lalu serahkan barang pesanan mereka.
Setelah mereka mendapatkan pesanannya, aku segera mandi dan menyalakan laptopku, buat main San Andreas (cari pelampiasan). Jam 11, aku udah ngantuk berat dan segera tidur.
/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\
Pagi jam setengah tujuh, aku berangkat sekolah dan segera mencari bangku yang cukup baik (di belakang dan berada dalam posisi head-on lawan guru). Di lapangan, aku melihat beberapa siswa sedang menjalani sesi pembantaian gara-gara telat. Remote control roket ada di jam tangan. Roket-roket itu semua aku set agar mengebom lapangan depan sama lapangan parkir utama. Tinggal tunggu kapan mereka macam-macam dan selamat menemui ajal. Aku memilih bangku dekat jendela agar bisa memantau MOS sekaligus menentukan kapan serangan roket pertama.
Jam 8.45, break pertama, aku memantau ke lapangan. Gadis Jepang itu namanya Rini dan dia jadi korban bentakan seniornya. Bangsat!! Gadis selugu itu yang dijadikan korban. Aku tak akan sudi melakukan hal serendah itu. Sebelum aku menekan tombol rahasia itu, aku mengatur posisi dan jarak aman. Fire One!! aku menekan tombol berhuruf timbul 1 untuk serangan ke arah lapangan parkir. Lima roket terlihat dari arah tenggara pertanda serangan gelombang pertama mulai. Aku melihat efek kerusakannya sudah merasa seperti naik ke langit ketujuh. Ketika aku mengecek pesan radio yang ditransmisi ke HP, aku membaca,”Alex commenced first strike to 1.Southwest High!”, “1.Northeast High was being bombarded by James,”, ”Sam-led Stukas raided SY Academy,” dan banyak pesan yang intinya MOS kali ini benar-benar diobrak-abrik. Kementerian udah kita susupi agar mengira ini aksi dari orangtua murid yang tidak terima anak-anaknya dijadikan mainan oleh kakak kelasnya. Pulang sekolah, aku makan siang di warung Bli Gusti lalu segera ngeloyor ke mabes EFA.
Di Forkom OSIS se-ibukota (ada mata-mata aliansi di sana sebagai tetangga dan dia memasang alat penyadap), terjadi kericuhan
“Gimana di 3.South High?”
“Dibom secara konstan!”
“1.Southwest?”
“Lima roket sekali serang pagi ini,”
“1.Southeast?”
“Serangan kontinu sepanjang pagi,”
“Perlu dibawa ke kepolisian?”
“Ada surat! Isinya melarang kita meminta bantuan kecuali mau semua SMP-SMA-Universitas se-Indonesia dibom sampai hancur berantakan,”
“Kalau kita melanjutkan, serangan udara akan terus dijalankan. Kita menghentikan, karakter manja anak baru gak bakal hilang. Minta bantuan, sekolah kita dibom,”
“Pasti ada solusi. Kita akan berunding dengan pemimpin wilayah ibukota. Umumkan melalui semua koran dan media massa bahwa kita mengundang para penyerang agar berunding masalah MOS kali ini di kantor DPRD. Tunjukkan pada mereka kalau kita intelek, bukan barbar seperti mereka,”
Di Pangkalan EFA
“Gimana? Sukses?”
“Lihat tampang OSIS yang gahar sama adik kelas, kita bawain roket kosong mereka langsung pucat seperti mayat,”
“Ya iyalah!! Sekalipun kita, kalau udah dibawain bahan peledak siap meleduk di depan hidung juga pasti ciut!”
“Woi! Ada kabar dari mata-mata kita di forkom OSIS. Mereka mau kita bicara baik-baik urusan ini di gedung parlemen kota. Bahkan pers diundang untuk memuat surat pembaca mereka,” aku melemparkan sebuah kaset rekaman penyadap ke depan untuk diputar
“Persetan!! Jangan diambil peduli. Besok kirim surat ke BP kalo kita hanya mau bicara jika mereka bersedia menghentikan kegiatan awal tahun ajaran selamanya. Adolf, kau bicara di iklan TV buat propaganda bahwa serangan ini hanya untuk membuktikan bahwa kegiatan orientasi yang kita kenal selama ini tidak berguna,” Agen Agus ogah mengurus ini (emang tipenya dia yang biasa main kasar kalau misi kayak gini)
Agen Adolf begitu disuruh propaganda langsung ngeloyor ke cubicle-nya dan menyusun naskah pidatonya. Makanya aliasnya Adolf, kalau dia pidato, gayanya der fuhrer ditiru.
“Ada gagasan tentang teror berikutnya?” Albert bertanya lewat pengeras suara
“What about nukes? Alex, how much do you have?” Simon berteriak
“Only 75 kilos and I'm about to use 22,5 as payload,”
“Give the remains to us. In total, we have 70 tonnes,”
“Kita dikatai barbar sama forkom. Mau diapakan, nih?” aku meneriakkan hasil rekaman intelijen
“Sam!! Keluarkan Stuka untuk menyerbu pangkalan musuh,”
“Ngapain aku?! Smith, kamu sama Alex serbu aja pake satu-sembilan-nol kalian!”
“Gila kau!! Aku gak nerbangin 190 yang MRCA!! 109 yang JABO iya!” aku teriak mengatasi kericuhan di hall kantor EFA daerah
“Sama aja! Bom mereka! Titah diturunkan” Jack memberikan titah, “Cacing bulukan!
Aku segera balik buat nyusun siasat baru nyerbu sekolahku sendiri. Kalau mereka berani menyelidiki, telan timah panas dari MP-5 Carbine. Rampung nyusun siasat, aku segera scramble untuk menyerbu kantor forkom. Bf-109 yang dilengkapi dengan guided-bomb dan beberapa AAM. Segera saja, aku ada di ketinggian 1400 mdpl dan siap ngebom forkom. Kalaupun ketahuan, tak seorangpun mengira itu aku karena pesawat tempur EFA biasanya Fw-190 atau F-86 (cuma aku yang memakai 109 sama MiG-17). Ketika avionik pesawatku telah memberikan deringan tanda bom telah mengunci sasaran, aku segera melepas dua bom dan melakukan inverted position untuk memantau kerusakan yang dihasilkan GBU-82.
“Alex, this is Herlina! Direct hit! Target on fire!” Herlina bertugas di tower komando
“Heading to airbase! Mission over!”
/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\
Sorenya, junior yang kos di bawah berbincang seputar serangan roket itu. Mereka tampaknya yang disalahkan atas serangan roket ini. Shoko Pusparini (Si Rini, junior yang kuincar) nangis malahan gara-gara ini. Kahoko tidak terima adiknya dibentak seperti itu langsung lapor ke aku
“An, bisa minta tolong nggak?”
“Apa masalahnya?”
“Sho-chan habis gara-gara serangan roket dari kawasan ini,” dia melaporkan apa adanya “Gawat, aku lupa memasukkan faktor cari-cari kambing hitam yang pasti mengincar orang paling lemah sebagai pelaku dan biasanya yang paling lemah ini gak punya kekuatan buat membela diri,”“Siapa pelakunya? Biar aku bisa siapkan MBK 75 yang mengarah ke lapangan parkir,”
“Ya mereka semua!”
“Besok akan kubuat mereka kapok dengan roket berkepala nuklir. Ingatkan aku agar memasukkan kepala nuklir malam ini,” aku berkoar, “Padahal rencananya mau di-BM sebelum serangan aliansi. Scud berisi nuklir akan membereskan mereka,”“Oh iya. Bantuan lagi dong. Buat beli keperluan besok,”
“Oke.....,” aku ngeloyor dengan hambar, “Ahh, Crap shit! Besok akan ada serangan besar-besaran dengan 15 roket berkepala nuklir,”
Tugas belanja hari ini : sebungkus kacang, dua jenis minuman, sebongkah roti (dia minta isi selai), biskuit energi, dan sepaket alat prakarya. Aku tahu kemana perlu mencarinya. Alat prakaryanya kupinjamkan saja punyaku. Kalau disita, kubakar mereka hidup-hidup.
Malamnya, setelah Shoko tenang dan logistiknya siap, aku segera mengganti kepala roketnya dengan micro-MIRV. Hulu ledaknya total seberat 0,1 kilo uranium, setara dengan 2 ton TNT kali 5 hulu ledak per roket. Lebih dari cukup untuk sekedar meratakan gedung utamanya. Malam itu juga, aku menyetel satu roket per salvo agar meledak di center kegiatan dengan sangat sengaja. Bom dengan daya hancur setara Stuka satu flight dalam roket berdiameter 1,91 senti. Hihihihii.. (ketawa setan bertanduk tujuh), makan bom nuklir spesial dariku, Panmos anjing!
/\/\/\/\/\//\/\/\/\/\\/\/\/\/\/\/\/\/\
Esok pagi, Selasa 14-07-09. Serangan fajar dariku yang terbangun lantaran keributan dari 1.Southwest (mereka kayaknya kena hukuman fisik dan ditambah teriakan gahar dari TOA). Aku segera retaliasi dengan 5 roket ke arah lapangan depan. Melihat dentuman besar dari arah sekolah, aku pura-pura nggak tahu apa-apa. Jam tujuh kurang sedikit, aku segera ke sekolah seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Ternyata, sekolah tetap jalan seperti biasa. Mengenai apa yang terjadi tadi mah sebodo amat.
Aku terus memantau lapangan untuk memastikan semuanya aman. Lalu aku bersiap untuk mendengar kata-kata gahar. Aku segera mengeluarkan UCAV yang bisa aku kendalikan dengan tangan kiriku (jempol mengatur pitch dan roll, jari telunjuk dan tengah untuk yaw, dan jari manis sebagai thrust). Layarnya nyambung ke lensa kiri kacamataku secara translusen (aku bisa melihat apa yang tepat di depanku secara nyata sekaligus menerbangkan UCAV. Break kedua, pas mereka ada di lapangan buat pembantaian. Serangan roket aku alihkan jadi pengeboman dari UCAV. Serangan udara ini memberikan efek yang mengejutkan sekaligus menakutkan bagi para peserta MOS. Buat ortu siswa baru mah kurasa itu katalis buat menggalang dukungan pelarangan MOS karena tau MOS entah bakal bikin anaknya mati diroket atau bijimane, persetan.
/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\
Pulang sekolah, aku diberi koran di warung (pengelola warung depan kos). Aku membacanya sambil makan dan aku duduk membelakangi etalase
MOS 2009 Terancam
Selama dua hari belakangan, MOS di SMA se-Indonesia terus menerus dijadikan target pengeboman yang dilakukan oknum asing. Kuat dugaan pelakunya merupakan sindikat. Saat ini, jumlah korban telah menembus 700 orang luka-luka di seluruh Indonesia dan diprediksi akan meningkat dengan adanya OSPEK di universitas.
“Kami mempertimbangkan ultimatum dari Education Freedom Alliance yang menuntut pengharaman kegiatan awal tahun ajaran atau seluruh sekolah akan diserang dengan senjata nuklir,” sebut jubir kementerian
Sementara itu, orangtua murid juga menuntut penghapusan MOS/OSPEK ini. Mereka menghendaki kegiatan seperti itu dihapus secara mutlak di seluruh Indonesia. Suara mereka diwakili oleh jubir EFA (Education Freedom Alliance) yang mengancam peperangan skala penuh
“Tujuan kami jelas, hapus kegiatan orientasi atau perang. Kami menuntut demikian karena kegiatan seperti itu adalah suatu hal yang tidak masuk akal. Sepintas memang bisa untuk menumbuhkan mental dan semangat kebersamaan di kalangan siswa baru. Tapi jika caranya seperti ini, alih-alih mendapat siswa tahan banting, justru siswa munafik yang didapat.
Tadi kami mengatakan bahwa kami siap perang. Senjata kami sangat canggih dan setiap anggota memiliki senjata sendiri. Untuk menambah kekuatan, kami telah bergabung dengan Liberte Internazionale Divisione yang berkekuatan 98.000 infantri bersenjata lengkap, 1.400 unit tank, 1.000 meriam darat on load, 7.500 infantri spesialis, 5.600 jet tempur, dan ratusan kapal perang segala ukuran. Jika mereka berani macam-macam, kami siap dengan ratusan rudal nuklir,”
Saat berita ini diturunkan, MOS masih dijalankan di beberapa sekolah, namun ada juga yang memanfaatkannya untuk membuat para siswa baru tambah takut melawan kakak seniornya. Di SMAN 6 Jakarta misalnya, serangan ini dijadikan propaganda agar para siswa baru tidak berani melawan.
“Setuju nggak seandainya kegiatan kayak gini dihapus, Bli?”
“Margin untung bisa mengecil! Bli yang benyek,”
“Kan bisa genjot dari yang lainnya. Macam es, atau jajanan,”
“Kalo nggak salah, ada anak kelas 1 di belakang, ya?”
“Ada. Sama di induk. Itu lho, gadis turunan Jepang itu,”
"Jepang? Oh, cewek yang rambutnya pendek itu?”
“Persis! Dia adiknya Kahoko,” dan perbincangan ini terinterupsi teriakan gahar dari arah sekolah, “Berani taruhan, ini pasti pelampiasan gara-gara serangan besar-besaran sepanjang dua hari ini. Serang lagi!” dan aku menekan tombol pada jam tanganku
“Roket itu bikinan coy?”
“Aku hanya bikin cetak birunya. Masalah perakitan itu tanggung jawab orang sana. Nantinya setiap agen dijatah 50 biji, kalo mau lebih tinggal beli. Kenapa?”
“Nggak, maunya sih Bli cari itu buat diarahin ke Sapta Junior. Isiin cabe dibakar lalu Bli ngacir cari stok. Ciieeng!! Bli ngakak dari sini ngeliat gimana tampang mereka,”
“Sumpah, gak kepikir aku mau pake cabe bakar. Roketnya orang sekarang isi nuklir. Kalo mau pesan, bisa telpon ke sini dan bilang Alex ngiklan,”
“Permisi,” seseorang dengan jaket kulit dan tampang tukang kredit datang
“Bli, ada orang cari tabungan,”
“Koq sekarang banyak sekolah diserang? Ada masalah apa?” dan setelah dia bertanya, dia menoleh ke arah Bli Gusti dan berkata,”Es sirup Mangga,” sembari mengambil sepotong tahu goreng
“Tahu, paling juga ortu murid nggak terima, lalu ada yang menyerang sekolah itu. Masuk akal, kan? Namanya juga nggak mau anaknya disakiti,”
“Bli! Nasi bungkus sama tahu dua dan sirup apel satu,”
“7k.”
“Ini, masukkan sisanya ke rekeningku,” aku menyerahkan selembar uang ungu.
/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\
Kelar nongkrong, aku segera naik ke kamarku, masak buat makan malamku dan tidur barang satu atau dua jam. Jam tiga kurang sepuluh, aku terbangun, cuci muka dan pergi ke toko buku buat berburu buku baru, siapa tahu ada yang bagus. Baru keluar perimeter Monang-Maning, aku dikejar sama orang-orang dari forkom, mungkin gara-gara jaketku yang ada crest EFA di lengan kirinya. Jadi perang motor lawan preman bayaran OSIS. Motorku bersenjata 2 20mm autokanon, 2 .50 MG, 4 .30 MG free-mount sama 4 .18 MP, lebih dari cukup untuk membersihkan mereka. Di kawasan Teuku Umar, mereka menyerah dan mundur baik-baik sebelum aku meledakkan mereka. Belum jauh dari persimpangan utama di tengah sektor, aku diintersep serombongan preman bermotor. “Makan ini, alay keparat!!” aku berserapah sambil menyemburkan peluru dari motorku.
Mereka udah tahu kayak gimana rasanya melayani fighter dewa. Kurasa mereka nggak bakal berani cari gara-gara. Untuk jaga-jaga, aku membawa pisau lipat dan sepucuk pistol di saku celanaku karena jaket harus dititip. Lalu aku mencari komik La Corda D'Oro (aku cowok tapi baca komik cewek, salah makan apa waktu itu?). Jackpot! Aku mendapatkan komik jilid 6. Cukup dengan perburuan awal, sekarang cari buku lain yang aku perlukan. Semua buku yang aku incar total menguras kocekku sebesar 140 k-rupiah. Mumpung ada sisa 70 k, mendingan aku main sebentar di Timezone. Aku mengisi ATM gamer-ku 40 k. Game pertama yang aku urus adalah Ghost Squad dengan senjata serupa MP-5 SOPMOD. Mengoperasikan MP-5 itu mudah untukku. Kecuali fire-selector-nya di kanan sementara kalau mengoperasikan senjata, mata kiriku yang paling reliabel. Kelar dengan game itu, aku memainkan game-game kelas bulu yang dikhususkan untuk mencari tiket yang nantinya ditukar (kalo aku biasanya dengan alat tulis yang aku pandang perlu). 35 k terpakai di dunia game
Puas menghibur diri, aku segera melesat balik ke kos. Baru mencapai sektor Imam Bonjol, radio EFA-ku berdering,
“Alex masuk,”
“Lex, kami perlu otak dewamu. Cepat temui kami di markas pusat,”
“Aku segera kesana,” aku mengalihkan arah JABO ke perbatasan selatan kota
Alay-alay sialan itu rupanya patroli di kawasan Densel. Kontan aku ngamuk dan nyembur ratusan butir amunisi dan merontokkan selusin dari mereka. Tinggal lihat siapa yang terbunuh
“Komando ADTF!! Ini Cruiser, aku menghabisi banyak anjing di kawasan ini!”
“Oke, misi terkonfirmasi. Mengirimkan tim 4 ke TKP. Surat dikirim ke kediaman,”
Dan di pangkalan komando,
“Alex! Kau datang tepat waktu untuk ini,” Tom menyerahkan secarik kertas berisi campuran karakter 'sampah'
“Ini bukannya bahasa alay, ya? Maknanya adalah 'EFA, menyerah dan hentikan serangan roket kalian atau kantor kalian diserbu' dan ini berarti perang,”
“Cepat banget kau pecahin kodenya,”
“ADTF wajib memecahkan kode ini dalam setengah detik untuk naik pangkat.”
“Tau deh, calon kapten divisi pemburu ADTF..”
“Lalu, tolong analisis rekaman ini,” Erwin menepuk bahuku
“Aku udah urus itu!” Kogoro teriak dari cubicle-nya
“Siapa tahu dia punya analisis yang lebih baik!”
“Wei! Gak percaya aku?!”
“Serahkan aja padaku. Nanti kita lihat,” aku menyambar rekaman itu dari tangannya Erwin
Video ini berdurasi semenit seperempat. Isinya adalah seorang pemuda berbicara membelakangi kamera. Dia berpesan bahwa kegiatan orientasi sangat kaya gunanya sekaligus mengutuk semua pihak yang menentang kegiatan semacam itu dan mengundang UNESCO untuk melihat jalannya MOS/OSPEK/sebangsa-setanah airnya. “Masuk akal dia membuatnya dalam English. Tapi aku tinggal menyuruh Adolf untuk mengambil foto-foto tentang ini dan bimbanglah maho-maho PBB itu. Tunggu dulu, mungkin nggak kubu sana udah dirasuki Israel? Kalo iya, urusannya runyam bin romusha,
“Gimana? Udah dapat sesuatu?” Erwin sama Shizu menepuk pinggiran cubicle
“Gampang! Dia mengancam membawa kasus ini ke UNESCO dan kementerian. Perlu kita bikinkan propaganda saingan?”
“Pasti! Tinggal cari Jack, tugaskan Adolf dan kita selesai,”
“Hati-hati sama organisasi yang ada oknum Israelnya. Biasanya dia memanfaatkan sikon macam ini buat memecah kita,” Shizu mengingatkanku
“Oke! Tinggal mewaspadai Ass-rael itu aja 'kan? Perkara gampang!” Erwin nyerocos sementara Shizu minggat
Bungut ci! Kaden ci aluh ngurus Shit-rael? Aing! Ameriki homoanne Shit-rael!” Agen Ary teriak dari cubicle-nya "Mulutmu!! Kau kira gampang ngurus Shit-rael? Gak banget! Amerika homoannya Shit-rael"
Sing ada urusan buin cang? Cang kar mulih!” aku beranjak dari cubicle dan menyambar jaketku "Gak ada urusan lagi aku?? Aku mau pulang!!"
“Tungguin agen Hayate! Dia mau cari kamu!”
“Panggilan pada agen Alex agar menemui agen Hayate di meja informasi,” suara mekanis memanggilku. Tanpa buang waktu, aku segera marching ke meja info
“Cok! Ini ada pesanan dari Gusti Ngurah Arnata. Alamatnya di Patuha V nomor D1. Itu kan kosmu. Tolong dikirim sekalian kau pulang ke kos,” dia menyerahkan beberapa roket yang hulu ledaknya sudah dilepas, “Berarti Bli Gusti jadi beli dan warheadnya lepas agar bisa diisi sendiri,
“Kau tagih sendiri pembayarannya ke dia!”
Di jalan pulang, aku melihat peserta MOS dari sekolah apa dipaksa jadi pengamen di jalanan jam segini (6 pm). Aku sengaja mengambil sisi kanan karena ada beberapa pemuda mengawasi mereka dan aku berani taruhan, itu kakak kelas mereka. Kalo mau, aku bisa saja mengobral sekotak peluru 4,6mm dari MP-7 “Comet”. Tapi aku tahu sikon nggak memungkinkan untuk open fire. Solusinya hanya dengan menandai sektor ini agar dipatroli dan selamat tinggal. Setelah masuk wilayah komando, aku membeli sayur campur di toko makanan langgananku.
6.40 pm, aku udah di warung, membeli sebungkus kacang disko dan menyerahkan roketnya. Briefing dulu dia agar ngerti caranya
“Gimana cara ngendaliin roket ini, coy?”
“Tinggal balangin penanda kecil ini ke target dan dia akan mengimplan dirinya di sana,”
“Terus?”
“Sejam kemudian, tinggal ngacir lalu tekan tombol ini. Satu penanda satu tombol,”
“Berarti, Bli cukup kabur dan tekan tombol di sana lalu pura-pura blo'on,”
“Remote ini tinggal dipasang di stang motor atau dimana saja. Aku menaruh punyaku di jam tanganku,”
“Gimana pembayarannya?”
“Ada besok temanku dari aliansi narik setoran. Tinggal minta dia tunjukin kartu identitasnya dan cocokkan sama punyaku. Kutitip punyaku di sini biar bisa dibandingin,” aku memberikan kartu EFA dan kembali mengambil segelas minuman penambah stamina
“Coy! Ada surat dari ADTF! Jam 9 dicari,”
“Ada pulpen? Biasanya ini hanya perlu diteken,” aku segera meneken surat itu dan, “Aku mau makan dulu di atas. Torpedo satu sama kacang disko,”
“2k. Tadi sisa 3k berarti lagi 1k,”
Setelah rampung, aku kembali naik ke kamarku bersama salinan surat sebagai arsip pilot dan segera membongkar barang buruanku. Selain La Corda D'Oro, aku membeli majalah CHIP edisi Juli 09, Kehancuran Indonesia Pasca-SBY, sama dua unit Schaum Easy Outline : Kalkulus sama Geometri. La Corda D'Oro bisa dibaca belakangan, pelajari Schaum kalo ada kejuaraan bulan berikutnya, CHIP bisa bawa sekolah, baca aja dulu buku politik ini, takutnya buku itu dilarang dan tamatlah riwayatku.
Lalu aku mandi dan makan sendirian di kamar. Tiba-tiba, Yogi 'Hoho' datang dan meminjam kunci JABO.
“Aku mau makan. Nitip sesuatu?”
“Bensin. Mulai tipis tuh, bomber gue. Ingat, dia minum bensinnya Kaskus,” aku menyerahkan kunci JABO dan sejumlah uang
Larut malam, aku memata-matai sekolah dengan UCAV yang aku lepas dari teras kamarku. Sekolah ternyata memasang instalasi hanrud ringan. Aku retaliasi dengan memasang all-aspect jammer di UCAV buat ngerusak radarnya dengan mengobrak-abrik sinyal yang diterima sama memasang BordKanone 75 sebagai senjata pamungkas. Jaminan aku menang, seandainya roketku gagal menemui sasaran, Mauser BordKanone 75 akan melepaskan peluru kaliber besar dan meledakkan satu lapangan dalam dua detik.
“Sekarang kalau mereka berani mengancam EFA, aku akan kerahkan MBK,” aku terkekeh sendiri
Pagi ketiga, aku memata-matai MOS lagi dan menyiapkan sekotak mercon yang sudah dijejalkan dalam palka bom UCAV. Aku selalu siap membalas teriakan gahar mereka dengan roket-UCAV-artileri. Marahlah dan siap-siap mereka meledak. Roket gagal, UCAV siap. UCAV kena jebakan, artileri bicara. Artileri ketahuan, roket melindungi. Mau apa, aku siap menangkis serangan
Aku selalu membawa UCAV dalam tasku dan mengurangi jumlah buku yang aku bawa menjadi jurnal pelajaranku, kumpulan naskah proyek, sama buku bimbel returan. Selain itu, tasku biasanya isi sebotol air, 'Mein Kampf' buat GL Fusiliers, notebook, sepasang UFD, HDD eksternal, survival kit (Swiss Army knife, senter, silet, dan kompas) dan sejumlah alat tulis dengan komposisi : 4 pensil mekanis (.30, .50, .70 sama .90) lengkap dengan isinya, dua ballpoint, satu set instrumen geometri, stapler, dan penghapus. Buku pelajaran sama buku tulisku semua di kelas, siapa berani maling akan membayarnya lunas dengan kepala.
Hari ini MOS lebih banyak di kelas isi seminar dari luar. Udah jiper kali, dibom dengan serangan bertubi-tubi. Aku yang menerbangkan UCAV keliling menangkap orang dari Polda mau nguliahin para freshman soal narkoba. Saatnya menarik Kolibri mundur ke sebelah kelas. Tunggu kelar dulu kuliah dari Polda, ada amukan senior dan selamat meledak.
Agar dikira salah perhitungan, aku sengaja menembakkan roket ke lapangan kosong. Panitia MOS pada kena jebakan betmen. Perasaanku nggak enak, kayaknya sekolah udah nebak obstruksi MOS itu dilakukan oleh orang dalam sekolah. Tapi aku sudah menutup kemungkinan itu dengan sengaja menembak momen kosong. So far so good. Aku segera memastikan mereka tertipu dengan Kolibri. Kurasa perangkapku bekerja kecuali mereka menebak kemungkinan serangan itu memang oleh orang dalam. Tapi tebakan tanpa bukti adalah peluru kosong yang tidak ada efeknya kecuali deteren sekilas.
Siangnya, Kahoko nelpon dari sekolah bilang minta Shoko digendong pulang. Dia mendadak pingsan waktu habis kuliah dari Polda. Untung atau sialnya aku belum jauh dari kelas. Aku segera menuju ruang UKS dan langsung menggendongnya pulang.
“Hey, kalian lihat anak kelas 2 itu?”
“Ya. Padahal lengannya kecil begitu, tapi dia kuat banget.”
“Kalian lihat dia?! Itu standar fisik kita!!Yang di belakang jangan cari aman!” TOA jancok itu memancing amarahku
“An, dengar apa yang dia bilang? Kamu dijadikan bahan propaganda.”
“Ingatkan aku untuk membacoknya kalo besok aku mobilisasi.”
Kamis adalah hari mobilisasi. Semua personil EFA dikerahkan untuk menyerang secara fisik MOS. Aku segera bergabung ke pasukan penyerbu bersama beberapa anak-anak sekelas. Senjataku adalah MP-5 "Drago" berisi peluru 'bogem mentah' dan bayonet asli. Sebelumnya untung jam istirahat pagi, jadi aku bisa ganti seragam ke jaket EFA dan membungkus celanaku dengan pelindung kaki. Tanpa terlihat guru, aku segera bermanuver untuk bergabung ke tim penyerang. EFA diberi ijin untuk membunuh sepanjang mereka menghendaki dan sikon mendesak.
“Jancok!! Kuberi 10 detik untuk membatalkan semua ini!”
“Serang dia!!” ketua OSIS sekolah (persetan namanya siapa) memerintahkan untuk menghajarku
“Bodoh! Apa kalian ingin menyia-nyiakan nyawa kalian yang hanya satu?!” aku mengangkat Drago
“Serbu!” teriak anjing-anjing panmos itu
Saat satu orang maju duluan, aku langsung menikamnya dengan sangkur. “Bangsat!” itu teriakan saat dia sekarat dan aku mengancam yang lain, “Ada yang mau?!”. Mereka langsung ciut sementara ketua OSIS-nya berteriak, “Lembek sekali kalian!! Ini contoh senior!?”
Aku langsung mendekat dan berkata dengan dingin, “Kau yang mengendalikan mereka?” dan tanpa menunggu jawaban aku langsung menyangkur mulutnya. Lalu aku menurunkan maskerku lalu menjilat sangkurku yang berlumuran darahnya. Itu membuat para freshmen ketakutan karena bisa saja mereka korban berikutnya. Ada dua orang guru mendekat, lalu aku bereaksi dengan masuk mode standby fire. Mereka membubarkan MOS tahun ini dan diperintahkan agar ditutup siang ini juga.
Hari Jumat, saatnya gencatan senjata dan jack-ass buat presentasi klub ke anak junior. Aku dapat jatah presentasi pertamax dan (terpaksa) tampil ala rock star buat lenyapin rasa beku di tangan. Aku biasa tanganku beku kalo lagi nervous. Aku curi start dengan bilang pendaftaran dibuka minggu depan dan ujian saringan menyusul. Belum sempat memberikan bonus berupa free-pass ke klub, tiba-tiba ada panitia menodongkan sebuah pelat manila (stofmap kayaknya) dan ada tulisan “TIME UP” pertanda aku harus menyudahi presentasi ini
“Remember, Foursma Math team wants you! Join us right now!” aku meniru gaya poster rekrutmen perang dunia
“Sungguh presentasi yang sangat bersemangat. Berikan aplaus yang meriah untuk Klub Matematika kita,”
Akhir MOS, kementerian menyerah kalah melawan EFA dibawah ancaman bom nuklir dan serangan masif dari segala penjuru Indonesia. Kementerian menghimbau dinas pendidikan agar melarang kegiatan awal tahun ajaran. Namun tugas EFA belum tuntas, siapa tahu ada bullying atau sekolah ndableg, agar selalu siap menyerang dalam sedetik.
Tahu-tahu, Udayana Gakuen masih menyelenggarakan OSPEK. Aku segera melapori EFA untuk meminta ijin serangan udara ke sana dan ijin diberikan dengan syarat minimalisasi kerusakan kolateral. Kuli banget kalo disuruh menekan kerusakan kolateral kecuali aku bisa menggunakan rudal jelajah jarak dekat. Dalam sikon macam ini, rudal 'Kalsium' (CALCM = Conventional Air-Launched Cruise Missile) yang diimplan di Mersu juga keluar. Saatnya mulai serangan gertak sambal dengan beberapa bom ringan. Asap yang dihasilkan oleh bomku sukses mengobrak-abrik kegiatan haram itu. Kemudian aku kabur ke wilayah barat untuk menghindari pengejaran kendaraan udara mereka (kalo emang ada). Yang jancok, si Kalsium itu membebani superstruktur pesawatku sehingga mustahal bisa ngeles kalo diserang sebelum melepas rudal dan kalopun lepas, senjata tersisa hanya sepucuk motorkanone dan tinggal berdoa biar gak duluan wasalam sebelum masuk wilayah kawan.
Selebihnya, aku serahkan ke EFA untuk tindak lanjutnya. Mereka memerintahkan gempuran skala masif. Si Kalsium terpaksa keluar dari gudang senjataku dan standby di cantelan sentral Mersu. Udayana Gakuen langsung menjadi korban serangan udara EFA dan mereka mendapatkan sejumlah besar micro-nuke (MIRV versi cruise missile). Skuadronku langsung ikut dalam penyerbuan sebagai air cover. Pihak Udayana langsung membalas dengan arhanud (bahasa standar untuk flak). Watdefak!? Flak? Udah tajir ini universitas, sampe punya flak. Terpaksa Kalsium mengguyur sarang flak musuh.
Setelah kondusif, aku mengalihkan penjagaanku ke kegiatan 'Organisasi' sekolah. Untungnya Shoko dan Kahoko jadi KSTO (kelompok siswa tanpa organisasi) alias siswa yang membaktikan dirinya demi sains/olahraga/seni. Jadinya ya, gampang ngeroket kalo ada senior macam-macam sepanjang pelantikan (dengan syarat aku tau mereka dimana dan kapan).

Intro to Cruiser's Story

Beberapa post berikutnya mungkin adalah cerita yang aku buat sendiri. Tokoh-tokoh utama yang terlibat (my side only!!) :
1. Andika Candra Jaya (ini aku) sebagai tokoh utama. Memiliki kapabilitas dalam pertempuran udara sebagai ace of aces dan pertempuran jarak dekat. Terkenal sangat brutal dalam menangani masalah dan hampir tidak memiliki belas kasihan terhadap musuh. Veteran olimpiade matematika, memiliki naluri di bidang sains dan teknologi. Di kesatuan milisi, aku memiliki callsign Cruiser.
2. Shoko Pusparini. Gadis introvert tapi sangat cerdas. Jago astronomi dan musik dengan spesialisasi klarinet dan piano. Pendiam, tapi lembut dan manis. Terinspirasi dari Shoko Fuyuumi di La Corda D'Oro dan dua cewek kenalanku di RL. She is hell damn innocent for her 170-class IQ!!
3. Kahoko Maharani. Kakaknya Shoko, lebih ceria dan sama-sama cerdas. Tangguh di biologi dan musik juga, spesialisasi musik di biola dan vokal. Skill khususnya adalah dia jago masak dan sedikit paramedis. Dia sekelas sama aku di cerita ini.
4. Andi Laksana. Sahabat baikku semasa SMA, berbakat alam di dunia seni dan olahraga. Secara esensial dia itu komplemenku. Andaikan kita berdua DNA Unification, tak ada orang yang sanggup menandingi kita di sekolah. Garansi. Kadang di kesatuan dia ajudanku dan di kesatuan dipanggil Sverdlov.
5. Hendra Rusliyadi. Ajudanku semasa SMP. Dia datang dari keluarga yang sering mengalami masalah keuangan, jadi dia kadang menjual gadget-gadget yang aku pas lagi perlu. Cocok deh, kita sering berbisnis. Belakangan dia bergabung di kesatuan dan mendapatkan callsign sendiri.
6. Dharma Agastia. Sahabatku ketika penjurusan. Memiliki kemampuan alami dalam mengajari dan konsultasi. Dia bergabung ADTF tanpa sepengetahuanku lalu belakangan kesatuannya dan kesatuanku bersatu membentuk SCS Regiment.

Affiliated Units :
1. ADTF (Alay Destroyer Task Forces). Militer swasta yang fokus untuk memberangus orang-orang yang dilaporkan sebagai alay. Aku bekerja di ADTF sebagai motorized/airborne hunter. Saat cerita pertama mulai, aku masih perwira pertama dengan pangkat Letnan Dua (Leutnant di pasukanku). ADTF memiliki lima pasukan per komando wilayah. Lima pasukan itu adalah intelligence, hunter, research and development, correctional officer, dan training.
   Intelligence units bertanggung jawab untuk memastikan target yang sedang diburu 100% adalah alay. Mereka bisa saja menyamar jadi OP warnet dan melakukan screen capture sekaligus mengidentifikasi target untuk diburu oleh hunter saat mereka sendirian atau bersama gengnya. Atau mungkin jadi mereka adalah guru yang muak terhadap muridnya yang terlalu banyak melanggar aturan sekolah dan tidak mau mengotori reputasinya.
   Hunter units adalah unit yang melakukan semua kerja kasarnya. Merekalah yang banyak muncul ke permukaan saat melakukan serangan besar-besaran terhadap geng motor yang anarkis. Unit ini memiliki empat divisi tempur : Motorized, Foot-borne, Air Force, Armored. Motorized memakai motor yang dipersenjatai (lazimnya heavy machine gun dan autocannon), sebagian prajurit motorized mengambil spesialisasi di Air Force. Foot-borne adalah pasukan infanteri reguler yang beroperasi di pinggiran kota/hutan/gunung. Air Force troops termasuk paratroopers, pilot tempur, dan kru udara. Armored troops lazimnya adalah pengemudi kendaraan sipil yang dipersenjatai, namun dalam situasi terdesak bisa dijadikan pelaut bersama infanteri reguler. Sistem kepangkatan mereka berbeda-beda : Armored memiliki pangkat ala USN, motorized dan AF menganut sistem Luftwaffe dalam kepangkatannya, dan infanteri menganut sistem US Army.
   R&D units berwenang membangun alutsista baru untuk seluruh ADTF. Tim ini biasanya diisi oleh para passivist (anti-kekerasan) yang juga menentang keberadaan alay. Mereka juga mengurus C4STAR dan dukungan tempur dalam operasi ADTF dalam segala skala. C4STAR adalah command (komando), control (kendali operasi), communications (komunikasi), computers (penghitungan), surveillance (survei target), target acquisition (penentuan target) and reconaissance (pemantauan wilayah operasi). Dukungan tempur mencakup transportasi pasukan dan material dari dan ke medan tempur, suplai logistik, dan dukungan medis menyeluruh.
   Correctional officer dapat diibaratkan sipir, perlindungan masyarakat, dan Polisi Militer sekaligus. Mereka yang secara de yure berwenang menangkap alay walaupun secara operasional penangkapan dan pengejaran lebih banyak dilakukan divisi hunter. Mereka pula yang menentukan hukuman bagi setiap alay yang tertangkap sekaligus harga kepala mereka yang diumumkan kepada para pemburu.
   Training officer bertugas merekrut, menyeleksi dan melatih anggota baru. Merekalah yang menentukan standar ujian masuk ADTF dan pelatihannya. Lazimnya, kurikulum yang mereka berikan pada tim correctional (tim 4) adalah yang paling berat, disusul tim 2 (hunter), lalu tim 3 (R&D), tim 5 (training) dan yang paling mudah adalah tim 1 (intel).

2. EFA (Education Freedom Alliance) adalah aliansi yang memiliki misi menciptakan pendidikan yang bebas dari rasa takut, ancaman, intimidasi, bullying, dan diskriminasi. Aku kerja part-time di aliansi ini yang nantinya akan bergabung ke ADTF jadi satuan gabungan. Itu urusan belakangan, lupakan dulu sampai aku menuliskan soal ini. Biasanya EFA paling sibuk pas MOS/OSPEK/sejenisnya karena EFA mendoktrin anggotanya untuk menganggap kegiatan 'orientasi' awal tahun ajaran sebagai bullying terstruktur dan terlindungi. Pekerjaan EFA lazimnya berkutat di propaganda, operasi anti-tawuran terbatas, penggrebekan bullying, dan operasi anti-diskriminasi terhadap siswa. Puncak kesibukan selama 'orientasi' awal tahun itu lazimnya berbentuk operasi gangguan terbatas yang diserahkan secara operasional di tingkat agen, pembubaran paksa dengan kekuatan mematikan, atau sabotase skala besar.

3. Fascis adalah gengster yang merupakan evolusi dan kolaborasi dari skuad-skuadku sejak SD sampai SMA. Kami memiliki kekuatan militer setara satu peleton kecil (lengkap dengan dukungan supremasi udara dan dukungan udara jarak dekat) dan sangat cepat bereaksi.
 
Tweets by @RealCruiser