Welcome!!

Selamat datang di blog milik Andika Candra Jaya (a.k.a TheCruiser)

22 Desember 2011

Motor Sortie

 Penugasan hari ini adalah mengantar keponakanku, anaknya Ko Agus (sepupu dari sayap bapak) ke tempat les musik di Yamaha cabang Kuta di sektor Charlie Bravo Five Nine. Misi lain yang tiba-tiba muncul itu adalah urusan lain. Nanti atur sendiri.
Rabu malamnya, Ko Agus SMS aku, “An, bsk tlg antrn yuni m yuno k yamaha music” lalu aku balas “Alamat sama jam”. Ko Agus bilang jam 3 pm di SD Pelita Bangsa di Mahendradatta. Itu sih arena latihan pursuit, entah udah berapa alay tukang trek-trekan aku tembak hancur di kawasan itu. Aku bilang oke. Ini panggilan adalah CTA (call to arms).
/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\
Kamis pagi sekitar jam 5, tiba-tiba seseorang telpon aku,
“Halloo....,,” aku setengah ngelindur, “siapa sih orang ngigau nelpon jam segono??“An, siang ini gantiin bapak di klub. Sekarang pak lagi ke kampung,” rupanya Pak Sudana mudik
“Okeee..,” aku nutup telpon “lotnok!! Aku jam setengah tiga udah to arms,
Itu artinya aku bakalan dipastiin ngajar. Aku sekolah dengan nunggang JABO (JagdBomber, nama motorku) padahal jarak dari kosan ke sekolah hanya 1 menit jalan kaki lewat lapangan dengan normal pace. Aku ngikutin pelajaran hari Kamis seperti biasa. Tapi, abis jam pertama, Olahraga, si Tegar masuk ke kelas bawa surat dispen buat kejuaraan Mahasaraswati Cup. Pas aku ngecek siapa yang ACC buat ngirim math squad ke Unmas Math Cup dan Coppa Udayana, tau-tau Pak Budi (a.k.a Babibu) ngasih teken getaway. Tumben dia mau neken, soalnya nggak ada Pak Sudana, Pak Mendung mana mau ngasih ijin kompetisi, Pak Ngurah malahan bikin aku ngakak ngebayangin dia ngasih teken dispen sebagai pembina alih-alih wakasek.
Sesi 3-4 : Matematika. Aku sih sebodo amat anak-anak sekelas tahu apa gak kalo dia mudik, aku mau belajar aja demi Mahasaraswati Cup. Arena latihan Math Squad selalu di TRRC. Aku cek dulu perpus siapa tahu ada orang lagi cari teori. Mereka raib berarti udah di gelanggang Math Squad atau ngumpet di referensi. Aku mendingan ke kelas, belajar lagi buat UMC.
Sesi terakhir : Fisika. Saatnya minggat ke TRRC. Dia (Tramtib sekolah) mau ngamuk kayak gimana sama aku, bawain aja kumis brothers dan dia menyerah.
/\/\/\/\/\/\/\/\/\
Pulang sekolah, aku lagi ngepak buku sama laptop saat Tegar sama Bagas nyelonong,
“Kak, nanti kakak ngajar. Tadi Pak Su nelpon aku. Dia bilang takutnya pesannya nggak nyampe tadi pagi, soalnya dibilang kakak masih setengah sadar,” Tegar ngasih tau pesannya Pak Su
“Aku tahu. Mau keluar dulu, perutku udah orkestra kodok,” maksudku aku udah lapar berat
“Di belakang?” Bagas nanyain aku
“Oke. Gar, kau ikut?”
“Jelas!” lalu kamipun jalan bertiga ke warung di belakang sekolah yang terkenal murah dan bisa makan sampe puas dengan kocek cekak ala anak kos (6000 udah dikasih nambah). Di warung Uma Dewi, aku gep Ivan lagi makan bareng gamer-gamer Foursma : Gustav, Airlangga, Wijaya, ama Anto, “Wess, kuintet gamer pesta. Abis nyakcak grup lain?”
“Nggak, malahan lagi susun rencana ngabas WPS,” Gustav ngomong
“Van, kau ntar klub?”
“Qhe aja! Aku mau GO,”
“GO??” Tegar loading dulu sementara aku langsung ngomong, “Kalo lima ini, GO artinya lain,”
“Ya, tahulah maksudnya GO lawan WPS,”
3 menit kemudian, pesanan kami datang. Baru beberapa suap, HP-ku bernyanyi lagu “Brand New Breeze” OST La Corda D'Oro tanda ada telpon masuk, “Kenapa?”
“An, ntar sebelum ke sana, ke rumah koko dulu di Gunung Agung, ngambil instrumen mereka,”
“Oke,”
“Siapa itu?” Tegar nanya aku
“Re-briefing misi. Ntar aku cuma ngajar sampe setengah tiga. Ada misi ke Gunung Agung,”
“Kak Yogi gimana?” Bagas ngasih ide
Jlema cara ia madakang ci kar klub yen ba dadi senior,
Jam 1 kurang seperempat, aku duluan bayar (4500 tanpa nambah) lalu balik ke sekolah dalam marching pace buat nyusun bahan ngajar klub. Kemudian aku kembali menghadap laptop buat nyari bahan ngajar geometri. SKS (sistem kebut sekejap) nyusun bahan.
Jam 1.05, aku segera naik ke X-1 di atas. Aku memerintahkan anak-anak kelas X dan XI untuk gabung karena aku akan mengajarkan materi tentang Teorema De Ceva. Nasib sial Senin kemarin kalah jack-ass (kalah ngajar, gak ngajar di stater) lawan Ivan dan Yogi. 30 menit teori kayaknya cukup. Sekarang saatnya soal yang langsung dibahas. Tegar selaku veteran pasti bisa soal-soal kayak gini dalam dua detik.
/\/\/\/\/\/\/\/\/\
Jam setengah tiga lebih sedikit, aku mengakhiri klub minggu ini karena aku harus ke sana buat misi dan mengambil apa yang diperlukan di sana. Di parkiran, aku menemui Kahoko Maharani (anak kelasku) sama adiknya, Shoko Pusparini yang secara kebetulan satu kos. Mereka di induknya dan aku di atas. Psst, aku udah sukses macarin si adik
“An, kamu kemana?”
“Jemput ponakan di Mahendradatta lalu anter mereka ke sekolah musik di Kuta,”
“Boleh dua cewek nebeng nggak? Kita ngambil helm dulu di kos,” Kahoko nanyain aku dengan menggoda, “
Mati aku! Kalo si kembar yang masih SD kelas 3 sih berani aku three in one, kalo dua anak SMA ini, lain perkara. Terpaksa pinjam sespan skadron,
“Aku kontak skadron dulu, minjem sespan,” dan aku segera ngebreak ke markas skadron. Di ujung sana, Dwik “Buaya” yang ngangkat radioku
“Ini pangkalan pusat. Ganti,”
“Pangkalan, ini Cruiser. Tolong antarkan sespan ke sekolah. Posisiku di depan lobi. Ganti,”
“Perlu berapa? Ganti,”
“Aku pesan sepasang sespan. Ganti dan keluar,”
Dia segera datang dengan dua sespan. Kemudian aku memaksanya bantuin masang sespan itu. Si Buaya ini minta dibantu pelajaran kimia, padahal aku waktu kelas satu, kerja kuli ngerjain soal-soal tatanama senyawa ionik. Cukup dalam 40 detik, sespan udah aman. Kemudian akupun lepas landas bersama 2 cewek itu.
Pertama ke Gunung Agung, rumahnya Ko Agus buat ngambil alat musik mereka. Di tujuan awal, aku turun. Jelas, sebagai tamu, aku harus mengetuk pintu dulu. Kemudian, Ce Lina (istrinya Ko Agus) keluar dan memberikan 2 buah kotak plastik dan berpesan,”Berikan yang ungu ke Yuno dan yang pink ke Yuni. Jangan sampe ketukar,” lalu aku permisi dan segera berangkat ke Mahendradatta dengan kecepatan 40-60 kph (M 1,0-1,5)
“Gak apa-apa kalo aku menembus M 1,8?” aku menanyai mereka setelah melewati lampu merah terakhir sebelum perempatan ke Meazza Futsal.
“Silahkan saja selama senpai berani tanggung kalo terjadi sesuatu,” Shoko menyahut.
“Tembus kalo bisa,” Kahoko ngomong.
Oke, Here I come, M 1,4. M 1,7. M 1,8. M 1,9. Itu dia sasaran, Pelita Bangsa. Nyalakan rem, tutup throttle, turunkan landing gear (kaki) lalu matikan mesin dan keluar dari motor biar nggak dicurigai. Di depan pintu utama, aku ditanyai satpamnya, “Jemput siapa, mas?”
“Yuni dan Yuno Kartika. Keduanya anak kelas 3. Aku pamannya.”
“Sebentar. Isi dulu buku ini,” dia menyuruhku dan berbalik meneriaki temannya, “Woi, Ndro! Cari Yuni sama Yuno anak kelas 3. Mereka udah dijemput sama pamannya.”
“Ngapain sampeyan yang jemput? Kan biasanya bapaknya,” satpamnya memulai pembicaraan. Namanya Ruli dan kayaknya dia cukup ramah.
“Dia lagi ada kerjaan extra hari ini. Istrinya lagi jualan produk.”
“Sampeyan sendiri sama bapaknya iku ono opo?”
“Aku sepupunya. Kakak kedua bapakku adalah kakek dari si kembar ini.”
“Omong-omong, sampeyan iki kerja opo?”
“Aku anak SMA biasa,” aku merendah
“Dimana?”
“SMAN 4 Denpasar.”
“Wis tah, iki ponakan sampeyan. Hati-hati, mas!”
“Yoo!” aku segera ngacir ke depan tempat mereka menunggu dan segera mengatur mereka. Yuno yang rambutnya dikuncir dua duduk sama Shoko sementara Yuni yang rambutnya pendek duduk sama Kahoko dan aku meminta dua cewek itu buat memangku ponakanku. Lalu aku membagikan kotak yang udah diberikan Ce Lina : ungu ke Yuno lalu pink ke Yuni
“Asuk koq ngajak mereka, sih?”
“Mereka juga les musik di Yamaha Kuta dan mereka tinggal di inang kos aku. Udah, nanti kita ngobrol di jalan. Kalian ngambil kelas jam 3.30 sampe jam 5 'kan?” aku mulai saat menaikkan IAS ke M 0,8.
“Ya! Soalnya kita juga perlu waktu belajar buat kejuaraan berikutnya. Jadi les musik ini sekalian refreshing.”
“Enak, elu berdua pada main musik. Gue cuma punya Il-2 Sturmovik atau San Andreas sebagai hiburan pribadi!”
“I-el dua Sturmovik? Apa itu, Suk?”
“Simulasi pesawat jaman belum merdeka, favoritku. Yang satunya adalah hancur-hancuran,”
“Yuno, kalo nggak salah, papi pernah main pesawat juga 'kan?”
“Pernah juga, tapi main Tom Clancy Hawk. Sayang papi nggak ngasih kita main itu. Dibilang kita belum cukup umur.”
“HAWX!? Seru tuh! Tapi apa daya, laptop nggak memadai. Nasib beli laptop tahun 08.”
“An, bukannya kamu juga pernah main HAWX?”
“Ya, itu bukan laptopku! Itu laptopnya Mikey, asu!”
“Oh iya, Kak Kahoko. Boleh tahu game buat anak SD nggak?”
“Coba Diner Dash atau Rise of Nations. An, COD itu?”
“Si Dharma ama Beton itu yang punya! Bloody hell! Fuso ngandang!”
Aku mencoba untuk tetap tenang sambil terus mencari celah manuver melawan truk Fuso sialan ini. Truk sialan ini benar-benar menyebalkan. Mau open fire, jaraknya berbahaya. Mau ngalah, bisa telat soalnya kecepatannya hanya M 0.7. Mau ngeles, dari kanan mobil pada ngebut, salah-salah akunya yang tamat. Pucuk dicinta ulampun tiba, aku bisa melihat celah dimana battleship keparat ini mati langkah. Saatnya aku melepaskan kecepatan-dewa motorku dan Fuso sialan itu sukses aku tumpas. Sebagai bonus, sopir Fuso itu aku berikan jari tengah (fuck you). Another supercruise in M 1.75 sampai aku mendekati wilayah Kuta. Setelah masuk perimeter kampung turis, aku mengurangi kecepatan ke M 1.25.
/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\
Jam 3.20, kami udah nyampe di Yamaha Music School. Aku markir JABO lalu mencium keningnya Shoko. Di arah jam 11 ada Supra X DK 83X@ D# punya Dharma ngacrok disini. Ngapain dia? Panjang umur, si empunya fighter muncul di sebelah pembom-tempurku.
“Qhe ngapain disini, cok?” dia menepuk bahuku, “Taruhan, dia lihat flakjacket Percasi aku.
“Nganterin 4 orang sekaligus. 2 ponakanku dan 2 cewek yang ngekos di induk dan kebetulan ketemu pulang ngajar. Lah kau sendiri, nyet?”
“Aku nganterin Dina les piano. Kaget? Wajar. Naik yuk” pas dia bilang Dina les piano aja sarafku udah serasa dihajar EMP. Dina les piano? Kupingku torek nih?
“Kebetulan aku mau jalan-jalan di dalam. Penasaran sama isi akademi musik ini. Ketimbang moksa jadi hantu penasaran,” aku segera ke front office.
“Selamat sore. Untuk para pengantar/penjemput murid, kami menyediakan lounge dan perpustakaan yang bebas dimanfaatkan. Kebetulan kami sedang open house. Kalau berminat, bisa ikut kami ke kelas murid itu. Kalian mau kemana?”
Aku milih ke perpus sementara Dharma ke kelas piano-3C tempat si Dina les. Sebenarnya aku iseng-iseng nanyain kabar empat orang yang bersamaku. Yuni di clarinet-2B, Yuno di violin-2C, Kahoko di violin-6A, Shoko di clarinet-5A. Pas dia sadar aku menanyakan 4 orang sekaligus, dia tanya, “Ada hubungan apa sama 4 orang itu?” yang aku jawab, “2 anak SD itu ponakanku, yang klarinet SMA itu ada sesuatu sama aku dan yang terakhir itu kakaknya si clarinettist,” dan aku segera ngeloyor ke perpus.
Di perpus, aku segera mencari rak yang berbau akustik instrumen. Setelah pencarian singkat, aku segera mengeluarkan skill gurita untuk mengambil selusin buku tentang itu, membawanya ke meja yang nganggur, menyalin konten pokok buku itu ke catatan risetku dan menyalakan laptopku untuk mencari bahan tambahan di internet. Petugasnya tiba-tiba menepuk bahuku,
”Kamu mau mendapatkan e-book semua buku disini? Kami punya versi digitalnya. Kamu tinggal membayar sejumlah uang lalu semua e-book disini akan menjadi hakmu. Kamu bebas melakukan apapun dengan e-book itu kecuali menduplikat filenya lalu menjualnya. Itu melanggar hukum,” dan aku segera mengangkat HDD eksternalku tanpa bicara.
“Aku menerima tawaran itu. Copy ke HDD eksternal itu. Apa aja paket yang ada di sini?”
“Kalau mau paket sesuai jenis, ada. Mau paket per buku juga ada. Paket per jenis jatuhnya lebih murah, 15.000 per paket. Paket per buku 4.000 per 20 buku sementara satu jenis bisa mengandung minimal 90 buku.”
“Aku ambil paket Violin, Clarinet, History sama Science sama beberapa paket picisan, judulnya sudah kutulis di sini. 60 k rupiah 'kan? Berapa giga total jendralnya?”
“Semua 72.000 dan ukuran totalnya 2,1 gigabyte. Nanti HDD-mu aku bawa ke meja atau minta di sini setelah jam 4 seperempat,” dia mengulurkan tangannya, “Jancok, belum apa-apa aku udah dikompasin di sini. Demi riset violin dan clarinet, apapun kulakukan.
“Wess, balikin dulu barangnya, baru aku bayar. Kalo terjadi apa-apa biar aku bisa nuntut kamu ke pengadilan.”
“Oke, nanti pembayaran saat barangnya udah balik dalam kondisi seperti saat kita transaksi. Nanti aku kesana jam 4 seperempat,” aku pun balik ke meja dan belum beberapa detik lewat, tiba-tiba Hatsuharu bernyanyi Clarinet Polka tanda ada SMS, “Ntar k RR j 6. Ultah C Lina” dari nyokap. Wadefak! Gimana aku ke Restoran Renon saat motorku ber-sespan dan ada sisa penumpang lagi 2 orang dalam 60 menit? Tak ada pilihan kecuali SMS nyokap “Ma, lagi disuruh anterin anaknya ke Kuta! Plus ada 2 cewek satu kosan yang ikutan”. Baru nulis satu kalimat di catatanku, Brand New Breeze mengalir.
“Kenapa lagi?”
“Gimana caranya bawa 4 orang di kendaraan macam Vario?”
“Kantan..., skadron punya 3 pasang sespan, tinggal pinjam sepasang dan urusan kelar,” nada bicaraku seperti menggampangkan urusan.
“Ya udah, ajak aja mereka,” Nyokap segera tutup telpon “Kunyuk!
Aku kembali melanjutkan riset fisikaku sampai jam 4 seperempat saat petugas tadi mendatangiku dengan HDD di tangannya. Aku segera menarik dua lembar uang duapuluhan, selembar sepuluhan dan beberapa limaribuan dan bilang, “Ambil sisanya,” tanpa menatap si petugas dan HDD-ku udah duduk di meja dengan aman. Malam ini, balik dari Renon saatnya pelajari buku-buku itu. Sekarang cek dulu, siapa tahu file-nya rusak.
/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\
Jam setengah lima lebih lima, duet laptopku yang udah mulai kehabisan tenaga protes minta dimatikan. Turuti saja maunya si Graf Zeppelin dan Kaga untuk dimatikan dan disimpan. Aku mengembalikan buku-buku yang tadi aku pelajari habis-habisan, memasukkan Graf Spee dan Scharnhorst (nama HDD), mengecek keberadaan Kongo, Mysore sama Hatsuharu (nama HP) dan duet Kirov-Slava (UFD), memasukkan Yamato, Bismarck, Littorio, sama Tirpitz (nama kumpulan catatanku) dan segera ngeloyor ke bawah untuk menunggu empat orang itu. Tunggu, kalo nggak salah tadi staf di bawah dibilang aku boleh ke kelas-kelas untuk lihat-lihat. Menurut denah yang di-update setiap pergantian kelas, si Yuno di lantai 2 ruangan Beethoven, Yuni di 2-Mozart, Kahoko di 3-Tchaikovsky, Shoko di 2-Paganini. Keliling ahh..., ke kelas-kelas.
Pertama ke 2-Beethoven. Guru biolanya Yuno kayaknya orang yang bersahabat. Dia mengajar calon-calon violinis dengan cara yang sangat khas Pak Suarya (trainerku saat junior Olympiad). Yaitu dengan membiarkan mereka berlatih sendiri lalu diperbaiki tekniknya sembari latihan lagu yang sama lagi. Harus kuakui bahwa cara ini sangat efektif untuk melatih olympian yang memiliki banyak taktik jitu kalo untuk kompetisi yang bersifat open seperti final Piala Udayana, Indonesian Math-lympics atau kejuaraan yang pake soal essay. Kalo musik, aku belum pernah mendengar ada yang seperti itu melatihnya. GG pak! Salut!
Di kelas klarinetnya Yuni, aku sempat mendengar anak-anak kelas Clarnet diinstruksikan untuk memainkan 'Clarinet Polka' yang aku tahu memiliki level kesukaran yang jauh diatas rata-rata. Kalo nggak salah dengar sih Shoko sempat main lagu itu saat weekend sebelum libur. Dibilangnya itu mau dia ambil buat ujian naik tingkat. Apa artinya jika siswa dengan level skill tinggi mengambil suatu ujian yang penilaiannya berdasarkan kesukaran ujian itu? Clarinet Polka adalah lagu dengan kesukaran dewa. Dia tipenya Pak Bambang (trainer tim Olimpiade senior Denpasar). Tipe yang belum apa-apa langsung memberikan killer blow tapi jika dilihat jagoannya sudah pada depresi, dia langsung memberikan tips-tips jitu dan solusi shock therapy tentang bagaimana menyelesaikan itu.
Di 2-Paganini, aku sengaja berlama-lama disini. Tapi guru klarinetnya (bule cing!!) langsung menangkapku.
You are the motorized militant who kissed Miss Pusparini, right? Are you her boyfriend?” dia asal nyerocos, “Apa dia ngeliat flakjacket aku?
What's the problem?
You know that she is the best clarinettist I've ever taught? Even the level 8 student never achieved level 4 exam score as high as her. And she is quite shy. Tell her to socialize more with her classmate at school,
If you don't mind, back to your class, please,” aku mencoba stay coolTell it to your wanna-be father-in-law,” aku udah serasa syarafku digebukin Tsar Bomba. Si doi mah lebih parah, “What the fuck!? He dare to embarass my girl among her fellow clarinettist? You should thank god I didn't have permission from my superordinate to kill you,
Class, this guy is Shoko's boyfriend! How can an introverted girl have a boyfriend from Motorized Army?” ini guru beneran minta ditampol, “Guru bangsat ini minta modar! Kleng, kal ngeling uba ne Sho-chan,
Herr Heissen, don't make him gone mad. I just saw his weapon from his bag,” satu orang muridnya sadar aku bersenjata
Class, remember that in mid-November we'll have an open show. I want you to perform at least one of these songs with your pair from different classes,
Dia mengajari murid-muridnya dalam English. Taruhan berapa aku mau kalau dia baru sebentar di Indonesia. Gayanya seperti Pak Su dengan memberi lagu yang tingkat kesukarannya terus ditambah sedikit-sedikit dan akhirnya mencapai kesukaran maksimal. Kalo macam matematika yang mungkin menaikkan level dalam sekali pelajaran sih bisa saja. Kelas musik bisa memberikan beberapa lagu sekali pelajaran? Hanya dalam beberapa sirkumstansi spesial aja bisa gitu : entah lagunya pendek, atau emang muridnya jenius semua (semena-mena e'-e', waka-waka o'on. Minjem gayanya Pak Mendung). Kalo itu memang perkaranya, nilai ujian level ini pasti psikopat semua.
Mungkin pada bingung, darimana aku tahu level kesukaran suatu lagu padahal aku bukan musisi. Jawabannya sederhana saja : setiap dengar suatu lagu, aku langsung simulasikan kecepatan perpindahan nadanya, gaya memainkannya, transisi tempo dan rata-rata jangkauan perpindahan nadanya. Ini asal bikin algoritma saja. Biasanya kecepatan menurunkan kendali, bukan? Itu dasar aku menyusun algoritmanya : kecepatan kali kendali pada suatu orang relatif sama dalam artian selisih kecepatan kali kendali untuk setiap kecepatan tertentu tidak akan banyak berubah.
Kelas berikutnya adalah kelas violin-nya Kahoko. Gurunya sih standar dengan gaya mengajar yang sama saja dengan guru musik kolega Pak Suarya, Pak Tantra (benernya sih dia guru matematika yang hobi musik). Dia mengajar dengan memberi satu lagu secara acak lalu memberikan lagu yang lain setelah dirasa semua bisa. Ini guru tipe yang hobi eksperimen dengan kesukaran lagu.
Dulu aku sempat berurusan secara tidak sengaja sama guru ini saat dia melatih anak-anak paduan suara SMP pas aku persiapan buat kejuaraan Foursma Games. Biarpun aku lagi dicekoki soal-soal brutal, tapi otakku cukup kuat untuk mengolah algoritma cara mengajar guru di sebelahku. Pas aku dikasih break sama Pak Ketut, aku iseng-iseng nonton latihan ini.
/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/
Flasback saat aku SMP
“Oke nak. Pak cari soal lagi. 10 soal anak hajar dalam tiga jam. Pak perlu tiga hari libur non-stop untuk 10 soal ini. Is that song annoying for you?” Pak Ketut ngacir ke ruang guru, “The choir really sucks for me,
Not really. But strange for me,” aku menjawab tentang lagunya yang emang aneh
Stay here. Akhirnya keluar juga soal pembunuh yang pak dari 3 minggu nggak ketemu langkah pertamanya,” “Mati cang jani. Baanga Pasupati uli Mr. Tommy O,
Perasaan tadi lagunya lain tapi liriknya sama. Mendingan samperin gurunya. Toh anak-anak paduan suara baru istirahat.
“Permisi, pak. Saya penasaran dengan lagu yang dari tadi pak ajukan untuk latihan paduan suara,” aku mendekati guru musik mereka
“Ini? Lagu 'O Moaning Lady'. Aneh ya?”
“Nggak juga. Tapi dari tadi nadanya berubah terus. Apa tidak melanggar aturan?”
“Orang penilaiannya berdasarkan pada kreasi aransemen lagunya sebesar 20%. Mau gimana? Tadi kamu yang bikin Ketut keteteran ya?”
“Itupun aku sudah buang waktu dengan iseng-iseng manfaatin partitur bekas yang belakangnya jadi orat-oret. Bagian depannya buat iseng-iseng aja bikin lagu padahal nggak tahu musik,”
“Boleh coba lagunya? Siapa tahu hasilnya lumayan,”
Tahu apa yang terjadi? Anak-anak paduan suara suka sama aransemennya!! Apa-apaan itu? Aku juga nggak percaya. Diakui juga sih sama gurunya kalo itu adalah aransemen yang sangat hebat. Nada tinggi di lagunya keliatan jelas dan kuat sementara nada rendahnya dibuat dalam dan lembut. Pak Tantra ini berani taruhan kalo dia bakalan menangin 'Gold Arrangement'. Kita lihat saja, siapa yang juara. Ini apa SMP 3? Denger-denger sih paduan suara SMP 3 jago juga dengan pelatih dari gereja. Penasaran aku, emang bisa orang gereja ngajar nyanyi orang non-kristen? Bukannya aku SARA, oke.
Hasilnya adalah perak kekompakan, perunggu koreo, emas harmonisasi, emas tenor, perak bass, perunggu sopran, perak alto, emas aransemen, perak dirigen, perunggu accompanist dan emas komperhensif. Performa paduan suara SMP 2 diakui luar biasa oleh 3 dari 7 juri yang terlibat. Pas wawancara dengan media, Pak Tantra mengakui kalau rahasia aransemennya terletak pada seorang matematikawan yang sedang menjalani pelatihan saat paduan suara latihan jelang kontes. Ketika diberitahu kalau peraih medali emas akan dilibatkan dalam tim Bali ke pusat, aku langsung semaput setelah Foursma Games (kompetisinya samaan).
End of flashback
/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\
Jam 4.50, aku sadar kalo jam enam kurang sedikit udah wajib di Renon dan Kuta - Renon dengan 4 orang di motorku akan sama dengan 55 menit belum termasuk refueling kalau-kalau sisa bahan bakar sebelum Renon udah lewat merah alias super kritis. Nggak ada waktu buat balik ke kos. Untungnya aku udah bawa baju ganti (Polo shirt hitam berlogo ADTF) dalam tas laptopku. Tinggal ganti baju lalu SMS mereka biar ganti baju (kalo bawa). Setelah aku turun ke parkiran motor, aku nongkrong di atas JABO dalam badan terbungkus jaket. Shoko duluan turun, tampangnya kurang sehat. Taruhan, tadi dia habis dikerjai sama bule keparat itu,
“Sayang, tadi aku dikerjai Herr Heissen. Dibilang aku pacaran sama tentara di depan temen-temen sekelas. Padahal dia nyomblangin aku sama Rudolf,” dia nangis di pelukanku “Buset dah, Heissen quontol. Elu ngegep dia gini sama gue, gue pastiin itu adalah hal terakhir yang elu lakuin karena ada Drago di sini,
“Sudahlah. Aku tadi dijahili sama si Heissen itu saat iseng-iseng loiter ke kelasmu. Kau udah ganti baju?”
“Tadi pagi papa SMS buat ntar malam ke Restoran Renon jam enam,” dia ngomong itu artinya udah, ”Koq kementulan?? Apa Pak Gun cenayang?
“Oh? Kalo gitu, oke. Aku juga disuruh menemui orang di Renon. Entah apa tujuannya, yang jelas aku harus di sana sebelum jam enam,” berikutnya Kahoko datang dan ngomong, “Kamu apakan adikku?” dan itu memberiku pukulan setara bom Hiroshima “Tewas aku. Kakaknya ada di belakang tengkuk. Mana sekelas lagi,
“Kaho-nee! Gurunya keterlaluan. Aku dituduh nyeleweng,”
“Ngapain kamu nggak tindak dia seperti kamu biasa ke anak-anak?”
“Dengar, jing! Aku gak mungkin open fire saat itu. Tidak ada konfirmasi dari tower. Setor nyawa aku ngabisin dia tanpa ijin dan si Heissen datang,” aku memberikan pukulan telak ke mekanisme pembelaannya Kaho
Yoo, militant physicist! Heading home with your girl, playboy?
Not yet. I must wait for my twin nieces,” aku menjawab dengan tangan masuk tas
Oh, I see. See ya!” dia loncat ke Mercedes DK 2XX CΔ dan aku mencatat pelatnya. Siapa tahu dapat kesempatan nyembur kalo palu jangkrik, “Say your prayer once I spot you,
“Itu guru klarinetnya?”
“Persis!” aku melihatnya sambil mengaduk palka sayap buat ngambil Drago
“Tembak aja dia, kenapa?”
“Gila lu, tot! Aku open fire, malamnya aku diringkus sama polisi,” ketika aku mau mengokang senjataku, Yuni dan Yuno langsung loncat
“Asuk, bisa anterin ke Restoran Renon nggak?”
“Kebetulan aku disuruh kesana juga. Ayo berangkat,”
/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\
Akupun segera menyalakan JABO dan setelah mereka aman di motorku, aku mulai menambah kecepatan ke arah kota. Perjalanan dari Kuta ke pusat Kota Denpasar normalnya sekitar 45 menit. Tapi, berhubung kawasan ini lagi bersih dari macet, 30 menit pun bisa dalam M 1.8-2.0 alias supercruise. Olala, aku merasa tidak enak dengan razia sore ini. Tiba-tiba, saat airspeed sudah M 1.3 si polisi langsung mengarahkanku ke pinggir,
“Selamat sore, mas. Boleh lihat SIM dan STNK?”
“Lisensi dan registrasi, barang biasa. Sebentar, mana dompetku?” aku mengaduk-aduk tasku untuk mencari dompetku
“Itu di saku belakangmu?” Shoko menyadari sesuatu di pantatku
“He?” aku merogoh saku pantatku dan menemukan barang kulit sintetis di dalamnya. Ini barang yang aku cari. Di dompetku aku biasanya menaruh lisensi mengemudi C dan registrasi atas nama nyokap (FYI, aku mendapat JABO saat tahun senior di SMP sebagai hadiah juara OSP Junior)
“Oke. Tahu kesalahannya, mas?”
“Ya, aku membawa muatan melebihi ketentuan untuk lisensi C. Semestinya ini buat berdua dan tidak boleh membawa kereta samping,”
“Bukan. Motormu bersenjata. Bisa lihat ijinnya?,” dia menunjuk ke bagian depan motorku
“Ini kartu anggota ADTF tim 2,” aku memperlihatkan kartu berlogo anti-alay
“Waduh, ADTF divisi pemburu berpangkat kapten. Kita teman, mas. Jangan tembak. Terimakasih atas kerjasamanya dan hati-hatilah di jalan,”
“Sama-sama!” aku melambai menjauh
Sisa perjalanan diteruskan tanpa rintangan berarti kecuali rombongan geng motor parade itu disebut rintangan yang sebenarnya bisa aku rontokkan dengan serentetan panjang dari .30 sama .50 dari JABO. Ya, mereka aku rontokkan sekaligus dalam satu serangan head-on dari jarak 300 meter di jalan raya. Mereka nggak bakalan berani retaliasi karena di sespan ada turet battery twin .22 yang siap menembak ketika aku menekan tombol kecil di pangkal tuas rem. Untuk menambah kekuatan, di ekor aku memasang empat .16 bikinan skadron dan masing-masing satu .30 di bawah lampu sein. Apa-apaan ini? Mereka gila dengan memburu ekorku dan aku membalas dengan menyemprotkan 2 dual .22, dua .30 sama quad .16 yang cukup untuk membersihkan jalurku dari geng motor XTC cabang Denpasar.
Mereka menyerang en masse sebagai retaliasi, head-on. Son of a bitch! Aku segera menghamburkan ratusan butir battery MG .30 sama .50 dan kanon 20mm. Beberapa ledakan dari amunisi kanon tepat menghantam mesin musuh dan mereka hancur berantakan. Sambung dengan jurus wiper (jurus untuk menyapu area yang besar dengan manuver zigzag).
“Kenapa?”
“Ada lusinan alay! Angkat tabir di depan sespan kalian! Eat this, motherfucker!”
“Masih ada?”
“Aku mencoba kabur! Pegangan!!” aku segera meremas tenaga ke 80%.
Jumlah musuh yang besar tidak ada artinya jika dibandingkan dengan jumlah munisi yang aku semburkan. Mereka pada tewas karena serangan besar-besaran dari pilot kawakan ADTF. Itu akibat kalau berani macam-macam lawan ace of aces di ADTF, alay anjing!
Nyampe di Renon jam 5.57 jamku (kira-kira jam di Klungkung jam 5.53) dan aku melihat Terios DK 14&X M$ datang bersama Rush DK 8XX CX. Aku juga menemui mobil APV DK 5$X Q$ berisi Pak Gun sama istrinya. Ono opo iki? Tanpa tedeng aling-aling aku juga menemui fighternya Andi 'Sule', Dwik 'Buaya', Angga 'Macaque', Pasek 'Kupit', Udik 'Julir', Agus 'Bos', Karmana 'Beton', sama Ganes 'Brian' konvoi ke sini.
“Tumben! Pada ngapain? Siapa ulangtahun?” aku nyamperin skadron
“XTC terbantai dan Vario 29X# M% kau terlihat menjadi algojo. Kau MVF dalam pemberantasan geng tawuran sekota. Barusan dikirim duapuluh juta ke kas kita,” Macaque jelasin semuanya
“Sini, An,” nyokap memanggil
“Kenapa? Itu skadron mau pesta, baru nyapu preman atau alay sekota,”
“Tante, dia adalah algojo yang sekarang kita rayain sebagai raja pemberantas alay,” Buaya setengah teriak
“Lho, si Andika ini jagoan motor?” Ko Agus kaget
“Si Andika 'Psycho' ini hanya membantai jika dia berani menjamin itu alay atau geng motor. Kalo dia pasti nangkap musuh yang tepat, keluar skill tiga : extreme maneuver and long deflection burst,”
“Psycho? Apa dia kalo berburu selalu disiksa musuhnya?” Mokun (adik aku) nyeletuk
“Malah dia disinyalir kena sindrom XYY 'Jacob' dari sel sperma bapaknya,” seseorang dibelakang ngomong XYY berarti dia anak kelasku, jelas bukan Kaho karena yang ngomong ini cowok. Kalo bukan Beton atau Macaque lalu siapa?? Aku berbalik dan melihat dua sejoli dan teriak, “What the hell!?” ngeliat Dharma sama pacarnya kesini sama keluarga mereka (Siladharma sekeluarga sama Budi Sotya sekeluarga). Taruhan, mereka udah direstui. Tapi nikah beda agama? Hanya masuk dengkul kalo di luar negeri. Dengar-dengar sih mereka pernah blow job (fellatio!), aku aja belum seberapa mainnya.
Setelah semua ngumpul, kami masuk ke D'Cost. Aku masuk dengan menggandeng Shoko (prikitiu) dan itu mengundang tanya dari Ko Agus, “Kamu udah jadian sama cewek itu?”
“Bah! Ini alasan dia jarang pulang. Punya kabak di sini. Dia kan cewek yang di bawah itu?,” bokap nyerocos “Kuharap dia sadar sama nadi pelipisku yang dah duluan berdenyut keras,
“Oom, aku ada barang buktinya,” Dharma mengangkat foto 3R yang kayaknya dia ambil waktu aku makan bareng dia di warung samping HR
“Barang kriminal kudu dibagi biar dosa nggak ditanggung sendiri,” bokap ngajak berantem
“Besok urusannya runyam di kelas, tod,” aku mengokang MP-7 dengan kaki
“Sudah, sudah. Mari kita kembali ke jalan yang benar.” Pak Gun menyampaikan pengumuman unik
Pesta dilanjutkan. Sho-chan membuka jaketnya dan dia memakai blus kasual tanpa langan berwarna pink muda di balik jaketnya. Anjirr!! Di balik polosnya, ternyata dia menyimpan sedikit sisi nakal. Skuadku menatapnya tanpa berkedip. Cocok sih, blus tanpa lengan itu memperlihatkan tubuh mungilnya yang sebenarnya seksi. Terguncyang aku, bhangshadd!!
Nothing more or less kalau pesta ultah ala peranakan tionghoa. Aku hanya makan sedikit, soalnya badanku sudah koplak gara-gara misi jarak jauh tadi.
Setelah acara pesta selesai, Ko Agus mendapat ucapan selamat ala ADTF (di stater)
“Eda baang leb!” Macaque teriak
“Ingetang batisne! Batis!” Andy memerintah seseorang untuk mengamankan kakinya
“Cang bakat batisne!” Dwik sudah menguncinya
“Jani, Sek!! Anggo batis ci!!”
“Heaa!!“
“Waow!! Sadis banget. Siapa penggagasnya?” Ce Lina bertanya
“Semua adalah pencetusnya. Ini cara kita mengucapkan selamat ultah,” aku jawab ngasal
"Sebenarnya ada yang lebih sadis lagi. Diikat di pohon lalu disiram air comberan." peduli amat siapa yang ngomong di belakangku
Setelah skadronku selesai nge-Bird Day, aku menemui ortu yang memberiku plunder dalam satu kresek besar. Sepintas lalu, isinya sih roti. Yang lainnya itu urusan nanti.
“Wei, eda baang Kupit leb!!” giliranku yang balas dendam,
“Bakat ci jani,” Buaya meringkusnya, “Enggal, cuk! Limane bakatang!”
“Pasrah gen ci!” Sule menguncinya
“Jani cang algojone!” aku segera mengeksekusi barangnya dengan kaki kiriku, “Pakpak ne!!”
Akhir misi : aku balik ke kos dengan plunder yang aku simpan di ruang kargo B (boks cantelan di ekor JABO). Plunder dari Ko Agus sudah dilebur ke plunder dari ortu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Tweets by @RealCruiser