Welcome!!

Selamat datang di blog milik Andika Candra Jaya (a.k.a TheCruiser)

03 Desember 2011

MOS/OSPEK = makan siang senjataku


Warning : cerita ini murni fiksi yang menggambarkan kebencianku terhadap bullying apalagi yang terstruktur dan terlindungi seperti ini. Aku mengambil setting di sekolahku dengan sensor ekstensif karena hanya itu yang kepikiran. Semua alutsista yang ada di sini murni fiksi/modifikasi dari yang sudah ada.

Tahun kedua. Kali ini adalah misi pengeboman MOS dan OSPEK sekaligus (mumpung aku punya kepentingan sama dua hal yang paling aku benci dalam dunia pendidikan Indonesia ini). Misi kali ini merupakan misi bayaran dimana aku disuplai uang dua juta setengah bersih. Aku kebagian tugas membuat desain dan cetak birunya
Minggu pertama libur semester genap aku habiskan merancang dan menyempurnakan cetak biru roketku. Selama awal liburan ini, aku menghabiskan enam jam sehari kerja pada desain roket. Di sela-sela itu, aku juga belajar buat OSN (siapa tahu lolos). Weekend itu, aku di-SMS sama J kalo Fours Math Squadron terbantai (Van-I sama J yang setangguh itu aja bengep, apalagi aku). Ini pertanda kalau aku dipanggil untuk menyelesaikan misi ini.
Minggu berikutnya aku habiskan membuat cetak biru sama prototip roket itu. Aku bekerja empatbelas sampai enambelas jam perhari pada disain roket ELR (Education Liberator Rocket).
“Aku sudah berhasil menyelesaikan order. Sekarang aku pesan dua buah pipa PVC yang setengah sama tiga perempat inci. Jangan lupa kerucut kaca yang diameternya setengah inci dan propelan sama isi kerucut yang diperlukan,” aku memesan barang ke tim transportasi melalui IRC
“An, bikin apa? Tiga minggu di kamar terus,” bokap nyelonong ke kamarku
“Roket. Ada pasukan pro-kemerdekaan pendidikan memesan desain roket. Entah apa maunya, yang jelas, kalau ini rampung, weekend berikutnya didrop dua juta. Pake aja bayar kos. Abis ini, aku dibebaskan dari semua jerat hukum kalau-kalau ada sekolah memidanakan ini. Karena tugas hanya bikin cetak biru dan mereka yang bikin, bisa saja mereka ngaku kalo itu rancangan mereka,”
“Mau masuk Hamas?”
“Kecuali tuntutan desainnya 50 kilo ke atas. Ini hanya 4,4 kilo,”
“Siapa di sana, Alex?” Agen James bertanya dari ujung sana
“Bapakku. Bisa kirim sebelum Senin?”
“Siap!”
Mereka menemuiku di rumah untuk mengambil barangnya sekaligus menyerahkan uangnya. Untungnya yang terima duit itu bokap yang pikirannya lebih liberal, jadi aku tenang tanpa bacod nyokap yang jelas-jelas menentang rencana setanku. Alasannya sih aku juga tahun lalu disiksa MOS, jadi untuk apa berupaya menghentikan? Bodo amat. Selama sama-sama bisa tutup mulut, semua aman terkendali.
Sisa seminggu liburan aku manfaatkan untuk istirahat total. Uang kos udah datang, sisa 750k buat nutup uang sekolah dua bulan dengan sisa 140k. Dan hari Jumat, aku minta diantar ke ibukota buat mengawasi instalasi roket di halaman kosku. Hari Sabtu, tim instalasi udah datang dan memasang roket-roket itu di tempat yang telah ditentukan berdasarkan hasil observasi udara. Aku hanya dijatah 50 roket untuk sepanjang acara MOS ini untuk SMA-ku. Aku mengatur biar 5 roket per salvo (10 salvo untuk MOS kali ini)
/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\
Hari Minggu sore, aku mendatangi sekolah yang hanya 75 detik jalan kaki dengan menyaru sebagai warga sipil sekaligus memastikan aku di kelas mana setelah penjurusan. Aku dapat kelas IPA-6 (kelas yang digadang-gadang kelas terbaik seangkatan). Setalah pasti aku dapat kelas mana, aku cari-cari junior baru, siapa tahu ada yang cantik. Sepintas lalu, aku melihat seorang gadis turunan Jepang. Untuk memastikan, aku segera mencabut monokuler dan itu dia, gadis berambut pendek dan berpostur mungil-langsing. Cantik juga cewek ini, incar dia!
Malamnya, pas aku mau keluar beli makan malamku, tiba-tiba Kahoko mencegatku
“An, bisa bantuin adikku nggak? Dia besok mau MOS dan belum beli keperluan buat besok. Tolong beliin dia apa yang aku masukkan list di sini,”
“Beri aku dua menit setengah. Masa aku keluar perimeter komando wilayah tanpa helm dan jaket? Dicokok polishit, tewas,” aku segera berlari ke kamarku dan ganti celana (dompetku yang isi lisensi C udah masuk) lalu memakai flakjacket Junior Eastern Math-Olympian dan menyambar helm
“Kak, bisa bantu beli ini, nggak?” anak kelas 1 menemuiku di tangga, memberiku secarik kertas dan sejumlah uang
“Ini? Oke. Kebetulan sama dengan apa yang dipesan cewek di induk,”
“Udah siap, An? Ini uangnya,” Kahoko memberiku sejumlah uang juga. Niatku makan malam, malah kena job nolong adik kelas.
Aku segera menyalakan JABO dan melesat ke supermarket yang agak jauh. Dengan cepat, aku memindai semua slot belanjaan. Kemudian aku menemukan apa yang aku perlukan kecuali Serena Snack sama susu bantal. Semoga di CF sektor Gunung Agung atau di Bli Gusti ada. Kalo nggak, tamat riwayatku. Pas bayar di kasir, si kasir ini ngira aku ada hubungan sama peloncoan.
“Siapa yang MOS? Koq belanjanya tipikal MOS?”
“Adik kelasku yang mau dibantai. Aku udah tahun lalu. Nasib jadi anak senior di kos-kosan,”
“Panitia MOS?”
“Lebih bisa disebut tero. Berapa semuanya?”
“84 ribu,”
“Ini uangnya dan aku minta struk belanjanya,”
Setelah semua rampung, aku segera berangkat ke CF cabang Gunung Agung. Jackpot! Serena Snack sisa tiga. Aku segera menggapai dua diantaranya sebelum yang lain duluan. Yang menggapai bungkus ketiga adalah Pak Dirga (Guru Agama). Susu bantal aman. Aku melihat jam sudah setengah sembilan. Perutku udah nggak mau diajak kompromi lagi. Setelah semua aman, aku segera lepas landas ke wilayah komandoku. Sebelum aku menurunkan logistik mereka, aku mengisi tenaga dulu. Biasanya aku makan di langgananku di nasi campur belakang HR. Satu-satunya warung yang masih buka hanya Chinese Food. Makan di sana nasi goreng satu porsi sama soda sebotol hanya 8k. Abis bayar lunas, cepat balik ke kos lalu serahkan barang pesanan mereka.
Setelah mereka mendapatkan pesanannya, aku segera mandi dan menyalakan laptopku, buat main San Andreas (cari pelampiasan). Jam 11, aku udah ngantuk berat dan segera tidur.
/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\
Pagi jam setengah tujuh, aku berangkat sekolah dan segera mencari bangku yang cukup baik (di belakang dan berada dalam posisi head-on lawan guru). Di lapangan, aku melihat beberapa siswa sedang menjalani sesi pembantaian gara-gara telat. Remote control roket ada di jam tangan. Roket-roket itu semua aku set agar mengebom lapangan depan sama lapangan parkir utama. Tinggal tunggu kapan mereka macam-macam dan selamat menemui ajal. Aku memilih bangku dekat jendela agar bisa memantau MOS sekaligus menentukan kapan serangan roket pertama.
Jam 8.45, break pertama, aku memantau ke lapangan. Gadis Jepang itu namanya Rini dan dia jadi korban bentakan seniornya. Bangsat!! Gadis selugu itu yang dijadikan korban. Aku tak akan sudi melakukan hal serendah itu. Sebelum aku menekan tombol rahasia itu, aku mengatur posisi dan jarak aman. Fire One!! aku menekan tombol berhuruf timbul 1 untuk serangan ke arah lapangan parkir. Lima roket terlihat dari arah tenggara pertanda serangan gelombang pertama mulai. Aku melihat efek kerusakannya sudah merasa seperti naik ke langit ketujuh. Ketika aku mengecek pesan radio yang ditransmisi ke HP, aku membaca,”Alex commenced first strike to 1.Southwest High!”, “1.Northeast High was being bombarded by James,”, ”Sam-led Stukas raided SY Academy,” dan banyak pesan yang intinya MOS kali ini benar-benar diobrak-abrik. Kementerian udah kita susupi agar mengira ini aksi dari orangtua murid yang tidak terima anak-anaknya dijadikan mainan oleh kakak kelasnya. Pulang sekolah, aku makan siang di warung Bli Gusti lalu segera ngeloyor ke mabes EFA.
Di Forkom OSIS se-ibukota (ada mata-mata aliansi di sana sebagai tetangga dan dia memasang alat penyadap), terjadi kericuhan
“Gimana di 3.South High?”
“Dibom secara konstan!”
“1.Southwest?”
“Lima roket sekali serang pagi ini,”
“1.Southeast?”
“Serangan kontinu sepanjang pagi,”
“Perlu dibawa ke kepolisian?”
“Ada surat! Isinya melarang kita meminta bantuan kecuali mau semua SMP-SMA-Universitas se-Indonesia dibom sampai hancur berantakan,”
“Kalau kita melanjutkan, serangan udara akan terus dijalankan. Kita menghentikan, karakter manja anak baru gak bakal hilang. Minta bantuan, sekolah kita dibom,”
“Pasti ada solusi. Kita akan berunding dengan pemimpin wilayah ibukota. Umumkan melalui semua koran dan media massa bahwa kita mengundang para penyerang agar berunding masalah MOS kali ini di kantor DPRD. Tunjukkan pada mereka kalau kita intelek, bukan barbar seperti mereka,”
Di Pangkalan EFA
“Gimana? Sukses?”
“Lihat tampang OSIS yang gahar sama adik kelas, kita bawain roket kosong mereka langsung pucat seperti mayat,”
“Ya iyalah!! Sekalipun kita, kalau udah dibawain bahan peledak siap meleduk di depan hidung juga pasti ciut!”
“Woi! Ada kabar dari mata-mata kita di forkom OSIS. Mereka mau kita bicara baik-baik urusan ini di gedung parlemen kota. Bahkan pers diundang untuk memuat surat pembaca mereka,” aku melemparkan sebuah kaset rekaman penyadap ke depan untuk diputar
“Persetan!! Jangan diambil peduli. Besok kirim surat ke BP kalo kita hanya mau bicara jika mereka bersedia menghentikan kegiatan awal tahun ajaran selamanya. Adolf, kau bicara di iklan TV buat propaganda bahwa serangan ini hanya untuk membuktikan bahwa kegiatan orientasi yang kita kenal selama ini tidak berguna,” Agen Agus ogah mengurus ini (emang tipenya dia yang biasa main kasar kalau misi kayak gini)
Agen Adolf begitu disuruh propaganda langsung ngeloyor ke cubicle-nya dan menyusun naskah pidatonya. Makanya aliasnya Adolf, kalau dia pidato, gayanya der fuhrer ditiru.
“Ada gagasan tentang teror berikutnya?” Albert bertanya lewat pengeras suara
“What about nukes? Alex, how much do you have?” Simon berteriak
“Only 75 kilos and I'm about to use 22,5 as payload,”
“Give the remains to us. In total, we have 70 tonnes,”
“Kita dikatai barbar sama forkom. Mau diapakan, nih?” aku meneriakkan hasil rekaman intelijen
“Sam!! Keluarkan Stuka untuk menyerbu pangkalan musuh,”
“Ngapain aku?! Smith, kamu sama Alex serbu aja pake satu-sembilan-nol kalian!”
“Gila kau!! Aku gak nerbangin 190 yang MRCA!! 109 yang JABO iya!” aku teriak mengatasi kericuhan di hall kantor EFA daerah
“Sama aja! Bom mereka! Titah diturunkan” Jack memberikan titah, “Cacing bulukan!
Aku segera balik buat nyusun siasat baru nyerbu sekolahku sendiri. Kalau mereka berani menyelidiki, telan timah panas dari MP-5 Carbine. Rampung nyusun siasat, aku segera scramble untuk menyerbu kantor forkom. Bf-109 yang dilengkapi dengan guided-bomb dan beberapa AAM. Segera saja, aku ada di ketinggian 1400 mdpl dan siap ngebom forkom. Kalaupun ketahuan, tak seorangpun mengira itu aku karena pesawat tempur EFA biasanya Fw-190 atau F-86 (cuma aku yang memakai 109 sama MiG-17). Ketika avionik pesawatku telah memberikan deringan tanda bom telah mengunci sasaran, aku segera melepas dua bom dan melakukan inverted position untuk memantau kerusakan yang dihasilkan GBU-82.
“Alex, this is Herlina! Direct hit! Target on fire!” Herlina bertugas di tower komando
“Heading to airbase! Mission over!”
/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\
Sorenya, junior yang kos di bawah berbincang seputar serangan roket itu. Mereka tampaknya yang disalahkan atas serangan roket ini. Shoko Pusparini (Si Rini, junior yang kuincar) nangis malahan gara-gara ini. Kahoko tidak terima adiknya dibentak seperti itu langsung lapor ke aku
“An, bisa minta tolong nggak?”
“Apa masalahnya?”
“Sho-chan habis gara-gara serangan roket dari kawasan ini,” dia melaporkan apa adanya “Gawat, aku lupa memasukkan faktor cari-cari kambing hitam yang pasti mengincar orang paling lemah sebagai pelaku dan biasanya yang paling lemah ini gak punya kekuatan buat membela diri,”“Siapa pelakunya? Biar aku bisa siapkan MBK 75 yang mengarah ke lapangan parkir,”
“Ya mereka semua!”
“Besok akan kubuat mereka kapok dengan roket berkepala nuklir. Ingatkan aku agar memasukkan kepala nuklir malam ini,” aku berkoar, “Padahal rencananya mau di-BM sebelum serangan aliansi. Scud berisi nuklir akan membereskan mereka,”“Oh iya. Bantuan lagi dong. Buat beli keperluan besok,”
“Oke.....,” aku ngeloyor dengan hambar, “Ahh, Crap shit! Besok akan ada serangan besar-besaran dengan 15 roket berkepala nuklir,”
Tugas belanja hari ini : sebungkus kacang, dua jenis minuman, sebongkah roti (dia minta isi selai), biskuit energi, dan sepaket alat prakarya. Aku tahu kemana perlu mencarinya. Alat prakaryanya kupinjamkan saja punyaku. Kalau disita, kubakar mereka hidup-hidup.
Malamnya, setelah Shoko tenang dan logistiknya siap, aku segera mengganti kepala roketnya dengan micro-MIRV. Hulu ledaknya total seberat 0,1 kilo uranium, setara dengan 2 ton TNT kali 5 hulu ledak per roket. Lebih dari cukup untuk sekedar meratakan gedung utamanya. Malam itu juga, aku menyetel satu roket per salvo agar meledak di center kegiatan dengan sangat sengaja. Bom dengan daya hancur setara Stuka satu flight dalam roket berdiameter 1,91 senti. Hihihihii.. (ketawa setan bertanduk tujuh), makan bom nuklir spesial dariku, Panmos anjing!
/\/\/\/\/\//\/\/\/\/\\/\/\/\/\/\/\/\/\
Esok pagi, Selasa 14-07-09. Serangan fajar dariku yang terbangun lantaran keributan dari 1.Southwest (mereka kayaknya kena hukuman fisik dan ditambah teriakan gahar dari TOA). Aku segera retaliasi dengan 5 roket ke arah lapangan depan. Melihat dentuman besar dari arah sekolah, aku pura-pura nggak tahu apa-apa. Jam tujuh kurang sedikit, aku segera ke sekolah seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Ternyata, sekolah tetap jalan seperti biasa. Mengenai apa yang terjadi tadi mah sebodo amat.
Aku terus memantau lapangan untuk memastikan semuanya aman. Lalu aku bersiap untuk mendengar kata-kata gahar. Aku segera mengeluarkan UCAV yang bisa aku kendalikan dengan tangan kiriku (jempol mengatur pitch dan roll, jari telunjuk dan tengah untuk yaw, dan jari manis sebagai thrust). Layarnya nyambung ke lensa kiri kacamataku secara translusen (aku bisa melihat apa yang tepat di depanku secara nyata sekaligus menerbangkan UCAV. Break kedua, pas mereka ada di lapangan buat pembantaian. Serangan roket aku alihkan jadi pengeboman dari UCAV. Serangan udara ini memberikan efek yang mengejutkan sekaligus menakutkan bagi para peserta MOS. Buat ortu siswa baru mah kurasa itu katalis buat menggalang dukungan pelarangan MOS karena tau MOS entah bakal bikin anaknya mati diroket atau bijimane, persetan.
/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\
Pulang sekolah, aku diberi koran di warung (pengelola warung depan kos). Aku membacanya sambil makan dan aku duduk membelakangi etalase
MOS 2009 Terancam
Selama dua hari belakangan, MOS di SMA se-Indonesia terus menerus dijadikan target pengeboman yang dilakukan oknum asing. Kuat dugaan pelakunya merupakan sindikat. Saat ini, jumlah korban telah menembus 700 orang luka-luka di seluruh Indonesia dan diprediksi akan meningkat dengan adanya OSPEK di universitas.
“Kami mempertimbangkan ultimatum dari Education Freedom Alliance yang menuntut pengharaman kegiatan awal tahun ajaran atau seluruh sekolah akan diserang dengan senjata nuklir,” sebut jubir kementerian
Sementara itu, orangtua murid juga menuntut penghapusan MOS/OSPEK ini. Mereka menghendaki kegiatan seperti itu dihapus secara mutlak di seluruh Indonesia. Suara mereka diwakili oleh jubir EFA (Education Freedom Alliance) yang mengancam peperangan skala penuh
“Tujuan kami jelas, hapus kegiatan orientasi atau perang. Kami menuntut demikian karena kegiatan seperti itu adalah suatu hal yang tidak masuk akal. Sepintas memang bisa untuk menumbuhkan mental dan semangat kebersamaan di kalangan siswa baru. Tapi jika caranya seperti ini, alih-alih mendapat siswa tahan banting, justru siswa munafik yang didapat.
Tadi kami mengatakan bahwa kami siap perang. Senjata kami sangat canggih dan setiap anggota memiliki senjata sendiri. Untuk menambah kekuatan, kami telah bergabung dengan Liberte Internazionale Divisione yang berkekuatan 98.000 infantri bersenjata lengkap, 1.400 unit tank, 1.000 meriam darat on load, 7.500 infantri spesialis, 5.600 jet tempur, dan ratusan kapal perang segala ukuran. Jika mereka berani macam-macam, kami siap dengan ratusan rudal nuklir,”
Saat berita ini diturunkan, MOS masih dijalankan di beberapa sekolah, namun ada juga yang memanfaatkannya untuk membuat para siswa baru tambah takut melawan kakak seniornya. Di SMAN 6 Jakarta misalnya, serangan ini dijadikan propaganda agar para siswa baru tidak berani melawan.
“Setuju nggak seandainya kegiatan kayak gini dihapus, Bli?”
“Margin untung bisa mengecil! Bli yang benyek,”
“Kan bisa genjot dari yang lainnya. Macam es, atau jajanan,”
“Kalo nggak salah, ada anak kelas 1 di belakang, ya?”
“Ada. Sama di induk. Itu lho, gadis turunan Jepang itu,”
"Jepang? Oh, cewek yang rambutnya pendek itu?”
“Persis! Dia adiknya Kahoko,” dan perbincangan ini terinterupsi teriakan gahar dari arah sekolah, “Berani taruhan, ini pasti pelampiasan gara-gara serangan besar-besaran sepanjang dua hari ini. Serang lagi!” dan aku menekan tombol pada jam tanganku
“Roket itu bikinan coy?”
“Aku hanya bikin cetak birunya. Masalah perakitan itu tanggung jawab orang sana. Nantinya setiap agen dijatah 50 biji, kalo mau lebih tinggal beli. Kenapa?”
“Nggak, maunya sih Bli cari itu buat diarahin ke Sapta Junior. Isiin cabe dibakar lalu Bli ngacir cari stok. Ciieeng!! Bli ngakak dari sini ngeliat gimana tampang mereka,”
“Sumpah, gak kepikir aku mau pake cabe bakar. Roketnya orang sekarang isi nuklir. Kalo mau pesan, bisa telpon ke sini dan bilang Alex ngiklan,”
“Permisi,” seseorang dengan jaket kulit dan tampang tukang kredit datang
“Bli, ada orang cari tabungan,”
“Koq sekarang banyak sekolah diserang? Ada masalah apa?” dan setelah dia bertanya, dia menoleh ke arah Bli Gusti dan berkata,”Es sirup Mangga,” sembari mengambil sepotong tahu goreng
“Tahu, paling juga ortu murid nggak terima, lalu ada yang menyerang sekolah itu. Masuk akal, kan? Namanya juga nggak mau anaknya disakiti,”
“Bli! Nasi bungkus sama tahu dua dan sirup apel satu,”
“7k.”
“Ini, masukkan sisanya ke rekeningku,” aku menyerahkan selembar uang ungu.
/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\
Kelar nongkrong, aku segera naik ke kamarku, masak buat makan malamku dan tidur barang satu atau dua jam. Jam tiga kurang sepuluh, aku terbangun, cuci muka dan pergi ke toko buku buat berburu buku baru, siapa tahu ada yang bagus. Baru keluar perimeter Monang-Maning, aku dikejar sama orang-orang dari forkom, mungkin gara-gara jaketku yang ada crest EFA di lengan kirinya. Jadi perang motor lawan preman bayaran OSIS. Motorku bersenjata 2 20mm autokanon, 2 .50 MG, 4 .30 MG free-mount sama 4 .18 MP, lebih dari cukup untuk membersihkan mereka. Di kawasan Teuku Umar, mereka menyerah dan mundur baik-baik sebelum aku meledakkan mereka. Belum jauh dari persimpangan utama di tengah sektor, aku diintersep serombongan preman bermotor. “Makan ini, alay keparat!!” aku berserapah sambil menyemburkan peluru dari motorku.
Mereka udah tahu kayak gimana rasanya melayani fighter dewa. Kurasa mereka nggak bakal berani cari gara-gara. Untuk jaga-jaga, aku membawa pisau lipat dan sepucuk pistol di saku celanaku karena jaket harus dititip. Lalu aku mencari komik La Corda D'Oro (aku cowok tapi baca komik cewek, salah makan apa waktu itu?). Jackpot! Aku mendapatkan komik jilid 6. Cukup dengan perburuan awal, sekarang cari buku lain yang aku perlukan. Semua buku yang aku incar total menguras kocekku sebesar 140 k-rupiah. Mumpung ada sisa 70 k, mendingan aku main sebentar di Timezone. Aku mengisi ATM gamer-ku 40 k. Game pertama yang aku urus adalah Ghost Squad dengan senjata serupa MP-5 SOPMOD. Mengoperasikan MP-5 itu mudah untukku. Kecuali fire-selector-nya di kanan sementara kalau mengoperasikan senjata, mata kiriku yang paling reliabel. Kelar dengan game itu, aku memainkan game-game kelas bulu yang dikhususkan untuk mencari tiket yang nantinya ditukar (kalo aku biasanya dengan alat tulis yang aku pandang perlu). 35 k terpakai di dunia game
Puas menghibur diri, aku segera melesat balik ke kos. Baru mencapai sektor Imam Bonjol, radio EFA-ku berdering,
“Alex masuk,”
“Lex, kami perlu otak dewamu. Cepat temui kami di markas pusat,”
“Aku segera kesana,” aku mengalihkan arah JABO ke perbatasan selatan kota
Alay-alay sialan itu rupanya patroli di kawasan Densel. Kontan aku ngamuk dan nyembur ratusan butir amunisi dan merontokkan selusin dari mereka. Tinggal lihat siapa yang terbunuh
“Komando ADTF!! Ini Cruiser, aku menghabisi banyak anjing di kawasan ini!”
“Oke, misi terkonfirmasi. Mengirimkan tim 4 ke TKP. Surat dikirim ke kediaman,”
Dan di pangkalan komando,
“Alex! Kau datang tepat waktu untuk ini,” Tom menyerahkan secarik kertas berisi campuran karakter 'sampah'
“Ini bukannya bahasa alay, ya? Maknanya adalah 'EFA, menyerah dan hentikan serangan roket kalian atau kantor kalian diserbu' dan ini berarti perang,”
“Cepat banget kau pecahin kodenya,”
“ADTF wajib memecahkan kode ini dalam setengah detik untuk naik pangkat.”
“Tau deh, calon kapten divisi pemburu ADTF..”
“Lalu, tolong analisis rekaman ini,” Erwin menepuk bahuku
“Aku udah urus itu!” Kogoro teriak dari cubicle-nya
“Siapa tahu dia punya analisis yang lebih baik!”
“Wei! Gak percaya aku?!”
“Serahkan aja padaku. Nanti kita lihat,” aku menyambar rekaman itu dari tangannya Erwin
Video ini berdurasi semenit seperempat. Isinya adalah seorang pemuda berbicara membelakangi kamera. Dia berpesan bahwa kegiatan orientasi sangat kaya gunanya sekaligus mengutuk semua pihak yang menentang kegiatan semacam itu dan mengundang UNESCO untuk melihat jalannya MOS/OSPEK/sebangsa-setanah airnya. “Masuk akal dia membuatnya dalam English. Tapi aku tinggal menyuruh Adolf untuk mengambil foto-foto tentang ini dan bimbanglah maho-maho PBB itu. Tunggu dulu, mungkin nggak kubu sana udah dirasuki Israel? Kalo iya, urusannya runyam bin romusha,
“Gimana? Udah dapat sesuatu?” Erwin sama Shizu menepuk pinggiran cubicle
“Gampang! Dia mengancam membawa kasus ini ke UNESCO dan kementerian. Perlu kita bikinkan propaganda saingan?”
“Pasti! Tinggal cari Jack, tugaskan Adolf dan kita selesai,”
“Hati-hati sama organisasi yang ada oknum Israelnya. Biasanya dia memanfaatkan sikon macam ini buat memecah kita,” Shizu mengingatkanku
“Oke! Tinggal mewaspadai Ass-rael itu aja 'kan? Perkara gampang!” Erwin nyerocos sementara Shizu minggat
Bungut ci! Kaden ci aluh ngurus Shit-rael? Aing! Ameriki homoanne Shit-rael!” Agen Ary teriak dari cubicle-nya "Mulutmu!! Kau kira gampang ngurus Shit-rael? Gak banget! Amerika homoannya Shit-rael"
Sing ada urusan buin cang? Cang kar mulih!” aku beranjak dari cubicle dan menyambar jaketku "Gak ada urusan lagi aku?? Aku mau pulang!!"
“Tungguin agen Hayate! Dia mau cari kamu!”
“Panggilan pada agen Alex agar menemui agen Hayate di meja informasi,” suara mekanis memanggilku. Tanpa buang waktu, aku segera marching ke meja info
“Cok! Ini ada pesanan dari Gusti Ngurah Arnata. Alamatnya di Patuha V nomor D1. Itu kan kosmu. Tolong dikirim sekalian kau pulang ke kos,” dia menyerahkan beberapa roket yang hulu ledaknya sudah dilepas, “Berarti Bli Gusti jadi beli dan warheadnya lepas agar bisa diisi sendiri,
“Kau tagih sendiri pembayarannya ke dia!”
Di jalan pulang, aku melihat peserta MOS dari sekolah apa dipaksa jadi pengamen di jalanan jam segini (6 pm). Aku sengaja mengambil sisi kanan karena ada beberapa pemuda mengawasi mereka dan aku berani taruhan, itu kakak kelas mereka. Kalo mau, aku bisa saja mengobral sekotak peluru 4,6mm dari MP-7 “Comet”. Tapi aku tahu sikon nggak memungkinkan untuk open fire. Solusinya hanya dengan menandai sektor ini agar dipatroli dan selamat tinggal. Setelah masuk wilayah komando, aku membeli sayur campur di toko makanan langgananku.
6.40 pm, aku udah di warung, membeli sebungkus kacang disko dan menyerahkan roketnya. Briefing dulu dia agar ngerti caranya
“Gimana cara ngendaliin roket ini, coy?”
“Tinggal balangin penanda kecil ini ke target dan dia akan mengimplan dirinya di sana,”
“Terus?”
“Sejam kemudian, tinggal ngacir lalu tekan tombol ini. Satu penanda satu tombol,”
“Berarti, Bli cukup kabur dan tekan tombol di sana lalu pura-pura blo'on,”
“Remote ini tinggal dipasang di stang motor atau dimana saja. Aku menaruh punyaku di jam tanganku,”
“Gimana pembayarannya?”
“Ada besok temanku dari aliansi narik setoran. Tinggal minta dia tunjukin kartu identitasnya dan cocokkan sama punyaku. Kutitip punyaku di sini biar bisa dibandingin,” aku memberikan kartu EFA dan kembali mengambil segelas minuman penambah stamina
“Coy! Ada surat dari ADTF! Jam 9 dicari,”
“Ada pulpen? Biasanya ini hanya perlu diteken,” aku segera meneken surat itu dan, “Aku mau makan dulu di atas. Torpedo satu sama kacang disko,”
“2k. Tadi sisa 3k berarti lagi 1k,”
Setelah rampung, aku kembali naik ke kamarku bersama salinan surat sebagai arsip pilot dan segera membongkar barang buruanku. Selain La Corda D'Oro, aku membeli majalah CHIP edisi Juli 09, Kehancuran Indonesia Pasca-SBY, sama dua unit Schaum Easy Outline : Kalkulus sama Geometri. La Corda D'Oro bisa dibaca belakangan, pelajari Schaum kalo ada kejuaraan bulan berikutnya, CHIP bisa bawa sekolah, baca aja dulu buku politik ini, takutnya buku itu dilarang dan tamatlah riwayatku.
Lalu aku mandi dan makan sendirian di kamar. Tiba-tiba, Yogi 'Hoho' datang dan meminjam kunci JABO.
“Aku mau makan. Nitip sesuatu?”
“Bensin. Mulai tipis tuh, bomber gue. Ingat, dia minum bensinnya Kaskus,” aku menyerahkan kunci JABO dan sejumlah uang
Larut malam, aku memata-matai sekolah dengan UCAV yang aku lepas dari teras kamarku. Sekolah ternyata memasang instalasi hanrud ringan. Aku retaliasi dengan memasang all-aspect jammer di UCAV buat ngerusak radarnya dengan mengobrak-abrik sinyal yang diterima sama memasang BordKanone 75 sebagai senjata pamungkas. Jaminan aku menang, seandainya roketku gagal menemui sasaran, Mauser BordKanone 75 akan melepaskan peluru kaliber besar dan meledakkan satu lapangan dalam dua detik.
“Sekarang kalau mereka berani mengancam EFA, aku akan kerahkan MBK,” aku terkekeh sendiri
Pagi ketiga, aku memata-matai MOS lagi dan menyiapkan sekotak mercon yang sudah dijejalkan dalam palka bom UCAV. Aku selalu siap membalas teriakan gahar mereka dengan roket-UCAV-artileri. Marahlah dan siap-siap mereka meledak. Roket gagal, UCAV siap. UCAV kena jebakan, artileri bicara. Artileri ketahuan, roket melindungi. Mau apa, aku siap menangkis serangan
Aku selalu membawa UCAV dalam tasku dan mengurangi jumlah buku yang aku bawa menjadi jurnal pelajaranku, kumpulan naskah proyek, sama buku bimbel returan. Selain itu, tasku biasanya isi sebotol air, 'Mein Kampf' buat GL Fusiliers, notebook, sepasang UFD, HDD eksternal, survival kit (Swiss Army knife, senter, silet, dan kompas) dan sejumlah alat tulis dengan komposisi : 4 pensil mekanis (.30, .50, .70 sama .90) lengkap dengan isinya, dua ballpoint, satu set instrumen geometri, stapler, dan penghapus. Buku pelajaran sama buku tulisku semua di kelas, siapa berani maling akan membayarnya lunas dengan kepala.
Hari ini MOS lebih banyak di kelas isi seminar dari luar. Udah jiper kali, dibom dengan serangan bertubi-tubi. Aku yang menerbangkan UCAV keliling menangkap orang dari Polda mau nguliahin para freshman soal narkoba. Saatnya menarik Kolibri mundur ke sebelah kelas. Tunggu kelar dulu kuliah dari Polda, ada amukan senior dan selamat meledak.
Agar dikira salah perhitungan, aku sengaja menembakkan roket ke lapangan kosong. Panitia MOS pada kena jebakan betmen. Perasaanku nggak enak, kayaknya sekolah udah nebak obstruksi MOS itu dilakukan oleh orang dalam sekolah. Tapi aku sudah menutup kemungkinan itu dengan sengaja menembak momen kosong. So far so good. Aku segera memastikan mereka tertipu dengan Kolibri. Kurasa perangkapku bekerja kecuali mereka menebak kemungkinan serangan itu memang oleh orang dalam. Tapi tebakan tanpa bukti adalah peluru kosong yang tidak ada efeknya kecuali deteren sekilas.
Siangnya, Kahoko nelpon dari sekolah bilang minta Shoko digendong pulang. Dia mendadak pingsan waktu habis kuliah dari Polda. Untung atau sialnya aku belum jauh dari kelas. Aku segera menuju ruang UKS dan langsung menggendongnya pulang.
“Hey, kalian lihat anak kelas 2 itu?”
“Ya. Padahal lengannya kecil begitu, tapi dia kuat banget.”
“Kalian lihat dia?! Itu standar fisik kita!!Yang di belakang jangan cari aman!” TOA jancok itu memancing amarahku
“An, dengar apa yang dia bilang? Kamu dijadikan bahan propaganda.”
“Ingatkan aku untuk membacoknya kalo besok aku mobilisasi.”
Kamis adalah hari mobilisasi. Semua personil EFA dikerahkan untuk menyerang secara fisik MOS. Aku segera bergabung ke pasukan penyerbu bersama beberapa anak-anak sekelas. Senjataku adalah MP-5 "Drago" berisi peluru 'bogem mentah' dan bayonet asli. Sebelumnya untung jam istirahat pagi, jadi aku bisa ganti seragam ke jaket EFA dan membungkus celanaku dengan pelindung kaki. Tanpa terlihat guru, aku segera bermanuver untuk bergabung ke tim penyerang. EFA diberi ijin untuk membunuh sepanjang mereka menghendaki dan sikon mendesak.
“Jancok!! Kuberi 10 detik untuk membatalkan semua ini!”
“Serang dia!!” ketua OSIS sekolah (persetan namanya siapa) memerintahkan untuk menghajarku
“Bodoh! Apa kalian ingin menyia-nyiakan nyawa kalian yang hanya satu?!” aku mengangkat Drago
“Serbu!” teriak anjing-anjing panmos itu
Saat satu orang maju duluan, aku langsung menikamnya dengan sangkur. “Bangsat!” itu teriakan saat dia sekarat dan aku mengancam yang lain, “Ada yang mau?!”. Mereka langsung ciut sementara ketua OSIS-nya berteriak, “Lembek sekali kalian!! Ini contoh senior!?”
Aku langsung mendekat dan berkata dengan dingin, “Kau yang mengendalikan mereka?” dan tanpa menunggu jawaban aku langsung menyangkur mulutnya. Lalu aku menurunkan maskerku lalu menjilat sangkurku yang berlumuran darahnya. Itu membuat para freshmen ketakutan karena bisa saja mereka korban berikutnya. Ada dua orang guru mendekat, lalu aku bereaksi dengan masuk mode standby fire. Mereka membubarkan MOS tahun ini dan diperintahkan agar ditutup siang ini juga.
Hari Jumat, saatnya gencatan senjata dan jack-ass buat presentasi klub ke anak junior. Aku dapat jatah presentasi pertamax dan (terpaksa) tampil ala rock star buat lenyapin rasa beku di tangan. Aku biasa tanganku beku kalo lagi nervous. Aku curi start dengan bilang pendaftaran dibuka minggu depan dan ujian saringan menyusul. Belum sempat memberikan bonus berupa free-pass ke klub, tiba-tiba ada panitia menodongkan sebuah pelat manila (stofmap kayaknya) dan ada tulisan “TIME UP” pertanda aku harus menyudahi presentasi ini
“Remember, Foursma Math team wants you! Join us right now!” aku meniru gaya poster rekrutmen perang dunia
“Sungguh presentasi yang sangat bersemangat. Berikan aplaus yang meriah untuk Klub Matematika kita,”
Akhir MOS, kementerian menyerah kalah melawan EFA dibawah ancaman bom nuklir dan serangan masif dari segala penjuru Indonesia. Kementerian menghimbau dinas pendidikan agar melarang kegiatan awal tahun ajaran. Namun tugas EFA belum tuntas, siapa tahu ada bullying atau sekolah ndableg, agar selalu siap menyerang dalam sedetik.
Tahu-tahu, Udayana Gakuen masih menyelenggarakan OSPEK. Aku segera melapori EFA untuk meminta ijin serangan udara ke sana dan ijin diberikan dengan syarat minimalisasi kerusakan kolateral. Kuli banget kalo disuruh menekan kerusakan kolateral kecuali aku bisa menggunakan rudal jelajah jarak dekat. Dalam sikon macam ini, rudal 'Kalsium' (CALCM = Conventional Air-Launched Cruise Missile) yang diimplan di Mersu juga keluar. Saatnya mulai serangan gertak sambal dengan beberapa bom ringan. Asap yang dihasilkan oleh bomku sukses mengobrak-abrik kegiatan haram itu. Kemudian aku kabur ke wilayah barat untuk menghindari pengejaran kendaraan udara mereka (kalo emang ada). Yang jancok, si Kalsium itu membebani superstruktur pesawatku sehingga mustahal bisa ngeles kalo diserang sebelum melepas rudal dan kalopun lepas, senjata tersisa hanya sepucuk motorkanone dan tinggal berdoa biar gak duluan wasalam sebelum masuk wilayah kawan.
Selebihnya, aku serahkan ke EFA untuk tindak lanjutnya. Mereka memerintahkan gempuran skala masif. Si Kalsium terpaksa keluar dari gudang senjataku dan standby di cantelan sentral Mersu. Udayana Gakuen langsung menjadi korban serangan udara EFA dan mereka mendapatkan sejumlah besar micro-nuke (MIRV versi cruise missile). Skuadronku langsung ikut dalam penyerbuan sebagai air cover. Pihak Udayana langsung membalas dengan arhanud (bahasa standar untuk flak). Watdefak!? Flak? Udah tajir ini universitas, sampe punya flak. Terpaksa Kalsium mengguyur sarang flak musuh.
Setelah kondusif, aku mengalihkan penjagaanku ke kegiatan 'Organisasi' sekolah. Untungnya Shoko dan Kahoko jadi KSTO (kelompok siswa tanpa organisasi) alias siswa yang membaktikan dirinya demi sains/olahraga/seni. Jadinya ya, gampang ngeroket kalo ada senior macam-macam sepanjang pelantikan (dengan syarat aku tau mereka dimana dan kapan).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Tweets by @RealCruiser